Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home masjid detail berita

Jejak Umar di Tanah Anbiya: Eskatologi Penaklukan Baitul Maqdis

miftah yusufpati Kamis, 29 Januari 2026 - 16:34 WIB
Jejak Umar di Tanah Anbiya: Eskatologi Penaklukan Baitul Maqdis
Kini, Baitul Maqdis tetap menjadi magnet perhatian dunia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dalam peta jalan eskatologi Islam, setiap pergolakan politik di tanah Syam sering kali dibaca melampaui sekadar konflik teritorial.

Penulis ‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam karyanya, Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra, menempatkan peristiwa jatuhnya Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin sebagai salah satu tonggak awal menuju akhir zaman.

Ini bukan sekadar penaklukan kota, melainkan sebuah penggenapan nubuat yang telah diikrarkan oleh lisan kenabian jauh sebelum pasukan berkuda menyentuh debu Palestina.

Laporan yang diterbitkan oleh Maktab Dakwah Rabwah ini menyitir sebuah hadits krusial dari Auf bin Malik radhiyallahu anhu. Dalam sebuah momen yang penuh dengan nuansa peringatan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ : فَتْحُ بيتِ المقدس

Artinya, hitunglah enam tanda menjelang datangnya hari kiamat, dan salah satunya adalah penaklukan Baitul Maqdis.

Kalimat ini terekam dalam Shahih Al-Bukhari, memberikan legitimasi bahwa perluasan wilayah Islam ke arah utara Jazirah bukan hanya soal ekspansi militer, melainkan sebuah urutan kronologis dalam jam kosmik Tuhan.

Interpretasi ‘Awadh bin ‘Ali membawa kita kembali ke tahun 16 Hijriyah, sebuah tahun yang menjadi catatan emas dalam kitab sejarah. Di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu, nubuat ini menemui realitasnya. Berbeda dengan penaklukan-penaklukan kota besar lainnya yang diwarnai pertumpahan darah hebat, Baitul Maqdis menyerahkan kuncinya dalam sebuah skenario yang dramatis sekaligus bersahaja. Umar sendiri yang datang langsung untuk menerima kunci kota tersebut dari Patriark Sophronius.

Langkah kaki Umar ke Al-Quds bukan sekadar urusan administrasi negara. Menurut para pakar sejarah yang dirujuk dalam naskah ‘Awadh bin ‘Ali, kedatangan Umar menandai era baru sterilisasi ideologis dan fisik.

Wilayah tersebut dibersihkan dari pengaruh-pengaruh yang sebelumnya mendominasi, sementara kebebasan beragama tetap dijamin melalui Perjanjian Aelia.

Di sana, Umar mendirikan masjid di arah kiblat Baitul Maqdis, sebuah tindakan simbolis yang mengukuhkan posisi kota tersebut sebagai pilar ketiga dalam geografi spiritual Islam setelah Mekkah dan Madinah.

Secara interpretatif, penaklukan ini berfungsi sebagai tanda kecil kiamat yang bersifat "sudah terjadi namun dampaknya berkelanjutan". Mengapa penaklukan sebuah kota menjadi tanda kiamat?

Dalam literatur ilmiah eskatologi, hal ini menunjukkan perpindahan pusat perhatian dunia ke arah tanah Syam. Baitul Maqdis adalah episentrum konflik dan kedamaian di akhir zaman. Dengan dikuasainya kota ini oleh umat Islam di masa Umar, pintu gerbang menuju rangkaian peristiwa akhir zaman lainnya—seperti munculnya berbagai fitnah dan nantinya tanda-tanda besar—secara resmi telah terbuka.

Fenomena ini juga menunjukkan ketajaman visi nubuat Nabi. Pada saat hadits tersebut diucapkan, Baitul Maqdis masih berada di bawah cengkeraman kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) yang sangat kuat. Mengatakan bahwa kota itu akan ditaklukkan adalah sebuah pernyataan yang melampaui logika militer zaman itu. Keberhasilan Umar merealisasikannya hanya berselang beberapa tahun setelah wafatnya Nabi mempertegas bahwa kiamat memang telah mendekat sejak risalah ini diturunkan.

Kini, Baitul Maqdis tetap menjadi magnet perhatian dunia. Bagi para pembaca eskatologi, setiap jengkal perubahan di tanah Palestina selalu dikaitkan dengan hadits Auf bin Malik ini.

‘Awadh bin ‘Ali mengingatkan bahwa penaklukan di masa Umar adalah fase pertama, sebuah pembuka jalan bagi peristiwa-peristiwa besar yang lebih dahsyat di masa depan. Baitul Maqdis bukan sekadar titik di peta, melainkan jarum jam yang terus berdetak menuju akhir sejarah.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)