LANGIT7.ID- Kota Madinah pada tahun 632 Masehi bukan hanya menjadi saksi bisu atas kepulangan seorang Rasul ke hadirat Ilahi, melainkan juga menjadi kancah pergolakan psikologi masa yang sangat kompleks. Di tengah isak tangis yang belum kering, sebuah pertanyaan raksasa menggantung di langit-langit kota: di tangan siapakah pimpinan umat akan berpindah?
Muhammad Husain Haekal dalam biografinya, Abu Bakr As-Siddiq - Yang Lembut Hati, melukiskan bahwa stabilnya Madinah di bawah tangan Rasulullah kini menghadapi ujian paling ekstrem. Seluruh kawasan Arab yang telah menganut Islam dan para Ahli Kitab yang membayar jizyah berada dalam ketidakpastian. Apakah pengaruh Madinah akan tetap berlanjut? Dan jika ya, siapa yang paling berhak memegang kemudi?
Di sinilah luka lama yang selama ini tertutup oleh kharisma Nabi kembali menganga. Kaum Ansar, penduduk asli Madinah yang menjadi penolong (Ansar) saat kaum Muhajirin datang sebagai pengungsi yang terdesak, mulai merasakan gejolak kecemburuan politik. Mereka merasa bahwa merekalah yang memberi perlindungan, membela, dan memfasilitasi kebangkitan Islam. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka merasa kaum Muhajirin mulai mendominasi panggung kekuasaan.
Fragmen Luka di Hunain
Ketegangan ini sebenarnya bukan barang baru. Haekal mencatat bahwa benih kemarahan Ansar sudah terdeteksi sejak pembebasan Mekah dan Perang Hunain. Kala itu, tindakan Nabi memberikan porsi rampasan perang (ganimah) yang sangat besar kepada para mualaf Mekah—yang secara etnis adalah kerabat kaum Muhajirin—memicu kasak-kusuk di barisan Ansar. "Rasulullah telah bertemu dengan masyarakatnya sendiri," begitu sindiran yang sempat beredar di kalangan mereka.
Nabi, dengan kepekaan kepemimpinannya yang luar biasa, segera mencium aroma ketidakpuasan ini. Ia meminta Sa'd bin Ubadah, pemimpin suku Khazraj, untuk mengumpulkan kaum Ansar. Dalam sebuah pertemuan yang sangat emosional, Nabi tidak menjawab dengan argumentasi logis yang kering, melainkan dengan pendekatan psikologis yang menyentuh lubuk hati terdalam.
Nabi mengakui segala jasa Ansar: "Engkau datang kepada kami didustakan orang, kamilah yang mempercayaimu; engkau diusir, kamilah yang memberimu tempat." Kata-kata ini menjadi bukti autentik bahwa Nabi menghargai posisi strategis Ansar. Namun, ia juga meluruskan bahwa harta dunia yang ia bagikan hanyalah cara untuk melunakkan hati para mualaf yang baru masuk Islam, sementara iman kaum Ansar sudah jauh lebih kokoh dan tak butuh sogokan materi.
"Tidakkah kamu rela, wahai kaum Ansar, apabila orang-orang itu pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kamu pulang membawa Rasulullah ke tempat kamu?" tanya Nabi. Pertanyaan ini seketika meruntuhkan kemarahan mereka. Air mata tumpah di Madinah kala itu, dan Ansar menyatakan kerelaan mereka.
Tantangan Pasca-Wafatnya Nabi
Namun, romantisme di masa hidup Nabi ini berubah menjadi realitas politik yang keras sesaat setelah Nabi wafat. Tanpa kehadiran Nabi sebagai penengah yang kharismatik, perasaan "disisihkan" kembali muncul ke permukaan. Kaum Ansar merasa berhak memimpin karena mereka adalah tuan rumah yang membela Islam saat dalam keadaan lemah.
Haekal secara interpretatif menunjukkan bahwa ketegangan ini adalah dinamika sosiologis yang wajar. Sebagaimana dicatat oleh sejarawan Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah, pertemuan di Saqifah Bani Sa'idah—yang terjadi tepat saat jenazah Nabi belum dimakamkan—adalah manifestasi dari kemarahan dan kekhawatiran Ansar ini.
Abu Bakar Ash-Shiddiq, dengan kelembutan yang menyembunyikan ketegasan baja, hadir di tengah pusaran kemarahan itu. Ia tidak menghadapi Ansar dengan kekuatan fisik, melainkan dengan argumen sejarah dan persaudaraan. Ia menyadari bahwa jika kepemimpinan tidak ditangani dengan sangat hati-hati, Islam akan pecah menjadi tribalisme (kesukuan) yang akan menghancurkan seluruh bangunan yang telah dibangun Nabi.
Kisah kemarahan Ansar kepada Muhajirin ini mengajarkan satu hal penting dalam sejarah politik Islam: bahwa kesalehan spiritual tidak secara otomatis menghapus kepentingan politik dan identitas sosial. Dibutuhkan sosok sekelas Abu Bakar untuk merajut kembali tali persaudaraan yang nyaris putus oleh nafsu kekuasaan pasca-meninggalnya sang pemimpin besar.
