Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 13 Maret 2026
home masjid detail berita

Manifesto Saqifah: Gugatan Sa'd bin Ubadah atas Dominasi Quraisy

miftah yusufpati Rabu, 14 Januari 2026 - 05:33 WIB
Manifesto Saqifah: Gugatan Sa'd bin Ubadah atas Dominasi Quraisy
Pidato Sad di Saqifah Banu Saidah menjadi bukti bahwa transisi kekuasaan di masa awal Islam adalah proses yang penuh pergolakan manusiawi. Ilustrasi: AI

LANGIT7.ID- Di bawah atap peneduh milik kabilah Banu Sa'idah, atmosfer Madinah terasa lebih panas dari biasanya. Bukan karena terik matahari, melainkan karena gejolak politik yang mendidih sesaat setelah nafas terakhir Rasulullah terhenti. Di sana, Sa'd bin Ubadah, pemimpin suku Khazraj yang sedang terbaring sakit, mencoba berdiri di tengah persimpangan sejarah. Suaranya serak, bahkan hampir tak terdengar, sehingga kata-katanya harus disambung oleh seorang orator agar sampai ke telinga hadirin.

Muhammad Husain Haekal dalam biografinya, Abu Bakr As-Siddiq - Yang Lembut Hati, menggambarkan momen ini sebagai titik krusial. Pidato Sa'd bukan sekadar sambutan duka, melainkan sebuah manifesto kedaulatan kaum Ansar. Setelah memuji Tuhan, Sa'd langsung menghujamkan narasi tentang keunggulan penduduk Madinah. Ia mengingatkan bahwa selama sepuluh tahun di Mekah, dakwah Nabi hanya disambut oleh segelintir orang yang bahkan tak mampu melindungi diri mereka sendiri dari kezaliman.

Bagi Sa'd, martabat Islam tegak justru karena pedang dan perlindungan kaum Ansar. Karunia Tuhan berupa iman, menurutnya, berpadu dengan keberanian Ansar dalam menampung Nabi dan sahabat-sahabatnya (kaum Muhajirin). Dialah yang menekankan bahwa Ansar adalah pihak yang paling keras menghadapi musuh, baik dari dalam maupun luar, hingga jazirah Arab tunduk di bawah perintah Allah. Pesan tersiratnya jelas: jika Ansar yang memenangkan pertempuran, maka Ansar pulalah yang paling berhak memegang kendali pemerintahan.

Seruan itu segera disambut teriakan setuju. Tepat sekali pendapatmu, seru mereka. Sa'd pun didorong untuk memegang tampuk kepemimpinan. Namun, sebagaimana dicatat Haekal, kebulatan suara itu rupanya tidak sepadat kelihatannya. Di balik sorak-sorai, keraguan mulai menyusup ke sela-sela diskusi.

Satu pertanyaan kritis muncul dari kerumunan: Bagaimana jika kaum Muhajirin dari suku Quraisy menolak? Mereka bisa saja berargumen bahwa merekalah sahabat pertama yang berhijrah dan merupakan kerabat dekat Nabi. Pertanyaan ini seketika mendinginkan suasana. Benak kaum Ansar yang tadinya yakin mulai menimbang-nimbang kekuatan legitimasi sejarah kaum Muhajirin.

Di sinilah muncul usulan kompromistis yang kelak akan menjadi perdebatan panjang: Minna amirun wa minkum amirun—dari kami seorang pemimpin dan dari kamu seorang pemimpin. Usul ini mencerminkan kegamangan politik. Di satu sisi, Ansar ingin berdaulat di tanahnya sendiri, namun di sisi lain mereka sadar bahwa tanpa melibatkan unsur Quraisy, persatuan umat terancam pecah.

Sejarawan Al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk mencatat bahwa pidato Sa'd bin Ubadah sebenarnya mencerminkan ketakutan kolektif kaum Ansar akan masa depan mereka yang terpinggirkan. Jika kepemimpinan jatuh ke tangan Muhajirin secara mutlak, mereka khawatir Madinah hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah yang didominasi oleh elit Mekah.

Pidato Sa'd di Saqifah Banu Sa'idah menjadi bukti bahwa transisi kekuasaan di masa awal Islam adalah proses yang penuh pergolakan manusiawi. Penghormatan terhadap agama tidak serta-merta menghapus identitas suku dan kepentingan politik lokal. Di bawah atap Saqifah itulah, benih-benih perdebatan mengenai kriteria pemimpin umat pertama kali ditanam, memicu serangkaian diplomasi tingkat tinggi yang akan melibatkan Abu Bakar dan Umar bin Khattab beberapa saat kemudian.



(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 13 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:06
Ashar
15:11
Maghrib
18:10
Isya
19:18
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)