LANGIT7.ID-Cincinnati; Petenis no 1 dunia, Jannik Sinner menghentikan langkah impian petenis peringkat 136 dunia Terence Atmane yang terkenal sangat ulet dan fighter pada Sabtu di Cincinnati Open, meski sempat menghadapi ujian ketat di set pertama dari petenis kidal asal Prancis itu.
Kemenangan ini tidak berarti bikin Sinner langsung pesta. Nanti dulu. Sebab, Sinner ditunggu duel oleh rivalitasnya terkuat Carlos Alcaraz di final yang sudah pasti bakal seru. Carlos menantang Sinner setelah di semifinal sukses menumbangkan petenis peringkat 3 dunia, Alexander Zverev 6-4, 6-3.( baca persaingan Sinner vs Alcaraz di bagian bawah).
Kemenangan Sinner di semifinal menjadi hadiah ulang tahunnya ke-24. Sang juara bertahan, Sinner menampilkan permainan solid untuk menang 7-6(4), 6-2 dan melangkah ke final ATP Masters 1000 kedelapannya. Dalam kemenangan 86 menit tanpa menghadapi satu pun break point, petenis nomor satu PIF ATP Rankings ini meraih kemenangan ke-200 di level tur pada lapangan keras sekaligus memperpanjang rekor kemenangan beruntun di permukaan tersebut menjadi 26 laga.
Menuju final level tur ke-28, Sinner kini menantang rival sengit Carlos Alcaraz. Pemain Italia ini masih tertinggal dari Alcaraz di PIF ATP Live Race To Turin, dengan keduanya bersaing ketat memperebutkan gelar ATP Year-End No. 1 yang disponsori PIF. Sinner akan berusaha mempertahankan gelar Cincinnati-nya dan mengejar selisih lebih dari 1.000 poin yang dimiliki Alcaraz.
Kini sebagai finalis Cincinnati untuk kedua kalinya dan favorit penonton di Ohio, Sinner diserukan lagu 'Happy Birthday' oleh penonton usai pertandingan.
"Ini tantangan yang sangat, sangat sulit," ujar Sinner. "Setiap kali menghadapi sesuatu yang baru, itu selalu sulit, tapi melawan pemain seperti ini di babak lanjutan turnamen lebih berat lagi. Tekanannya lebih tinggi dan Anda tahu mereka pantas berada di sana... Dia telah mengalahkan banyak pemain hebat sepanjang kemenangannya."
"Saya tahu harus ekstra hati-hati, dan pola pikir saya sudah tepat. Saya merasa menangani situasi di lapangan dengan baik. Servisnya sangat bagus di set pertama. Dia punya potensi yang sangat besar, dan itu sudah terlihat di turnamen ini."
Setelah lolos kualifikasi dan meraih kemenangan beruntun atas petenis Top-10 Taylor Fritz dan Holger Rune menuju semifinal ATP Tour pertamanya, Atmane tampil percaya diri dengan servis memukau di awal pertandingan, termasuk tiga ace beruntun ke Sinner di game ketujuh.
Namun petenis Prancis itu merusak kerja kerasnya sendiri dengan melakukan double fault pertamanya di awal tie-break, yang menjadi penentu di set pertama yang berlangsung ketat.
Meski performa servis Sinner di set pertama patut diacungi jempol (hanya kehilangan 1 dari 21 poin pada servis pertama menurut Infosys ATP Stats), ada tanda-tanda mengkhawatirkan di awal set kedua. Tapi setelah mempertahankan servisnya dalam game pembuka yang panjang (menghasilkan empat Deuce), Sinner segera menghilangkan keraguan dan mulai mendominasi game servis Atmane.
Sebelum memasuki lapangan utama untuk pertemuan pertama Lexus ATP Head2Head mereka, Atmane mencairkan suasana dengan memberi kejutan hadiah kepada Sinner di terowongan. Penggemar permainan kartu Pokemon asal Jepang ini memberikan kartu koleksinya kepada petenis nomor satu dunia sebelum mereka berpelukan dan bertanding.
Meski kalah, Atmane bisa bangga dengan pekan bersejarah di Cincinnati yang melambungkan rankingnya 67 tingkat ke posisi tertinggi baru (peringkat 69) di PIF ATP Live Rankings. Petenis 23 tahun ini selanjutnya akan berkompetisi di babak kualifikasi US Open yang dimulai Senin.
Rivalitas Sengit Alcaraz vs Sinner: Pertarungan Sengit di Lapangan TenisPersaingan Lexus ATP Head2Head antara Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner telah berkembang menjadi salah satu rivalitas paling memikat dalam sejarah tenis modern. Dengan pukulan agresif dan kelincahan luar biasa, keduanya kerap bertemu di ajang-ajang besar.
Puncak rivalitas mereka terjadi di final Roland Garros 2025, di mana Alcaraz bangkit dari ketertinggalan dua set dan menyelamatkan tiga championship point sebelum akhirnya mengalahkan Sinner dan mempertahankan gelarnya. Sebulan kemudian, penggemar kembali disuguhi final Grand Slam keduanya di Wimbledon, kali ini dimenangkan Sinner dalam empat set untuk meraih gelar pertamanya di turnamen bergengsi tersebut.
Kemenangan Sinner di Wimbledon sangat berarti, mengingat sebelumnya Alcaraz telah mengalahkannya lima kali beruntun. Meski begitu, Alcaraz masih memimpin rekor pertemuan mereka 8-5. Berikut kilas balik 13 pertemuan mereka di level tur.
Wimbledon 2025 – Final: Sinner menang 4-6, 6-4, 6-4, 6-4Sinner membalas kekalahan pahitnya di Roland Garros dengan tampil gemilang di Wimbledon. Setelah kehilangan tiga championship point di Paris, ia bangkit dan menghentikan tren kemenangan Alcaraz di rumput. Dengan kemenangan ini, Sinner menjadi petenis Italia pertama (putra/putri) yang menjuarai Wimbledon.
"Ini sangat emosional karena aku mengalami kekalahan berat di Paris," kata Sinner saat upacara piala. "Tapi yang penting, kita harus belajar dari kesalahan dan terus berusaha. Trofi ini bukti kerja keras kami."
Permainan servisnya yang semakin solid menjadi kunci kemenangan. Ia memanfaatkan 4 dari 9 break point, mengakhiri lima kemenangan beruntun Alcaraz atasnya.
"Aku senang untukmu," ujar Alcaraz. "Kita punya hubungan baik di luar lapangan, tapi rivalitas sengit di dalamnya. Ini membuatku terus berkembang."
Roland Garros 2025 – Final: Alcaraz menang 4-6, 6-7(4), 6-4, 7-6(3), 7-6(10-2)Pertemuan pertama mereka di final Grand Slam berlangsung dramatis. Alcaraz, juara bertahan, sempat tertinggal dua set sebelum bangkit dan menyelamatkan tiga championship point di set keempat. Di tie-break penentuan, ia bermain sempurna dan meraih gelar kelimanya.
"Ini pertandingan paling seru yang pernah kumainkan," kata Alcaraz. "Ada momen-momen hebat dan buruk. Aku bangga bisa melewati semuanya."
Internazionali BNL d’Italia 2025 – Final: Alcaraz menang 7-6(5), 6-1Alcaraz kembali menghentikan rekor 26 kemenangan beruntun Sinner di Roma. Meskipun Sinner didukung penonton tuan rumah, Alcaraz tampil lebih konsisten dan memenangi tie-break ketat di set pertama sebelum melibas Sinner di set kedua.
"Aku bangga dengan pendekatan mentalku hari ini," ujar Alcaraz. "Jannik bermain luar biasa untuk pemain yang baru kembali setelah tiga bulan absen."
Kemenangan ini menyamakan jumlah gelar Alcaraz dan Sinner sebagai pemain kelahiran tahun 2000-an terbanyak (19 gelar).
China Open 2024 – Final: Alcaraz menang 6-7(6), 6-4, 7-6(3)Pertandingan terpanjang dalam sejarah Beijing (3 jam 21 menit) ini penuh ketegangan. Sinner sempat unggul 3-0 di tie-break penentuan, tapi Alcaraz membalikkan keadaan dengan tujuh poin beruntun.
"Mengalahkan salah satu petenis terbaik di dunia membuktikan bahwa kerjaku selama ini benar," kata Alcaraz.
Sinner tetap bangga: "Setiap kali kami bertemu, kami saling mendorong hingga batas maksimal."
Roland Garros 2024 – Semifinal: Alcaraz menang 2-6, 6-3, 3-6, 6-4, 6-3Sinner sempat unggul dua set, tetapi kram di tangan mengganggu performanya. Alcaraz bangkit dengan 65 winner dan meraih kemenangan dalam 4 jam 9 menit.
Meski kalah, Sinner dipastikan naik ke No. 1 ATP untuk pertama kalinya.
Persaingan Terus BerlanjutDengan gaya permainan spektakuler dan mental juara, Alcaraz dan Sinner terus memukau dunia tenis. Setiap pertemuan mereka menjanjikan aksi tak terlupakan, mempertegas status mereka sebagai generasi penerus "Big Three".
.(*/saf/atptour)
(lam)