LANGIT7.ID - , Jakarta - Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengutarakan kekecewaannya akan aturan taliban yang mengatur pendidikan untuk anak-anak perempuan di Afghanistan. Menurut Sheikh Mohammed langkah tersebut adalah bentuk kemunduran bagi peradaban Islam.
Dikutip dari laman Aljazirah, Jumat (1/10/2021), Sheikh Mohammaed mengutarakan kekecewaannya tersebut dalam konferensi pers bersama Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borell di Doha.
"Tindakan baru-baru ini yang sayangnya kita lihat di Afghanistan, sangat mengecewakan melihat beberapa langkah mundur," katanya.
Sudah hampir dua pekan sejak anak perempuan dilarang pergi ke sekolah menengah. Demonstrasi terisolasi yang dipimpin oleh perempuan telah pecah di seluruh Afghanistan dalam beberapa hari terakhir.
"Kami perlu terus melibatkan dan mendesak mereka untuk tidak mengambil tindakan seperti itu. Kami juga telah mencoba menunjukkan kepada Taliban bagaimana negara-negara Muslim dapat menjalankan hukum mereka, bagaimana mereka dapat menangani masalah-masalah perempuan," kata Sheikh Mohammed.
Baca juga : Didanai Qatar, Gaza Rekonstruksi Rumah-Rumah Hancur Mulai OktoberDia juga memperingatkan komunitas internasional dan negara-negara sahabat untuk tidak mengisolasi Afghanistan.
Seperti diketahui Doha telah menjadi perantara utama di Afghanistan setelah penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) bulan lalu. Selain itu juga turut membantu mengevakuasi ribuan orang asing dan Afghanistan yang melibatkan penguasa baru Taliban serta mendukung operasi di bandara Kabul.
"Salah satu contohnya, Qatar yang merupakan negara Muslim. Sistem kami adalah sistem Islam [tetapi] kami memiliki jumlah perempuan melebihi laki-laki dalam angkatan kerja, pemerintahan, dan pendidikan tinggi," terangnya.
Taliban dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia dalam beberapa pekan terakhir, termasuk secara terbuka mengikat mayat empat orang yang diduga penculik pada crane di Herat pekan lalu. Menampilkan tersangka penculikan yang tewas adalah hukuman publik paling kontroversial sejak Taliban berkuasa belum lama ini.
Langkah ini dilihat sebagai tanda Taliban bakal kembali mengadopsi langkah-langkah menakutkan yang serupa dengan aturan mereka periode 1996-2001. Taliban mengikuti interpretasi hukum Islam sangat ketat yang memisahkan laki-laki dan perempuan dan juga memangkas akses perempuan untuk bekerja.
Sementara, Borrell menggemakan diplomat top Qatar itu. Dia menyebut beberapa hal yang telah terjadi di Afghanistan baru-baru ini cukup mengecewakan.
Baca juga : Aturan Baru, Taliban Larang Perempuan Kuliah"Mari berharap kita dapat mengatur untuk mengorientasikan kembali Pemerintah Afghanistan," katanya. Dia juga berharap, Qatar dapat menggunakan pengaruh kuatnya pada Taliban untuk mendorong kelompok itu meningkatkan perlakuannya terhadap warga sipil.
(est)