LANGIT7.ID- Madinah pada tahun kesepuluh Hijriah seolah sedang menahan napas. Kota itu baru saja menjadi saksi sejarah saat seratus ribu lebih orang Arab berkumpul di bawah terik matahari Arafah. Rasulullah, didampingi para istri dan sahabat terdekatnya termasuk Abu Bakar, memimpin prosesi kolosal yang kemudian dikenal sebagai Haji Wada atau Haji Perpisahan. Namun, di balik kemegahan spiritual itu, sebuah narasi besar tentang transisi kekuasaan dan ketahanan militer sedang disusun.
Sepulang dari haji, Nabi tidak berleha-leha. Sebuah perintah dikeluarkan dengan nada yang tegas: siapkan satu pasukan besar menuju Syam. Perintah ini bukan sekadar urusan ekspansi wilayah. Muhammad Husain Haekal dalam bukunya, Abu Bakr As-Siddiq, menggambarkan betapa strategisnya perintah ini. Di dalamnya bergabung tokoh-tokoh besar Muhajirin dan Anshar, termasuk Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Yang mengejutkan banyak pihak saat itu adalah penunjukan pucuk pimpinan: Usamah bin Zaid, seorang pemuda yang usianya bahkan belum genap dua puluh tahun.
Pilihan atas Usamah menimbulkan riak kecil di tengah senioritas kaum Muhajirin. Namun, Rasulullah bergeming. Penunjukan ini dipandang para sejarawan, termasuk Safiurrahman al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum, sebagai upaya mematahkan sentimen kesukuan dan senioritas yang kaku. Nabi ingin menunjukkan bahwa ketaatan dan kapabilitas melampaui usia. Pasukan itu pun mulai berkumpul dan membangun markas di Jurf, sebuah titik tidak jauh dari Madinah, menunggu instruksi keberangkatan.
Namun, sejarah memiliki jalannya sendiri. Di saat pedang mulai diasah dan kuda-kuda disiapkan, berita duka merayap dari balik tirai rumah Nabi. Rasulullah jatuh sakit. Penyakit yang bermula dari sakit kepala itu kian mengeras seiring waktu. Kabar ini membuat konsentrasi pasukan di Jurf buyar. Kecemasan menyelimuti markas militer tersebut. Para sahabat besar yang seharusnya sudah berada di baris depan menuju perbatasan Romawi, kini tertahan oleh tarikan emosional dari Madinah.
Muhammad Husain Haekal mencatat bahwa situasi saat itu sangat krusial. Perintah untuk berangkat tetap ada, namun kondisi fisik pemimpin tertinggi yang kian melemah menciptakan dilema moral yang luar biasa. Haruskah mereka meninggalkan Madinah saat Nabi sedang dalam kondisi kritis? Atau haruskah perintah militer itu dijalankan sebagai wasiat hidup? Perjalanan menuju Syam yang mulanya diniatkan untuk membalas kekalahan di Mu tah, kini berubah menjadi ujian kesetiaan paling berat.
Kecemasan di Jurf mencerminkan ketidakpastian politik yang akan dihadapi umat Islam. Jika pasukan terbaik berangkat ke Syam, Madinah akan kosong dan rentan terhadap ancaman dari luar maupun pergolakan dari dalam. Namun, membatalkan perintah Nabi berarti meruntuhkan wibawa kepemimpinan yang telah dibangun. Abu Bakar As-Siddiq kelak menjadi tokoh sentral yang harus memutuskan nasib pasukan ini di tengah suasana duka yang mencekam.
Fragmen antara Haji Perpisahan dan tertahannya pasukan Usamah di Jurf adalah masa transisi yang menentukan. Ia menunjukkan bahwa Islam tidak hanya dibangun di atas fondasi spiritualitas murni, tetapi juga di atas kedisiplinan organisasi militer dan politik. Perintah terakhir Rasulullah untuk menggerakkan pasukan Usamah tetap menggantung di udara, menjadi tugas pertama yang menanti siapa pun yang kelak menggantikan posisi sang Nabi. Di tengah rintihan sakit sang Rasul, pasukan di Jurf tetap bersiaga, menjadi saksi bisu berakhirnya era kenabian dan dimulainya era khilafah yang penuh ujian.
