LANGIT7.ID-Yogyakarta; Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi menyelenggarakan Pagelaran Musik Kolaborasi sebagai acara penutup rangkaian Hari Kebudayaan Tahun 2025. Mengusung tema “Bhinneka Tunggal Ika: Beragam Budaya, Bersatu Jiwa untuk Indonesia”, kegiatan ini menjadi puncak perayaan Hari Kebudayaan yang digelar di Plaza Barat Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta.
Pagelaran Musik Kolaborasi menghadirkan kolaborasi antara Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) dengan sejumlah musisi muda Indonesia seperti Brian Prasetyoadi, Fanny Soegi, Isyana Sarasvati, serta Letto yang menampilkan perpaduan musik orkestra, gamelan, dan musik populer dalam satu panggung.
Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo dalam sambutannya menyampaikan pentingnya memperkuat ekosistem kebudayaan Indonesia.
“Saya selalu yakin kebudayaan bukan hanya soal masa lalu, tetapi ekspresi jiwa yang dituangkan dengan cara-cara baru. Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperkuat ekosistem kebudayaan Indonesia, mendorong tumbuhnya ruang-ruang ekspresi, memfasilitasi seniman dan pelaku budaya, serta menjamin regenerasi talenta seni berbudaya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (19/10/2025).
Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan. Ia mengajak masyarakat terutama generasi muda untuk terus berpartisipasi aktif dalam pelestarian kebudayaan melalui ruang-ruang digital.
“Kita sudah memiliki Hari Kebudayaan yang ditetapkan oleh Menteri Kebudayaan, mari kunjungi tempat-tempat cagar budaya dan Objek Pemajuan Kebudayaan, dan sebarluaskan melalui kanal-kanal digital seperti media sosial masing-masing,” ucapnya.
Pagelaran Musik Kolaborasi diawali dengan kolaborasi antara Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) dan Brian Prasetyoadi, dilanjutkan oleh Fanny Soegi dan Isyana Sarasvati, yang ditutup dengan penampilan bersama ketiganya membawakan lagu Indonesia Pusaka sebagai penghormatan bagi legenda musik Indonesia.
Pada sesi berikutnya, YRO menampilkan Cokekan Ensemble dengan aransemen etnik kontemporer yang mempertemukan nuansa gamelan dan orkestra. Sebagai penutup, grup Letto tampil berkolaborasi dengan pengrawit gamelan, menghadirkan harmoni antara instrumen modern dan tradisional sebagai simbol dialog budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Kolaborasi lintas generasi ini menjadi wujud nyata dari semangat keberagaman yang terus hidup dan berkembang dalam ekosistem kebudayaan Indonesia.
![Kementerian Kebudayaan Tutup Hari Kebudayaan 2025 dengan Pagelaran Musik Kolaborasi di Yogyakarta]()
Acara ini dihadiri oleh Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha Djumaryo, Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan, Fryda Lucyana, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, Pembina Dharma Wanita Persatuan Kementerian Kebudayaan, Katharine Grace Fadli Zon dan Cynthia Giring Ganesha, para Staf Ahli dan Staf Khusus Menteri Kebudayaan, Pejabat Eselon II Kementerian Kebudayaan, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah se-Indonesia, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi; Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta, Deni Mulyana; serta seniman, maestro, dan komunitas budaya di Kota Yogyakarta.
Pada akhir sambutannya, Wamen Giring Ganesha menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya rangkaian kegiatan dalam rangka Hari Kebudayaan. Ia juga mengapresiasi para seniman, budayawan, dan masyarakat yang telah berkontribusi pada pelestarian kebudayaan di Indonesia.
“Atas nama Kementerian Kebudayaan, saya mengapresiasi atas dukungan semua pihak untuk terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan ini. Hari Kebudayaan didedikasikan kepada semua seniman, budayawan, dan masyarakat yang telah dan terus melestarikan dan memajukan kebudayaan Indonesia,” pungkasnya.
Rangkaian acara Hari Kebudayaan Nasional 2025 telah dimulai sejak 16 hingga 18 Oktober 2025 dengan berbagai kegiatan, antara lain Syukuran Nusantara, Karnaval Bhinneka Tunggal Ika, Pameran Warisan Budaya Nusantara, Workshop Pusaka Budaya, Dialog Kebudayaan, Pagelaran Seni oleh Balai Pelestarian Kebudayaan, dan ditutup dengan Pagelaran Musik Kolaborasi yang seluruh rangkaian acaranya dipusatkan di kota Yogyakarta.
(lam)