Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 09 Mei 2026
home masjid detail berita

Saqifah Banu Sa'idah: Pergulatan Politik di Bawah Teduh Atap Madinah

miftah yusufpati Selasa, 13 Januari 2026 - 17:00 WIB
Saqifah Banu Sa'idah: Pergulatan Politik di Bawah Teduh Atap Madinah
Kisah Ansar di Saqifah Banu Saidah adalah sebuah potret tentang manusia yang mencoba bernegosiasi dengan ketidakpastian. Ilustrasi: AI

LANGIT7.ID- Dunia seolah runtuh bagi penduduk Madinah pada siang itu. Berita wafatnya Rasulullah bukan sekadar duka spiritual, melainkan sebuah lonceng kegelisahan politik yang berdentum keras. Di sela-sela isak tangis yang memenuhi udara kota, sebuah kelompok kecil mulai bergerak dengan cepat. Mereka bukan hendak mengurus jenazah Nabi, melainkan hendak menyelamatkan masa depan politik kota mereka.

Muhammad Husain Haekal dalam biografinya, Abu Bakr As-Siddiq - Yang Lembut Hati, mencatat bahwa kegelisahan kaum Ansar bukanlah bara yang tiba-tiba muncul. Api itu sudah lama tersimpan di bawah sekam sejarah. Bahkan saat pembebasan Mekah (Fathu Makkah), mata kaum Ansar tidak lepas mengawasi gerak-gerik sang Nabi. Saat Muhammad berdiri di bukit Safa sambil menghancurkan berhala-berhala, sebuah bisikan menjalar di barisan orang-orang Madinah: Akankah Rasulullah menetap kembali di negerinya sendiri setelah kemenangan ini?

Ketakutan itu diredam oleh janji setia Nabi: Hidup dan matiku akan bersama kamu. Namun, janji itu adalah janji personal antara Nabi dan Ansar. Begitu Nabi tiada, kontrak politik itu seolah luruh. Kaum Ansar mulai berhitung secara rasional. Adakah kota Madinah dan seluruh jazirah Arab akan diurus oleh kaum Muhajirin—mereka yang dulu datang sebagai pengungsi lemah tanpa pembela—atau oleh mereka sendiri, para penduduk asli yang telah mempertaruhkan nyawa dan harta demi melindungi dakwah?

Kekhawatiran akan dominasi kaum pendatang ini akhirnya meledak dalam sebuah pertemuan darurat di Saqifah Banu Sa'idah. Sebuah tempat pertemuan sederhana yang terletak di pemukiman suku Khazraj. Tokoh utamanya adalah Sa'd bin Ubadah, pemimpin Khazraj yang sedang terbaring sakit. Meski fisiknya lemah, ambisi politiknya menyala. Karena suaranya yang serak akibat sakit, Sa'd terpaksa meminta kerabatnya untuk menyambung lidah, meneriakkan aspirasi Ansar di hadapan khalayak.

Sa'd mengingatkan kaumnya tentang keutamaan Ansar. Dialah yang mengingatkan bahwa Madinah adalah benteng tempat Islam tumbuh besar, sementara kaum Muhajirin hanyalah tamu yang kini mulai merasa sebagai tuan rumah. Narasi yang dibangun di Saqifah sangat jelas: Madinah harus dipimpin oleh orang Madinah. Jika perlu, kepemimpinan harus dibagi dua—seorang pemimpin dari kami dan seorang pemimpin dari kamu (Muhajirin).

Namun, dinamika di Saqifah bukan tanpa celah. Haekal secara interpretatif menunjukkan bahwa di balik soliditas Ansar, terdapat keretakan internal antara dua suku besar Madinah, Aws dan Khazraj. Persaingan lama sebelum Islam datang kembali menghantui. Muncul ketakutan di kalangan Aws bahwa jika Sa'd dari Khazraj naik menjadi pemimpin, maka suku Khazraj akan mendominasi mereka selamanya.

Pertemuan di bawah atap Saqifah ini menjadi titik krusial dalam sejarah Islam. Ia menunjukkan bahwa transisi kepemimpinan tidak pernah sederhana, bahkan bagi generasi yang dididik langsung oleh wahyu. Sebagaimana dicatat oleh sejarawan Philip K. Hitti dalam History of the Arabs, peristiwa Saqifah adalah pertemuan politik murni yang pertama kali terjadi pasca-kenabian, di mana identitas kesukuan dan loyalitas teritorial kembali dipertaruhkan.

Kisah Ansar di Saqifah Banu Sa'idah adalah sebuah potret tentang manusia yang mencoba bernegosiasi dengan ketidakpastian. Mereka bukan hendak mengkhianati Islam, melainkan hendak memastikan bahwa pengorbanan mereka selama satu dekade tidak hilang ditelan oleh dominasi baru yang mereka takuti. Di bawah bayang-bayang duka wafatnya Nabi, Saqifah menjadi laboratorium pertama bagi umat Islam dalam mengelola konflik kepentingan dan perebutan takhta di dunia yang kini harus mereka urus sendiri.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 09 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)