LANGIT7.ID-Dalam lembaran sejarah agama-agama samawi, tradisi menahan lapar dan dahaga telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kaum Yahudi. Puasa bagi mereka bukan sekadar rutinitas, melainkan manifestasi dari duka mendalam, tobat, dan pengingat akan tragedi besar yang menimpa bangsa tersebut. Jejak ini bermula jauh sebelum masa kenabian Muhammad, mengakar pada figur sentral mereka, Musa Alaihissallam.
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar dalam kitabnya
Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, mencatat bahwa Musa Alaihissallam pernah menjalani puasa selama 40 hari. Laku ini menjadi teladan tinggi tentang bagaimana ketahanan fisik digunakan sebagai sarana mendekatkan diri pada otoritas ketuhanan. Bagi Bani Israil, jejak puasa sang nabi adalah pondasi spiritual yang mendasari praktik-praktik setelahnya.
Namun, dalam realitas sosial masyarakat Yahudi, puasa sering kali muncul dalam suasana hidad atau berkabung. Penahanan diri dari makanan menjadi bahasa tubuh untuk mengekspresikan kesedihan yang mendalam. Tak hanya saat kematian, mereka juga berpaling pada puasa ketika tubuh didera sakit atau saat ancaman bahaya mengintai. Di sini, puasa berfungsi sebagai permohonan komunal sekaligus individu agar perlindungan Tuhan segera turun.
Catatan sejarah kuno juga merekam bahwa orang-orang Yahudi memiliki periode puasa yang panjang, yakni selama beberapa minggu berturut-turut setiap tahunnya. Praktik kolektif ini dilakukan bukan tanpa alasan. Ia merupakan peringatan sejarah atas peristiwa memilukan: hancurnya kota Yerusalem. Rasa lapar yang dirasakan setiap tahunnya menjadi jembatan ingatan bagi generasi mereka atas kejayaan yang hilang dan kota suci yang luluh lantak.
Selain puasa sejarah tersebut, terdapat pula kewajiban puasa selama satu hari yang berfungsi sebagai kaffarat atau penebusan dosa. Sebuah momen di mana setiap jiwa dituntut untuk berkaca pada kesalahan masa lalu dan memohon ampunan. Hal ini mempertegas bahwa tradisi puasa sebelum datangnya ayat
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ memang telah menjadi bagian dari syariat umat-umat terdahulu dengan beragam motif dan cara.
Melacak puasa kaum Yahudi memberikan gambaran bahwa ibadah ini memiliki fungsi multidimensi: mulai dari instrumen tobat hingga alat pengikat memori kolektif sebuah bangsa. Ia membuktikan bahwa lapar adalah salah satu bentuk pengabdian paling tua yang dikenal manusia untuk mengakui kelemahan diri di hadapan Sang Pencipta.
(mif)