LANGIT7.ID-, Jakarta - - Kursi
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) akhirnya diduduki oleh
Djamari Chaniago. Ia dipilih Presiden
Prabowo Subianto menggantikan
Budi Gunawan. Mengapa Djamari? Padahal sebelumnya santer kabar posisi ini akan diisi oleh Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmayanto.
Pengamat Politik Refly Harun dalam tayangan Youtube, dilihat
Langit7 pada Rabu (17/9/2025) menyebut bahwa Gatot Nurmantyo sebagai sosok yang sangat diperhitungkan dan layak mengisi jabatan Menko Polkam.
"Gatot Nurmantyo itu kandidat yang sangat diperhitungkan," kata Refly. Menurutnya, sosok Menko Polkam harus sosok yang senior. Kalaupun bukan dari militer, harus yang berwibawa. "Atau paling tidak orang yang memiliki wibawa sendiri kendati dia sipil, seperti Mahfud MD dulu. Ada Purnomo Yusgiantoro, dan sebelumnya Juwono Sudarsono,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat politik Universitas Airlangga (Unair), Pribadi Kusman mengatakan bahwa posisi Gatot Nurmantyo juga dinilai strategis karena kedekatannya dengan Presiden Prabowo. "Selama menjabat sebagai Panglima TNI, Gatot berhasil membangun citra positif TNI sebagai institusi yang dicintai masyarakat," kata Pribadi Kusman, dikutip Rabu (17/9/2025).
Namun prediksi tersebut berbeda. Presiden Prabowo memilih Djamari sebagai Menko Polkam.
Baca juga: Reshuffle Kabinet Prabowo: Erick Thohir Jadi Menpora, Djamari Chaniago Pimpin Menko PolkamMenilik latar belakang Djamari, dari berbagai sumber disebutkan bahwa Ia merupakan purnawirawan jenderal yang juga dikenal sebagai politisi Gerindra. Sebelumnya, hubungan antara Djamari Chaniago dan Prabowo Subianto memiliki jejak panjang dalam dunia militer.
Djamari adalah senior Prabowo di Akademi Militer (Akmil). Keduanya merupakan perwira yang pernah bertugas pada waktu yang sama di Korps Baret Hijau Kostrad. Prabowo adalah Komandan Batalyon 328 yang bermarkas di Cilodong, sementara Djamari merupakan Komandan Batalyon 330 yang bermarkas di Nagrek.
Dalam kariernya di TNI, Djamari pernah menjabat Pangkostrad hingga Kepala Staf Umum TNI (Kasum TNI) pada 8 Maret 2000 sampai 16 Maret 2004.
Djamari Chaniago yang pangkat terakhirnya adalah Letjen, diketahui merupakan bagian dari Dewan Kehormatan Perwira (DKP). DKP adalah dewan yang memutuskan Prabowo terbukti melakukan pelanggaran ketika terlibat dalam operasi penculikan sejumlah aktivis pada 1997-1998. Akhirnya, DKP memecat Prabowo dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada 1998.
Jabatan strategis di kemiliteran yang juga pernah diemban pria kelahiran Padang, 8 April 1949 itu adalah Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat pada 23 Mei 1998 hingga 24 November 1999. Setelah itu, Djamari menjabat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat pada 9 November 1999 hingga 1 Maret 2000.
Menanggapi keputusan Presiden tentang penunjukkan Djamari sebagai Menpora, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra menyebut bahwa Djamari sebagai sosok yang berintegritas tinggi.
"Pak Djamari saya kenal, dulu Pangkostrad pada tahun 1999 kalau
nggak salah. Tapi sudah lama tidak bertemu dengan beliau," ujar Yusril di Istana, Jakarta, Rabu (17/9/2025).
"Ya kalau beliau jadi ya bagus, orang yang punya integritas cukup tinggi. Dulu Pangdam Jawa Barat, Pangdam Siliwangi, sebelum jadi Pangkostrad. Tapi setelah itu saya tidak mengikuti lagi karirnya beliau," sambungnya.
Posisi Menko Polkam sempat kosong sejak Presiden mencopot Budi Gunawan, lalu digantikan sementara oleh
Sjafrie Sjamsoeddin.
Hari ini Presiden melantik Menko Polkam dan Menpora yang baru, serta sejumlah pejabat. Hal ini berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 96P Tahun 2025 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri dan Wakil Menteri Negara Tahun 2024-2029 yang dibacakan oleh Deputi Bidang Administrasi Aparatur Kementerian Sekretariat Negara Nanik Purwanti.
(lsi)