LANGIT7.ID, Semarang -
Komunitas Almadhina sekolahkan anak-anak desa. Tujuannya agar kelak mereka bisa menjadi orang-orang yang mampu melindungi kawasan lindung di Indonesia.
Almadhina merupakan Asosiasi Lembaga Masyarakat Desa Hutan Indonesia. Awalnya hanya komunitas penjaga hutan di wilayah Jawa. Namun berjalannya waktu, mereka menggagas program sosial, yakni menyekolahkan anak-anak desa.
"Karena untuk mereka bisa menjaga hutan ke depannya, diperlukan SDM berkualitas. Sedangkan banyak dari mereka yang tidak bisa baca tulis," kata Ketua Umum Almadhina, Muhamad Abid, saat dikonfirmasi
Langit7.id belum lama ini.
Kelompok Almadhina tersebar di seluruh wilayah Jawa, kecuali DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Adib mengatakan, untuk di tingkat daerah, namanya LMDH, mulai dari provinsi, kabupaten kota dan kecamatan dan desa.
Untuk di 4 provinsi yakni Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, tercatat ada 5.334 LMDH. Komunitas ini sebetulnya fokus di bidang Agroforestry (Wana tani) dan wisata hutan. Namun program yang berjalan lebih dari itu.
Adib mengatakan, LMDH awalnya merupakan program Perum Perhutani yang menggandeng komunitas warga untuk melindungi dan melestarikan hutan dengan nama program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat atau PHBM.
Tapi komunitas yang dibentuk ini mulai melihat persoalan lain, yakni minimnya kualitas SDM atau warga di sekitar desa hutan. Karena itulah Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) memulai program untuk mendidik warga setempat.
"Saya dulunya Ketua LMDH Jateng, saat itu saya mendapati banyak sekali petani atau warga di sekitar hutan yang tak bisa baca tulis, lalu anak-anaknya putus sekolah," ujarnya.
"Bagaimana program yang kami sampaikan bisa dipraktikkan kalau mereka tak bisa membaca. Dari sana kami mulai untuk melakukan langkah awal, yakni mendidik mereka."
Adib kemudian membuat sebuah program yakni boarding school untuk anak-anak dan latihan baca tulis untuk orang dewasa. Mereka diajarkan materi-materi pendidikan umum di sekolah.
"Alhamdulillah, program ini berjalan. Untuk LMDH Jateng sudah memfasilitasi (belajar) 147.000 orang, termasuk anak-anak," ujar dia.
Orang-orang dewasa juga mengikuti paket A, B dan C bagi mereka yang belum mendapatkan ijazah sekolah. Kemudian sekarang ada puluhan orang melanjutkan program pendidikan tinggi.
"Ada 19 orang sudah lulus sarjana dan 20-an lagi masih kuliah," kata Adib.
Untuk biayanya, kata dia, sebagian besar berasal dari bantuan CSR perusahaan atau BUMN, meski ada beberapa donatur tetap. Kemudian mereka yang sudah lulus sekolah atau kuliah, akan diarahkan untuk mengabdi atau mengajarkan lagi warga sekitarnya.
"Sekarang saya di tingkat nasional, Almadhani, saya bawa program ketika di Jateng ini untuk diterapkan ke daerah-daerah lain agar SDM masyarakat desa hutan merupakan orang-orang berpendidikan," ujar pria asal Purwokerto ini.
(bal)