LANGIT7.ID–Jakarta; Perbandingan dengan Brasil menjadi sorotan Presiden Prabowo Subianto saat menjelaskan capaian program prioritas pemerintahannya. Menurutnya, Indonesia mampu menjangkau hampir 30 juta penerima manfaat hanya dalam 11 bulan, sementara Brasil membutuhkan 11 tahun untuk menembus angka 40 juta.
“Kita 11 bulan sudah 30 juta,” katanya dengan bangga di hadapan peserta Munas ke-VI PKS, dikutip Selasa (30/9/2025).
Prabowo menyebut pencapaian tersebut tidak terlepas dari keberhasilan pemerintah menutup kebocoran anggaran. Ia mengklaim, sejak awal masa jabatannya, negara telah menghemat sedikitnya Rp300 triliun dari pemberantasan korupsi dan penutupan aliran dana yang tidak tepat sasaran.
“Kita telah menyelamatkan minimal Rp300 triliun. Rp300 triliun inilah yang kita pakai untuk makan bergizi gratis,” ungkapnya.
Program ini kini telah menjangkau puluhan juta anak dan ibu hamil. Meski begitu, Prabowo tidak menutup mata terhadap sejumlah kendala di lapangan. Ia menyinggung adanya kasus keracunan makanan, namun menegaskan jumlahnya sangat kecil. Tingkat kesalahan tercatat hanya 0,0017 persen dari total distribusi.
Lebih jauh, Prabowo menilai inisiatif tersebut tidak hanya bermanfaat dari sisi gizi, tetapi juga dari segi ekonomi. Pada Januari–Februari 2026, program ini ditargetkan membuka 1,5 juta lapangan kerja baru. Selain itu, pemerintah menyiapkan aliran dana besar ke desa-desa. “Di puncaknya tahun depan, kita akan gelontorkan Rp 335 triliun ke desa-desa,” jelasnya.
Dengan konsep velocity of money, ia memperkirakan Rp300 triliun yang digelontorkan bisa menciptakan aktivitas ekonomi di pedesaan senilai Rp600 hingga Rp900 triliun.
Meski capaian awal dinilainya menggembirakan, Prabowo mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang menanti. Dari total target 82 juta penerima manfaat, baru sekitar 30 juta yang sudah terlayani. “Sebagai Presiden, saya masih sangat sedih karena masih 52 juta anak-anak dan ibu hamil yang menunggu,” ujarnya.
(lam)