LANGIT7.ID - Shalawat bukan hanya lantunan pujian kepada Baginda Rasulullah SAW. Shalawat juga merupakan syarat dan adab dalam berdoa. Shalawat merupakan perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, sama halnya dengan dzikir.
Pembacaan shalawat tidak lepas dari peran Nabi Muhammad SAW sebagai penyampai risalah kepada umat manusia. Shalawat juga mempunyai ragam macam nama, salah satunya shalawat Mansub.
Shalawat Mansub ini merupakan karomah Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid yang lahir di Hadramaut, Yaman pada 1895 M. Ia melakukan perjalanan ke Indonesia pada 1921 M dan menetap di Jember, Jawa Timur, lalu menikah dengan perempuan yang berasa dari Lumajang.
Syekh Sholeh memang dikenal seorang ulama yang shaleh, selalu berdzikir kepada Allah SWT, dan masih memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammad SAW, melalui Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.
Baca Juga: Sejarah Shalawat Asyghil: Digubah Saat Keturunan Nabi Muhammad Terdzalimi
Dia datang ke Tanggul Jember untuk menyebarkan Islam, karena dahulu masyarakat setempat tidak begitu memahami Islam. Kehadiran beliau sangat berpengaruh di tempat itu. Sehingga, masyarakat Jember yang semula tak beriman kepada Allah, berangsur-angsur mengucapkan dua kalimat syahadat.
Dalam sebuah kajian di Masjid Riyadhus Sholihin Tanggul-Jember, Habib Hasyim bin Muhammad bin Sholeh Al-Hamid menceritakan kronologis lahirnya shalawat Mansub. Dia mengutip kitab Diwan Habib Sholeh yang berjudul Al-‘Isy Wa shafa yang dirangkum dan dan ditulis oleh keponakan beliau, Habib Muhammad bin Abu Bakar al-Muhsin Al Hamid yang tinggal di Mukallah.
Suatu ketika, saat berada di Jeddah untuk keperluan ibadah haji, Habib Muhammad bin Abu Bakar bertanya kepada Habib Sholeh perihal latar belakang lahirnya shalawat Mansub.
Habib Sholeh menceritakan, suatu ketika datang satu keluarga di kediamannya. Mereka tengah menghadapi kasus besar, salah satu anggota keluarga mereka dituduh membunuh. Hakim sudah mengeluarkan keputusan eksekusi mati.
Cerita itu sangat menyentuh hati Habib Sholeh. Ia lalu mengatakan, “insya Allah, saya doakan. Semua di tangan Allah, kemudian di tangan hakim.” Kata Habib Sholeh dalam kitab tersebut.
Namun keluarga itu tetap merengek-rengek di hadapan Habib Sholeh. Mereka bahkan mendekat ke beliau, ada yang memegang kaki, mencium tangan dan kepala meminta bantuan. Sampai-sampai Habib Sholeh merasa kesal dengan tindakan mereka.
“Saya sampai kesal dengan cara orang-orang ini.” kata Habib Sholeh kepada Habib Muhammad.
Dalam keadaan seperti itu, Habib Sholeh tiba-tiba tidak sadarkan diri sejenak. Saat terbangun keadaan sudah berubah. Keluarga itu tersenyum bahagia dan pamit pulang.
Keluarga Habib Sholeh bilang, “Habib, antum tadi sebelum pulang kasih jaminan.”
“Jaminan apa?,” tanya Habib Sholeh.
Dijawab, “Jaminan sebentar lagi akan beres urusanmu.”
“siapa yang bilang begitu.” Kata Habib Sholeh.
Habib Sholeh merasa tengah ditimpa musibah yang lebih besar daripada tuduhan yang diarahkan kepada keluarga tadi. Dia merasa sedih karena takut berbohong. Ia takut jika kata-kata itu tidak terbukti, maka nama baiknya akan rusak, dan sudah pasti keluarganya akan menanggung akibatnya.
Habib Sholeh tidak bisa makan dan tidur karena kepikiran masalah itu. Hingga pada malam harinya, dia memutuskan untuk ke masjid menunggu shalat subuh. Shalat fajar masih satu-dua jam lagi, sehingga dia memutuskan shalat tahajud.
Baca Juga: Sejarah Shalawat Burdah: Ditulis Imam Busyiri saat Lumpuh, Sembuh Setelah Bermimpi Jumpa NabiDia berdoa kepada Allah dan meminta pertolongan atas masalah yang tengah dihadapi. Tiba-tiba terdengar suara melantunkan lafal shalawat Mansub. Dia mendengarkan dengan seksama lalu menghafalnya. Hatinya merasa tenang dan lapang, seolah-olah masalah yang tengah dihadapi hilang.
Berikut lafal shalawatnya:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تَغْفِرُ بِهَا الذُّنُوْبَ , وَتُصْلِحُ بِهَا الْقُلُوْبَ , وَتَنْطَلِقُ بِهَا الْعُصُوْبُ وَتَلِيْنُ بِهَا الصُّعُوْبُ , وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ إِلَيْهِ مَنْسُوْبٌ
Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad yang dengannya Engkau ampuni kami, Engkau perbaiki hati kami, menjadi lancar urat-urat kami, menjadi mudah segala kesulitan, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya.
Habib Sholeh membaca lafal itu hingga subuh tiba. Kemudian lanjut sampai waktu syuruq. Menjelang dzuhur, keluarga yang datang mengadu mendatangi Habib Sholeh dengan wajah bahagia. Mereka mengabarkan bahwa pembunuh sebenarnya telah mengakui kesalahan, sehingga orang tertuduh yang dipenjara dibebaskan.
“Apa yang terjadi?” Tanya Habib Sholeh.
“Habib, pembunuh aslinya mengakui kalau dia membunuh. Menyerahkan diri dan datang ke kantor polisi mengaku,” jawab keluarga tersebut.
(jqf)