Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 03 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Islam Ala Prabowo: Pandangan Dua Tokoh NU-Muhammadiyah (1)

sururi al faruq Senin, 14 Juli 2025 - 16:20 WIB
Islam Ala Prabowo: Pandangan Dua Tokoh NU-Muhammadiyah (1)
LANGIT7.ID - Buku baru berjudul Islam Ala Prabowo (Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam) yang ditulis sejumlah tokoh termasuk para menteri serta pejabat di pemerintahannya, memberikan perspektif baru bagaimana Prabowo ber-Islam. Buku ini menjadi relevan karena hadir setelah Prabowo menjadi Presiden Indonesia, dimana publik yang masih merasa penasaran atas sejauh mana ke-Islaman Presiden, akan banyak mendapat perspektif baru dari buku ini.

Ada sejumlah tokoh dan pejabat penting yang menerjemahkan ke-Islaman Prabowo dalam buku ini, namun Langit7.id, memilih dua tulisan yang mewakili dari tokoh NU dan Muhammadiyah. Dua tokoh ini, yakni Prof Dr KH Said Aqil Siraj dan Prof Dr Abdul Mu'ti merepresentasikan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia sehingga sangat relevan dan otoritatif ketika memberikan perspektif ke-Islaman Prabowo.

Kali ini, Langit7.id menurunkan tulisan pertama dari Prof Dr KH Said Aqil Siraj yang cukup menarik untuk disimak. Menurut Kiai Said, "Prabowo Subianto tidak perlu mengklaim sebagai pemimpin dengan identitas Islamis, dan cukup menjadi pemimpin yang nasionalis karena sudah mencerminkan nilai-nilai Islam."

Kiai Said mengenal sosok Presiden Prabowo sebagai tokoh militer yang berjiwa nasionalis, yang memiliki sifat tabah dan mental yang kuat. Sifat ini ditunjukkan tatkala Prabowo tidak memberontak ketika menghadapi Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada 1998, dan justru menerima keputusan hukum tersebut dengan lapang dada.

Usai menghadapi keputusan Mahmilub, Prabowo mendatangi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Kiai Said turut mendampingi pertemuan kedua tokoh penting ini. Kiai Said menjadi saksi saat cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari mengatakan bahwa Prabowo akan menjadi presiden di masa tuanya. Gus Dur, kata Kiai Said, juga pernah menyatakan bahwa Prabowo merupakan figur yang paling ikhlas.

Pandangan Gus Dur terhadap Prabowo, menurut Kiai Said sangat tepat untuk menangkis isu miring tentang sepak terjang mantan Danjen Kopassus itu selama ini. Kiai Said yang juga menjadi wakil tim pencari fakta kasus kerusuhan 1998, dimana Ketua Tim adalah Marzuki Darusman, beranggotakan Hakim Garuda Nusantara, dan Bambang Wijoyanto mendapatkan kesimpulan bahwa Prabowo bukan dalang kerusuhan. Kiai Said juga menegaskan bahwa Prabowo sama sekali tidak ikut campur dalam kerusuhan 1998. Justru sebaliknya, Prabowo dijadikan tumbal oleh sejumlah jenderal dan akan disingkirkan dari posisinya sebagai Pangkostrad saat itu.

Hubungan Prabowo dengan Gus Dur memberikan bukti betapa dekatnya putra begawan ekonomi Prof Soemitro Djojohadikoesoemo itu dengan para ulama dan kalangan pesantren. Meski tidak memiliki atribut santri atau pun sebagai alumni pesantren, namun Prabowo memiliki kedekatan dengan para ulama dan banyak membantu kalangan pesantren.

Bukti kedekatan dengan para ulama, kata Kiai Said, Prabowo selalu mendatangi ulama dan kiai untuk meminta doa agar selamat dalam mengemban tugas berat militer di medan perang. Kebiasaan yang dilakukan Prabowo merupakan bagian dari khazanah umat Islam di Indonesia yang terus dilestarikan hingga saat ini. Hal inilah yang kemudian dapat disebut sebagai salah satu nilai yang dilestarikan dalam konsep Islam Nusantara.

Islam Ala Prabowo: Pandangan Dua Tokoh NU-Muhammadiyah (1)

Islam Nusantara dibangun di atas pondasi budaya sebagai asasnya, di mana adat istiadat yang tidak melanggar syariat Islam dilanggengkan dan dilestarikan.

Kajian terkait Islam Nusantara merupakan kajian pada tata nilai Islam yang berada di kawasan Nusantara yang telah tumbuh dan berkembang selama berabad-abad lamanya.

Peradaban Islam Nusantara ini dibangun oleh para ulama dan aulia dari Samudra Pasai, Malaka, Palembang, Banten, Jawa, Pontianak, Bugis, Ternate dan Tidore baik di kepulauan Maluku atau Papua.

Islam yang datang ke Nusantara adalah Islam yang sudah paripurna karena telah melalui proses dialog intensif dengan berbagai peradaban besar seperti Persia, Turki, India, Cina, Siam dan sebagainya yang otentitas nilai dan keilmuannya masih terjaga.

Berbeda dengan Islam Arab yang lebih cenderung fanatisme primordialisme yang berbeda jauh dari nilai-nilai Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Kata Arab dalam bahasa Arab sendiri berasal dari kata araba yang berarti bulat, labil statis, mudah berubah dan tidak pernah bersatu. Hanya Nabi Muhammad yang berhasil menyatukan suku-suku bangsa Arab. Kemudian Bani Umayah yang di masa jahiliyah menguasai pasar-pasar tradisional di seluruh semenanjung Arab, membangkitkan lagi fanatisme primordialisme. Tentu nilai-nilai yang sudah mengakar kuat di Arab tidak cocok diterapkan di Indonesia yang sudah dikenal akan keberagamannya, ketika keberagaman tidak diberi ruang yang terjadi hanyalah konflik tiada henti.

Nahdatul Ulama dengan ciri khasnya mempunyai sekolah-sekolah untuk meneruskan pendidikan santri. Sebab santri-santri yang sudah keluar dari pesantren mempunyai kekurangan berfikir secara universal dalam memahami visi Indonesia. Mereka keluar dari pesantren tentu banyak memiliki ilmu, seperti hafal Al-Qur’an. Tapi begitu keluar untuk apa itu semua? Apa yang harus mereka bangun? Bagaimana mereka bisa berdiri di tengah globalisasi seperti saat ini. Indonesia mempunyai tantangan-tantangan kiri dan kanan. Sebelah kiri ada liberal, sekuler dan paham bebas dari agama dan nilai. Sementara yang sebelah kanan ada paham ekstrimis. Yang paling nyata Islam di Indonesia seolah-olah digambarkan dengan kaum Wahabi. Dulu Wahabi hanya ada di Arab Saudi, saat ini ada di Indonesia. Dalam posisi ini, sikap NU jelas yaitu mendukung keberadaan NKRI dan tidak antipati bahkan melestarikan budaya-budaya bernapaskan Islam.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan bentuk final dan patut kita jaga bersama, karena keberkahannya hingga sekarang negara kita masih terjaga dengan baik. Kalau masyarakat yang anti-NKRI semakin kuat dan banyak, mereka akan merasa punya kekuatan melawan pemerintah. Maka akhirnya terjadi perang saudara seperti di Yaman dan Sudan. Sikap bercerai-berai antar anak bangsa yang pernah terjadi pada masa penjajahan Belanda dengan jargonnya yang terkenal devide et impera. Ini sudah cukup menjadi pengalaman masa lalu, harga persatuan Indonesia lebih dari apa pun.

Keilmuan ulama Nusantara tidak perlu diragukan bahkan diakui bangsa Arab. Para ulama di dunia Arab tidak ada yang mengenal istilah hubbul wathan minal iman. Ini juga yang membedakan kita dengan umat Islam di Timur Tengah. Puncak Islam Nusantara adalah hubbul wathan minal iman, fatwa yang disampaikan oleh KH Hasyim Asy'ari ketika mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Islam harus menyatu dengan nasionalisme, nasionalisme harus diberi spirit dengan Islam. Dalam konsep tersebut, menggambarkan umat Islam Indonesia yang menyatu dengan budaya hasil kreasi masyarakat tidak bertentangan dengan syariat. (bersambung)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 03 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)