LANGIT7.ID-, Jakarta - - Perang antara netizen
Korea atau Knetz dengan warganet Indonesia menjadi
trending topic di platform X (Twitter) sejak Kamis (12/2/202).
Solidaritas Asia Tenggara menguat setelah netizen Malaysia, Thailand, dan Filipina ikut membela Indonesia dalam perseteruan digital melawan cuitan
rasisme KNetz.
Aksi saling balas cuitan bermuatan
rasisme dari Knetz memunculkan istilah SEABlings viral di X.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Bangsa-bangsa: Rasisme, Stereotipe, dan Agenda PolitikSebutan ini menjadi simbol 'persaudaraan' netizen ASEAN yang bersatu memberikan perlawanan pedas terhadap narasi rasis yang menyudutkan Indonesia.
Lantas apa yang memicu perselisihan Knetz vs Netizen +62?
Merangkum dari cuitan di platform X dan Thread, perseteruan antara warganet Korsel dan
Asia Tenggara berawal dari konser Day6 di Axiata Arena,
Kuala Lumpur, Malaysia pada 31 Januari 2026 lalu.
Seorang
fansite master asal Korea Selatan kedapatan membawa kamera profesional berlensa panjang ke dalam area pertunjukan.
Padahal, penggunaan alat tersebut dilarang keras oleh penyelenggara demi menjaga hak cipta dan kenyamanan penonton, sebuah aturan yang sebenarnya berlaku umum di konser internasional.
"Day6 lagi konser di malaysia. Lalu ada fansite dari korea yang bawa kamera besar. Aturannya, kalo lagi konser ga boleh bawa kamera yang besar. Tapi si fansite ini ngeyel. Kena tegurlah sama orang malay yang nonton. Fansite ga terima lalu knetz jadi ga terima juga. Awalnya ini gara-gara war fandom aja, lalu jadi ke kpopers lalu naik lagi jadinya ke semua aspek," jelas akun Thread @estiyunho_
Baca juga: Kelompok Muslim di Jerman Alami Rasisme dan Diskriminasi Tiap HariSituasi kian memanas saat penonton Malaysia mengabadikan pelanggaran tersebut dan mengunggahnya ke platform X hingga viral di jagat maya.
Permohonan maaf oknum fansite gagal meredam situasi setelah kelompok penggemar Korea Selatan lainnya justru bereaksi agresif terhadap larangan kamera tersebut.
"Perkara awalnya tuh krn pas konser DAY6 di KL, si fansite bawa kamera pro & lensa tele pdhl barang yg dilarang sama promotor konser. Ke foto sama penonton MY. Fansitenya ngamuk, ngancem pake UU ITE. Sempet war kecil, tp akhirnya dia ngetwit minta maaf," tulis akun @kcharenina.
Sentimen anti-Malaysia pun mencuat, termasuk klaim eksklusivitas idol K-pop bagi warga Korea Selatan saja.
Perseteruan di media sosial X ini kemudian berujung pada serangan rasial yang merendahkan fisik dan status ekonomi masyarakat Asia Tenggara.
Cuitan rasis ini meluas hingga menyasar grup vokal asal Indonesia, No Na. Knetz mulai mengejek video klip No Na yang berlatar di tengah sawah.
Baca juga: Tiga Hijaber Inggris Serukan Lawan Rasisme di Dunia Olahraga"Kami tidak punya uang untuk menyewa set, jadi kami syuting di sawah."
Aksi tersebut memicu reaksi keras dari netizen Indonesia yang segera melancarkan balasan.
Menariknya, solidaritas regional kembali terlihat saat warganet dari Malaysia hingga Thailand turut pasang badan membantu Indonesia menghadapi serangan Knetz tersebut.
Tak berhenti di situ, perang panas yang masih bergulir itu mulai melibatkan warganet China dan India. Hal ini dipicu dari Knetz yang tidak membedakan antara India dan Indonesia.
(est)