LANGIT7.ID - , Jakarta - Setelah melarang perempuan untuk bekerja, Taliban kini melarang perempuan untuk kuliah di universitas.
Pemerintah Afghanistan, melalui rektor Universitas Kabul, memerintahkan mahasiswi untuk tidak kembali ke universitas. Larangan ini berlaku hingga lingkungan Islami yang sesuai tersedia.
Dilansir dari Indiatoday.in Rabu (29/9/2021), belum lama ini Taliban memecat rektor Universitas Kabul Muhammad Osman Baburi, dan menunjuk Mohammad Ashraf Ghairat. Pemecatan ini mengundang kritik tajam dari semua kalangan.
Setelah menjabat, Ghairat pun memberikan larangan perempuan untuk tidak masuk ke Universitas Kabul.
Baca Juga : Dilarang Berkantor Lagi, Para Wanita Bekerja di Afghanistan Geram“Kami akan memiliki kelas terpisah untuk pria dan wanita dan fokus utama kami adalah menyediakan lingkungan Islami untuk semua, terutama wanita,"ujar Ghairat.
Taliban telah menyatakan bahwa perempuan Afghanistan akan diizinkan untuk bekerja dan belajar dalam batas-batas hukum Syariah, yang dicatat sebagai pergeseran dari kebijakan rezim Taliban sebelumnya.
Namun, gerakan Taliban untuk membatasi pendidikan perempuan dan hak untuk mencari nafkah telah melukiskan gambaran yang berbeda. Sejak Taliban menguasai Kabul pada 15 Agustus, perempuan pertama kali diminta untuk tidak kembali ke tempat kerja mereka di lembaga pendidikan.
Kemudian, tirai dan sekat dipasang di ruang kelas untuk memisahkan laki-laki dan perempuan, sementara guru perempuan juga diminta untuk tidak mengajar siswa laki-laki. Namun perubahan kembali terjadi, Ghairat membuat pernyataan baru.
“Selama lingkungan Islam yang nyata tidak disediakan untuk semua, wanita tidak akan diizinkan untuk datang ke universitas atau bekerja.”
Baca Juga : Dibayangi Ketakutan, Sejumlah Wanita Afghanistan Tetap BekerjaDalam cuitannya, Ghairat mengatakan tujua Universitas Kabul adalah menjadi pusat bagi semua muslim di dunia untuk berkumpul, meneliti, memperlajari dan mengislamkan sains modern.
"Saya di sini untuk mengumumkan bahwa kami akan menyambut cendekiawan dan mahasiswa pro-muslim untuk mendapatkan manfaat dari lingkungan Islam yang nyata di universitas Kabul,"ujar dia.
Ghairat juga menganggap pendidikan sebagai aspek penting dalam pembangunan Afghanistan, tetapi bagi kami, studi agama adalah yang pertama, dan sains modern adalah yang kedua. Fokus utama kami adalah pada Islamisasi negara dan institusi akademik kami.
(est)