LANGIT7.ID-Denmark; Sejumlah pemimpin Eropa menentang seruan berulang Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar AS mengambil alih Greenland, di tengah dampak global dari serangan militer Washington terhadap Venezuela dan penculikan pemimpinnya.
Tujuh pemimpin Eropa, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, mengeluarkan pernyataan bersama pada Selasa (6/1) yang menegaskan bahwa pulau Arktik yang kaya mineral tersebut "adalah milik rakyatnya".
"Keputusan mengenai Denmark dan Greenland hanya berada di tangan Denmark dan Greenland sendiri," tambah pernyataan tersebut.
Secara terpisah, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memperingatkan bahwa upaya apa pun oleh AS untuk mengambil alih Greenland akan mengakhiri aliansi militer NATO.
Frederiksen menyampaikan pernyataan itu pada Senin (5/1), menyusul seruan terbaru Presiden AS Donald Trump agar wilayah Arktik itu berada di bawah kendali langsung Washington.
Trump mengatakan kepada wartawan pada Minggu (4/1) bahwa ia akan "membicarakan Greenland dalam 20 hari". Ia bersikukuh bahwa Greenland harus berada di bawah yurisdiksi AS, dan ancaman terbarunya muncul hanya satu hari setelah pasukan AS menculik pemimpin Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya.
Operasi militer itu telah menimbulkan kekhawatiran di Denmark dan Greenland, yang merupakan wilayah semi-otonom Kerajaan Denmark dan dengan demikian bagian dari NATO.
"Jika Amerika Serikat memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka segalanya berakhir," kata Frederiksen.
"Itu termasuk keanggotaan kami di NATO, dan juga keamanan yang telah terjaga sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua," jelasnya kepada penyiar Denmark TV2.
Trump belum mengesampingkan penggunaan kekuatan militer untuk menguasai Greenland. Bulan lalu, Gubernur Louisiana Jeff Landry—yang secara terbuka mendukung aneksasi—ditunjuk sebagai utusan khusus untuk pulau Arktik yang kaya mineral ini.
Katie Miller, istri dari Wakil Kepala Staf Trump, Stephen Miller, memposting gambar provokatif wilayah otonom Denmark tersebut dengan warna bendera AS di akun X-nya pada Sabtu (3/1).
Postingannya hanya disertai satu kata: "SEGERA".
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyebut postingan itu "tidak sopan".
"Hubungan antarnegara dan bangsa dibangun atas saling menghormati dan hukum internasional—bukan atas gestur simbolis yang mengabaikan status dan hak kami," tulisnya di X.
Namun, ia menambahkan, "Tidak ada alasan untuk panik atau khawatir. Negara kami tidak dijual, dan masa depan kami tidak ditentukan oleh postingan media sosial."
Posisi strategis Greenland antara Eropa dan Amerika Utara menjadikannya lokasi kunci bagi sistem pertahanan rudal balistik AS. Kekayaan mineralnya juga menarik minat Washington, yang berharap mengurangi ketergantungan pada ekspor China.
"Greenland dikelilingi oleh kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana," kata Trump pada Minggu.
"Kami membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional, dan Denmark tidak akan mampu mengurusnya," tambahnya.
Nielsen berusaha menenangkan kekhawatiran penduduk pulau itu.
"Kami tidak dalam situasi di mana kami mengira negara ini bisa diambil alih semalaman, dan itulah mengapa kami bersikeras ingin kerja sama yang baik," ujarnya dalam konferensi pers pada Senin.
"Situasinya tidak memungkinkan Amerika Serikat begitu saja menaklukkan Greenland," tegas Nielsen.
Sementara itu, para pemimpin Eropa menyuarakan dukungan kuat bagi Denmark.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengatakan pada Selasa bahwa Denmark dapat mengandalkan solidaritas seluruh Eropa dalam isu Greenland.
"Tidak ada anggota yang boleh menyerang atau mengancam anggota lain dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara. Jika tidak, NATO akan kehilangan maknanya jika konflik atau saling serang terjadi di dalam aliansi," kata Tusk.(*/saf/aljazeera.com)
(lam)