LANGIT7.ID-London; Pemain peringkat satu dunia Aryna Sabalenka lolos ke semifinal Wimbledon setelah melewati pertarungan sengit melawan Laura Siegemund dengan skor 4-6, 6-2, 6-4 dalam 2 jam 54 menit — menjadikannya pertandingan terpanjang ketiga di turnamen tahun ini. Sabalenka kini melangkah ke semifinal Grand Slam ke-12 dalam kariernya, dan yang ketiga di Wimbledon.
Dengan kemenangan ini, Sabalenka juga menjadi pemain pertama yang mengamankan tiket ke WTA Finals Riyadh 2025.
Ini adalah semifinal ke-10 dalam 11 penampilan terakhirnya di turnamen besar, sejak US Open 2022. Satu-satunya pengecualian adalah saat ia tersingkir di perempat final Roland Garros 2024 oleh Mirra Andreeva. Sabalenka juga memimpin daftar pemain dengan semifinal terbanyak di 2025 (sembilan), mengungguli Iga Świątek yang berada di posisi kedua dengan enam semifinal.
Setelah menjadi runner-up di Australian Open dan Roland Garros musim ini, Sabalenka berpeluang mencapai final Grand Slam ketiga tahun ini jika mengalahkan unggulan ke-13 Amanda Anisimova di semifinal. Anisimova baru saja mengalahkan Anastasia Pavlyuchenkova di perempat final. Jika Sabalenka berhasil, ia akan menjadi pemain pertama sejak Serena Williams (2016) yang mencapai tiga final major dalam satu musim.
Namun, Sabalenka harus membalikkan catatan head-to-head melawan Anisimova, yang unggul 5-3. Meski begitu, Sabalenka memenangkan pertemuan terakhir mereka di babak 16 besar Roland Garros tahun ini.
![Nyaris Kalah, Sabalenka Lolos Semifinal Wimbledon, Anisimova Siap Buktikan Siapa Yang Terbaik]()
Sabalenka Berterima Kasih pada Siegemund: "Aku Hampir Menyerah"Dalam wawancara di lapangan, Sabalenka mengaku sempat berpikir turnamennya akan berakhir.
"Dia mendorongku sampai ke batas," ujarnya. "Jujur, setelah set pertama, aku melihat ke kotak timku dan berpikir, 'Teman-teman, pesan tiket, kita mungkin akan segera meninggalkan kota indah ini.' Dia bermain luar biasa."
Siegemund sebelumnya menyebut gaya bermainnya "menjengkelkan", tapi Sabalenka membantah.
"Itu bukan permainan menjengkelkan, tapi permainan cerdas. Dia memaksa semua lawannya bekerja keras. Tidak peduli seberapa kuat servis atau pukulanmu, kamu harus berlari, harus berjuang untuk menang. Aku berusaha tidak menunjukkan frustrasi—meski kadang aku kesal—karena aku tidak ingin memberinya energi itu."
Gaya Klasik Siegemund Hampir Sukses, Tapi Sabalenka Unggul di AkhirMeski berusaha menyembunyikan frustrasi, Sabalenka beberapa kali menunjukkan emosinya. Ia memukul raket ke kepalanya setelah gagal mengembalikan slice, berteriak setelah backhand-nya masuk net, dan hanya bisa terdiam dengan tangan di pinggang setelah dikelabui servis lambat Siegemund yang penuh spin.
Strategi Siegemund jelas: mengacak-acak ritme Sabalenka. Ia memakai taktik chip-and-charge ala tahun 90-an, drop shot halus, dan variasi pukulan yang membuat Sabalenka kesulitan. Pada usia 37 tahun, Siegemund hampir menjadi pemain tertua pertama yang lolos ke semifinal Grand Slam perdana di Era Terbuka—rekor yang masih dipegang Tatjana Maria (34 tahun, Wimbledon 2022).
Tapi Sabalenka membalas dengan mental juara. Dari 3-1 tertinggal di set ketiga, ia memenangkan lima dari enam game berikutnya. Game penentu adalah saat ia memecah servis Siegemund di 4-4 setelah duel tiga deuce. Di game terakhir set kedua, Sabalenka menunjukkan kecepatannya dengan mengejar drop shot dan lob sebelum menutupnya dengan forehand winner.
Sementara Siegemund, yang bermain cerdas di awal, gugup di momen krusial. Di 3-2 set ketiga, dua double fault memberinya break balik. Di 4-3, ia mengakhiri game panjang dengan dua kesalahan forehand slice.
Sabalenka kini satu langkah lagi dari final, tetapi tantangan terberat mungkin baru datang: Amanda Anisimova, yang punya catatan menang atasnya. Bisik Sabalenka menyamai pencapaian Serena? Atau akankah Anisimova merusak mimpinya?(*/saf/wtatennis)
(lam)