LANGIT7.ID-, Jakarta - - Instruksi
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yaitu menerapkan kebijakan
work from home (WFH) bagi pegawai dan
belajar di rumah bagi pelajar, saat Jakarta diguyur hujan lebat.
Beberapa hari belakangan ini Jakarta kerap diguyur hujan lebat, hingga menyebabkan banjir yang melumpuhkan sejumlah titik jalan, sehingga arus lalu lintas terganggu. Belum lagi, hujan lebat kerap mengguyur Ibu Kota di pagi hari yang tentu menghambat aktivitas banyak orang, termasuk para pelajar.
Dengan demikian keputusan
belajar di rumah bagi pelajar dinilai cukup baik, sebab kondisi akibat hujan lebat menghambat pelaksanaan kegiatan belajar di sekolah. "Tetapi kemudian ada indikasi seperti itu (banjir) dan di hari biasa, saya akan memutuskan untuk melakukan
work from home, terutama untuk anak-anak didik kita," kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Rabu (21/1).
Menurut Pramono, dengan adanya kebijakan
WFH dan
belajar di rumah, menjadi langkah antisipasi ketika curah hujan tinggi berpotensi mengganggu aktivitas dan mobilitas warga.
Meski begitu, Pramono berharap kondisi cuaca di Jakarta stabil sehingga tidak perlu diberlakukan
WFH dan belajar dari rumah.
Selain itu, Ia juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan transportasi umum saat hujan melanda Jakarta. Hal ini bertujuan mengurangi kemacetan yang kerap terjadi ketika kondisi cuaca ekstrem. Menurut dia, penggunaan kendaraan pribadi justru memperparah kepadatan lalu lintas saat hujan. Sebaliknya, pemanfaatan transportasi umum dinilai mampu mengurangi beban jalan secara signifikan.
"Kalau dengan naik transportasi umum pasti kemacetan di Jakarta juga turun secara signifikan," ucap Pramono.
Dia menambahkan bahwa sistem transportasi umum di Jakarta saat ini telah terintegrasi dengan cukup baik. Berbagai moda, mulai dari LRT, MRT, Transjakarta, hingga Mikrotrans, saling terkoneksi dan dapat dimanfaatkan warga untuk menunjang mobilitas sehari-hari.
"Sebagai Gubernur Jakarta saya berharap bahwa dengan konektivitas Jakarta yang semakin baik, baik itu LRT, MRT, Transjakarta, Mikrotrans, dan sebagainya, harapan saya apalagi digratiskan, mereka mau dan bersedia naik transportasi umum," ujarnya.
Sebelumnya, upaya menekan intensitas hujan telah dilakukan. Pramono menyampaikan sudah menyiapkan anggaran untuk modifikasi cuaca selama satu bulan penuh. Sebab katanya, operasi modifikasi cuaca bisa dilakukan selama satu sampai tiga hari. Dia menjelaskan operasi modifikasi cuaca (OMC) sudah dilakukan sejak 15 Januari 2026 dan direncanakan sampai 22 Januari 2026.
Baca juga: Operasi Modifikasi Cuaca Dilakukan di Wilayah Jakarta, Guna Antisipasi Bencana HidrometeorologiOMC dilakukan menyusul peringatan dini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, agar masyarakat waspada cuaca ekstrem di wilayah DKI Jakarta selama periode 21–27 Januari 2026.
Peringatan itu merujuk pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di sejumlah wilayah Jakarta.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji mengatakan kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak hidrometeorologi seperti genangan, banjir, dan gangguan aktivitas masyarakat. Pihaknya telah meningkatkan kesiapsiagaan personel dan sarana prasarana untuk mengantisipasi kemungkinan dampak cuaca ekstrem.
"Koordinasi lintas perangkat daerah terus dilakukan, termasuk dengan Dinas Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga, serta aparatur kewilayahan, guna memastikan sistem pengendalian banjir dan penanganan darurat berjalan optimal" ujar Isnawa dikutip dari dari Antara, Kamis (22/1/2026).
Isnawa menambahkan mengenai pentingnya langkah mitigasi mandiri, seperti menyiapkan payung atau jas hujan, tas siaga bencana, serta memantau perkembangan informasi cuaca dan tinggi muka air secara berkala melalui kanal resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
BPBD DKI Jakarta mengimbau, masyarakat untuk tetap waspada dan siaga, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan banjir.
(lsi)