LANGIT7.ID-, Australia - Aksi protes yang dilakukan demonstran pro-Palestina di berbagai wilayah di Australia terus berlanjut hingga hari ini. Mereka menuntut Presiden Israel Isaac Herzog yang sedang berkunjung ke Australia, agar ditangkap atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan terhadap warga Palestina.
Di Melbourne, aksi turun ke jalan dilakukan bertepatan saat Herzog mengakhiri kunjungan empat harinya ke Australia. Sebelumnya, aksi demonstrasi besar-besaran terjadi di Canberra dan Sydney.
Ribuan orang turun ke jalan di Sidney pada awal pekan ini, bertepatan dengan kedatangan Herzog di Australia. Polisi anti huru-hara dikerahkan, bentrokan dan penutupan jalan terjadi di beberapa titik.
Para kritikus menuduh Herzog terlibat dalam agresi militer Israel di Gaza, merujuk pada temuan Komisi Penyelidikan PBB yang menuduh para pejabat Israel menghasut tindakan genosida. Namun tuduhan itu ditolak keras oleh Israel sebagai "skandal" dan palsu.
"Pesan kami kepada semua warga Australia sederhana: saatnya untuk berunjuk rasa sekarang," kata Jasmine Duff, salah satu koordinator Students for Palestine, yang mengorganisir unjuk rasa hari Kamis di dekat stasiun kereta api utama Melbourne, melansir
trtworld.com, Kamis (12/2/2026).
"Untuk semua warga Palestina yang telah terbunuh, untuk semua yang masih hidup tetapi kelaparan," tambahnya.
Baca juga: MUI Desak Presiden Prabowo Tarik Indonesia dari Board of Peace Karena Dinilai Abaikan PalestinaAksi protes lainnya dituangkan dalam bentuk Grafiti yang ditemukan di Universitas Melbourne, berupa seruan kematian Herzog, yang telah diserahkan ke polisi. Pihak berwenang mengatakan tidak ada bukti yang menghubungkannya dengan protes yang direncanakan.
Herzog, mengatakan Australia sedang mengalami tingkat anti-Semitisme yang "mengerikan", tetapi menekankan bahwa sebagian besar warga Australia menginginkan perdamaian dan dialog. Ia menolak tuduhan genosida sebagai "kebohongan."
Ketegangan memuncak di Sydney pada hari Senin ketika bentrokan antara polisi dan demonstran menyebabkan 27 penangkapan.
Petugas menggunakan gas air mata dan semprotan merica untuk membubarkan kerumunan di distrik bisnis pusat setelah kedua pihak saling menuduh melakukan penyerangan.
Aksi protes tersebut menggarisbawahi dampak polarisasi perang Gaza yang meluas jauh melampaui Timur Tengah, dengan Australia kini menghadapi pertanggungjawabannya sendiri atas kebebasan berbicara, ketertiban umum, dan meningkatnya ketegangan antar masyarakat. (*/lsi/trtworld)
Baca juga: Dino Patti Djalal Menilai Prabowo Realistis Bergabung di Board of Peace(lsi)