LANGIT7.ID- Di bawah naungan Saqifah Banu Sa'idah, sejarah Islam sedang berada di titik nadir. Nafas Rasulullah baru saja terhenti, namun di balai pertemuan itu, aroma persaingan politik sudah menyengat. Sa'd bin Ubadah, pemimpin besar Khazraj, mencoba menegakkan kedaulatan kaum Ansar sebagai pewaris kepemimpinan Madinah. Namun, sebuah usulan kompromi tiba-tiba muncul: dari kami seorang pemimpin, dan dari Quraisy seorang pemimpin. Mendengar itu, Sa'd bin Ubadah mendesiskan sebuah kalimat pahit yang dicatat sejarah sebagai tanda awal keruntuhan soliditas Ansar: Ini adalah kelemahan pertama.
Muhammad Husain Haekal dalam biografinya, Abu Bakr As-Siddiq - Yang Lembut Hati, memberikan analisis tajam bahwa pernyataan Sa'd bukan sekadar keluhan taktis. Kalimat itu adalah deteksi psikologis atas kembalinya identitas kesukuan yang purba. Sa'd menduga kuat bahwa suara-suara ragu itu datang dari kabilah Aus. Sebagai pemimpin Khazraj, ia tahu betul bahwa persatuan Ansar hanyalah selapis tipis cat di atas dinding persaingan berabad-abad antara dua kabilah asal Yaman tersebut.
Akar sengketa Aus dan Khazraj adalah sebuah hikayat tentang imigrasi besar dari selatan. Sejak nenek moyang mereka tiba di Madinah setelah keruntuhan Bendungan Ma’rib, mereka hidup di bawah bayang-bayang dominasi ekonomi orang-orang Yahudi setempat. Setelah berhasil memberontak dan melepaskan diri, kedua kabilah ini justru terjebak dalam perang saudara yang tiada akhir, mencapai puncaknya pada Perang Bu’as yang berdarah-darah. Kelelahan akibat konflik internal inilah yang membawa mereka pada pencarian sosok pemimpin pemersatu.
Pertemuan beberapa orang Madinah dengan Nabi di Mekah adalah titik balik sosiologis. Mereka melihat Islam sebagai satu-satunya jalan untuk memutus rantai dendam. Inilah yang mengawali Ikrar Akabah dan hijrah Rasulullah. Islam berhasil mempersatukan Aus dan Khazraj dalam satu barisan persaudaraan, sekaligus melemahkan posisi politik lawan-lawan mereka di Madinah. Namun, Haekal memperingatkan bahwa bekas permusuhan itu tidak pernah benar-benar lenyap dari lubuk hati terdalam.
Saat Nabi tiada, hantu-hantu masa lalu itu bangkit kembali di Saqifah. Kelompok Aus nampaknya merasa gamang jika Sa'd bin Ubadah—seorang tokoh Khazraj—menjadi penguasa tunggal. Bagi Aus, memberikan kepemimpinan kepada Muhajirin (Quraisy) terkadang terasa lebih dapat diterima daripada melihat kabilah pesaing mereka sendiri yang bertahta. Usulan pemimpin ganda yang dicetuskan sebagian hadirin dipandang Sa'd sebagai bentuk kekalahan mental sebelum peperangan politik dimulai.
Kelemahan pertama yang disebut Sa'd adalah bukti bahwa sentimen identitas (asabiyah) masih menjadi faktor penentu dalam politik Islam awal. Sebagaimana dicatat oleh Montgomery Watt dalam Muhammad at Medina, keberhasilan Rasulullah mempersatukan kedua kabilah ini adalah prestasi diplomasi luar biasa, namun tanpa kehadiran fisik sang Nabi, mekanisme persatuan itu langsung menghadapi krisis legitimasi.
Peristiwa di Saqifah menunjukkan bahwa di balik duka yang suci atas wafatnya Nabi, terdapat kalkulasi politik yang sangat manusiawi. Sa'd bin Ubadah menyadari bahwa sekali celah keraguan terbuka, maka kedaulatan Ansar akan runtuh oleh ambisi Quraisy yang lebih solid. Kelemahan pertama itu akhirnya menjadi lubang yang mengundang masuknya Abu Bakar dan Umar bin Khattab ke dalam balai pertemuan, mengubah arah sejarah kepemimpinan Islam untuk selamanya.
