LANGIT7.ID, Jakarta - Komunitas Muslim Uighur yang tinggal Kanada membuka masjid baru di pinggiran Toronto.
Masjid tersebut resmi dibuka di bekas bangunan Gereja Katolik Roma berusia 150 tahun yang telah direnovasi.
Peresmian dilakukan dengan pembacaan Alquran dan pengibaran bulan sabit biru dan putih, serta bendera bintang Turkestan Timur. Bangunan ini disebut mampu menampung hingga 2.000 jamaah.
Asosiasi Turkestan Timur Kanada, yang mengusung nama pilihan orang Uighur untuk menyebut Daerah Otonomi Uighur Xinjiang (XUAR) di China barat laut, menyusun gagasan Pusat Uighur Kanada pada 2008.
Tiga belas tahun berselang mereka membeli gedung gereja itu seharga 482 ribu dolar AS dengan sumbangan dari Jerman dan Australia.
"Bagi Uighur di Kanada, pencapaian ini adalah hasil yang tak bisa diperoleh selain dengan persatuan dan solidaritas” kata Presiden Komunitas tersebut Tuyghun Abduweli, dilansir
Radio Free Asia, Kamis (30/9/2021).
Persatuan komunitaslah, ujarnya, yang akhirnya membuat mereka mampu membeli sebuah gereja dan mengubahnya menjadi sebuah masjid.
Bangunan tak hanya menjadi tempat ibadah, melainkan akan digunakan pula untuk berbagi tentang budaya, sejarah dan agama.
Upacara pembukaan ini menghadirkan anggota komunitas Uighur di Kanada, seorang anggota parlemen Kanada, serta diplomat dan pejabat.
Pemimpin dari dua kelompok besar pengasingan Uighur, yaitu Presiden Kongres Uighur Dunia yang berbasis di Jerman Dolkun Isa dan Direktur Eksekutif Kampanye Uighur di AS Rushan Abbas pun hadir dalam kegiatan ini.
Asosiasi Turkestan Timur Kanada juga mengundang pendeta Katolik dan mantan jemaat gereja untuk meningkatkan kesadaran akan penderitaan orang-orang Uighur di XUAR. Pendeta terakhir gereja itu, Robin Wilkie, menyebut jemaat Katolik semakin tua, sementara pengurus gereja tidak mampu lagi mempertahankan gedung itu.
"Dengan menyebarnya Covid-19, pengurus memutuskan sudah waktunya menjual gereja. Saat itulah komunitas Uighur membeli bangunan itu. Jadi kami menyerahkan tongkat estafet kepada mereka untuk menjalankan imannya," katanya.
Direktur Eksekutif Proyek Advokasi Hak Uighur di Kanada Mehmet Tohti mengatakan saat ini sekitar 2.000 orang Uighur, 600 hingga 700 keluarga, tinggal di negara Kanada yang berpenduduk 38 juta orang.
Xinjiang diketahui berada di bawah kekuasaan kekaisaran China selama Dinasti Qing pada abad ke-18. Sebuah negara bagian Turkestan Timur dideklarasikan pada 1949, tetapi secara paksa dianeksasi oleh Pemerintahan China baru pada tahun yang sama.
(arp)