LANGIT7.ID- Di padang gurun antara Mesir dan Hijaz, angin musim panas membawa kabar yang tidak disukai Amr bin As. Ia, jenderal tua yang membebaskan Mesir dari Romawi, yang mengusung pasukan meniti jejak-jejak pasir dari Fustat hingga Sirenaika, harus pasrah menerima kenyataan: Khalifah Utsman bin Affan membatasinya hanya sebagai panglima perang. Administrasi Mesir diserahkan kepada seorang yang lebih muda, Abdullah bin Sa'd bin Abi Sarh.
Bagi Amr, keputusan itu lebih dari sekadar kebijakan birokrasi. Ia membaca pesan yang lain: reputasinya sebagai administrator dipertanyakan. Ini pukulan bagi orang yang selama ini dielu-elukan rakyat Mesir karena keadilannya. Haekal, dalam kajian klasiknya tentang Usman, mencatat bahwa Amr menolak pembagian kuasa itu dengan ungkapan getir: Saya seperti orang yang memegang dua tanduk sapi betina, orang lain yang memerah susunya. Penolakan itu bukan hanya metafora: ia membawa luka yang membuatnya meninggalkan Mesir dengan dada bergemuruh.
Sementara Amr kembali ke Makkah, Abdullah bin Sa'd diuji dengan tugas yang jauh lebih berat: menghadapi pasukan Romawi di Afrika Utara. Pertempuran berbulan-bulan di Sbeitla memperlihatkan kebuntuan strategi. Kekuatannya tidak bergerak maju, sementara pasukan Gregory—atau Jirjir dalam sumber Arab—kokoh bertahan.
Di sinilah episode lain hadir, ketika Abdullah bin Zubair tiba sebagai bala bantuan. Ia melihat kemandekan itu sebagai jebakan waktu. Strategi baru pun dirancang: menahan pertempuran hingga lawan kelelahan di siang hari, lalu menyerang kembali ketika pasukan Romawi meletakkan pedang mereka. Serangan mendadak itu menjadi penentu. Gregory tewas di medan tempur, dan Afrika Utara jatuh ke tangan Muslimin.
Hasil rampasan perang menjadi sumber ketegangan baru. Delegasi pasukan menuntut keadilan atas seperlima hasil rampasan yang disisihkan Abdullah bin Sa'd untuk dirinya. Utsman menyatakan pemberian itu dari dirinya, namun ketika pasukan menolak, ia membatalkannya. Dalam beberapa riwayat, seperlima itu kemudian dijual kepada Marwan bin al-Hakam—kebijakan yang memicu perdebatan dalam literatur sejarah mengenai konsistensi Utsman terhadap sunah pendahulunya.
Dalam kotak-kotak diskusi akademik, kisah ini kerap ditafsir sebagai pertarungan politik yang memengaruhi formasi kekuasaan awal Islam. Amr merasa ditepikan, rakyat Mesir kecewa membaca kabar pemecatannya, sementara Abdullah bin Sa'd menjadi tokoh baru yang menghubungkan dua wilayah strategis: Mesir dan Afrika Utara. Pada akhirnya, keputusan Utsman bukan soal menyukai atau membenci seseorang, tetapi manuver pengendalian pusat atas provinsi-provinsi yang berkembang menjadi kekuatan regional.
Haekal mencatat bahwa Amr menyimpan bara yang kemudian mewarnai posisinya dalam gejolak selanjutnya. Sementara itu, wilayah Afrika Utara menjadi pintu bagi penyebaran Islam hingga berabad-abad kemudian, setelah perjanjian jizyah ditegakkan dan penduduk lokal menerima Islam secara luas.
Sejarah mencatat bahwa pengusiran Romawi dari Afrika Utara merupakan tonggak. Namun kisah di belakangnya—pertukaran kekuasaan, rasa tersinggung seorang panglima, dan kalkulasi politik seorang khalifah—menjadi lapisan yang kerap tertutup narasi heroisme militer. Dalam pertemuan dua tokoh, Amr dan Sa'd, itulah kita melihat bagaimana keputusan politik membentuk sejarah yang lebih luas dari sekadar medan tempur.
(mif)