LANGIT7.ID-, Korea Selatan -
Korea Selatan punya cara tersendiri dalam hal penyelenggaraan ujian masuk universitas. Mulai dari durasi ujian yang terlama di dunia, hingga "partisipasi" sekitar yang mendukung jalannya ujian tersebut. Seperti toko-toko ditutup dan penerbangan ditunda, semua demi mengurangi kebisingan dan ujian berlangsung nyaman.
Setiap bulan November,
Korea Selatan mengalami kemacetan karena ujian masuk perguruan tinggi yang terkenal yaitu Suneung, singkatan dari College Scholastic Ability Test (CSAT) dalam bahasa Korea.
Bagi sebagian besar siswa, ini adalah maraton ujian berdurasi delapan jam tanpa jeda. Tes Suneung dimulai pukul 08.40 dan selesai sekira pukul 17.40.
Demi menjaga kenyamanan peserta selama ujian, toko-toko tutup, penerbangan ditunda untuk mengurangi kebisingan, dan bahkan ritme perjalanan pagi pun melambat bagi para siswa.
Lebih dari 550.000 siswa di seluruh negeri akan mengikuti Suneung yaitu singkatan dari College Scholastic Ability Test (CSAT) dalam bahasa Korea. Ini merupakan jumlah pendaftar tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Baca juga: Lebih dari 300 Pekerja Korsel Pulang Kampung Usai Penggerebekan Imigrasi ASTes Suneung tidak hanya menentukan apakah seseorang akan dapat melanjutkan ke universitas, tetapi juga dapat memengaruhi prospek pekerjaan, pendapatan, tempat tinggal, dan bahkan hubungan masa depan mereka.
Tergantung pada pilihan mata pelajaran mereka, siswa menjawab sekira 200 pertanyaan dalam bahasa Korea, matematika, bahasa Inggris, ilmu sosial atau ilmu pengetahuan alam, satu bahasa asing tambahan, dan Hanja (aksara Mandarin klasik yang digunakan dalam bahasa Korea).
Menjelang sore, sebagian besar peserta ujian telah selesai dan kemudian berjalan keluar gerbang sekolah, bernapas lega, dan memeluk anggota keluarga yang menunggu di luar.
Namun, tidak semua orang selesai pada jam tersebut. Bahkan setelah kegelapan benar-benar reda dan malam tiba, beberapa siswa masih berada di ruang ujian akhirnya sekira pukul 22.00.
Mereka adalah siswa tunanetra, yang seringkali menghabiskan lebih dari 12 jam untuk mengikuti Suneung versi terpanjang.
Siswa tunanetra dengan gangguan penglihatan berat diberikan durasi 1,7 kali lipat dari durasi ujian standar. Ini berarti jika mereka mengikuti bagian bahasa asing tambahan, ujian dapat selesai paling lambat pukul 21.48, hampir 13 jam setelah dimulai.
Tidak ada jeda makan malam; ujian tetap berlangsung tanpa henti. Serta ukuran fisik kertas ujian braille juga berkontribusi terhadap panjangnya.
Ketika setiap kalimat, simbol, dan diagram diubah menjadi braille, setiap buklet ujian menjadi enam hingga sembilan kali lebih tebal daripada ukuran standarnya.
Di Sekolah Tunanetra Hanbit Seoul, Han Donghyun (18) termasuk di antara siswa yang akan mengikuti Suneung versi terpanjang tahun ini.
Baca juga: Aksi Heroik Sugianto, WNI Penyelamat Puluhan Lansia dari Karhutla di Korsel Diganjar Visa F-2Tahun lalu, terdapat 111 peserta tes tunanetra di seluruh negeri; 99 dengan penglihatan rendah dan 12 dengan gangguan penglihatan berat seperti Dong-hyun, menurut data dari Kementerian Pendidikan dan Institut Kurikulum dan Evaluasi Korea.
Dong-hyun terlahir buta total dan tidak dapat membedakan cahaya. Ketika BBC menemuinya di sekolahnya pada 7 November, jari-jarinya bergerak cepat di atas buklet latihan braille berisi soal-soal ujian sebelumnya.
Dengan hanya seminggu tersisa sebelum ujian, ia fokus mengelola stamina dan kondisinya. Dong-hyun akan mengikuti ujian menggunakan kertas ujian braille dan komputer pembaca layar.
"Sangat melelahkan karena ujiannya sangat panjang," ujarnya. "Tapi tidak ada trik khusus. Saya hanya mengikuti jadwal belajar dan berusaha mengelola kondisi saya. Itulah satu-satunya cara."
Dong-hyun mengatakan bagian bahasa Korea sangat sulit baginya. Buku ujian standar untuk bagian itu sekira 16 halaman, tetapi versi braille panjangnya sekira 100 halaman.
Bahkan dengan perangkat lunak pembaca layar, informasi lisan langsung hilang begitu terdengar, tidak seperti teks yang dapat dilihat dan dibaca ulang. Dong-hyun harus mengingat detailnya saat mengerjakannya. Bagian matematika juga tidak lebih mudah.
Ia harus menafsirkan grafik dan tabel rumit yang telah diubah menjadi braille, hanya menggunakan ujung jarinya.
Meski begitu, ia mencatat bahwa keadaannya sudah lebih baik daripada sebelumnya. Dulu, siswa harus melakukan hampir semua perhitungan di dalam kepala. Namun sejak 2016, peserta tes tunanetra diizinkan menggunakan alat tulis braille, yang dikenal sebagai Hansone.
"Sama seperti siswa yang dapat melihat menuliskan perhitungan mereka dengan pensil, kami memasukkannya dalam braille di Hansone untuk mengikuti langkah-langkahnya," ujarnya. (*/lsi/bbc)
(lsi)