LANGIT7.ID, Malang - Sejumlah daerah di Indonesia dikenal sebagai area rawan bencana, malah dianggap langganan bencana. Mulai dari banjir, tanah longsor, gunung merapi hingga gempa bumi dan tsunami.
Pemerintah memang sudah melakukan sosialisasi penanggulangan tanggap bencana, namun tingkat kesiapan tanggap bencana masyarakat masih rendah.
Karena itulah tim Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencetuskan sebuah program Disaster Emergency Starter Pack (Disespack) untuk mendorong warga lebih cekatan menghadapi potensi bencana.
Adalah Vani Rizka, Resky Maharani, Septianingrum, dan Alzena Firyal yang menggagas program tersebut. Tim ini berkeinginan agar alat yang mereka buat nantinya bisa membantu warga di area-area rawan.
Program Disespack memiliki Triple E Programs. Pertama yakni emergency backpack (ransel darurat), kedua educate of housewives (edukasi ibu rumah tangga), dan e-socialization of disaster response (sosialisasi elektronik program tanggap bencana).
Menurut Vani Rizka selaku ketua tim menerangkan, meski sudah cukup matang, program tersebut membutuhkan dukungan kuat dari pemerintah agar Disespack bisa sampai ke masyarakat luas dan dapat diterapkan.
Untuk ransel darurat, dia mengatakan, akan menjadi alat bantu dalam menghadapi bencana, karena ada persediaan pangan dan bahan pokok. Tas ransel ini harus ada di setiap rumah warga dan dibawa saat ada bencana.
"Jadi saat ada bencana, tiap rumah sudah siap menghadapi dengan persediaan yang ada di dalam tas tersebut," kata Vani dalam laman muhammadiyah.or.id.
Sementara untuk edukasi ibu rumah tangga, kata dia, masih memiliki hubungan dengan program pertama. Para ibu harus rutin mengganti makanan dan bahan-bahan yang akan kadaluarsa pada tas darurat itu.
"Hingga nanti ketika bancana alam melanda, stok bahan pangan dan kebutuhan sudah terjamin dengan aman," ujar perempuan muda tersebut.
Terakhir, mengenai sosialisasi elektronik program tanggap bencana. Kegiatan ini bisa dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya pemerintah. Tapi lewat media sosial dan informasi lainnya agar sampai ke warga.
"Hal ini diutamakan bagi masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana," katanya.
Dia berharap, program Disespack ini dapat disosialisasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Timnya juga akan menyebarkan edukasi dan program tersebut melalui video animasi yang dikemas menarik. Hal itu dilakukan agar edukasi tersebut bisa dipahami semua kalangan.
"Sosialisasi tanggap bencana ini bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama dilakukan oleh BNPB dan BPBD. Kemudian juga oleh pihak lain melalui media elektronik," ujar dia.
(bal)