LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menerima audiensi keluarga almarhum R. Soetedjo di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta. Pertemuan tersebut membahas kontribusi R. Soetedjo dalam sejarah musik nasional serta rencana pengembangan museum di Gedung Kesenian R. Soetedjo, Purwokerto.
Dalam kesempatan tersebut, Ario Prakoso, cucu R. Soetedjo, menyampaikan bahwa kehadiran keluarga bertujuan untuk memperkenalkan kembali kiprah almarhum sebagai salah satu pelopor musik dan orkestra di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa sejumlah karya R. Soetedjo, seperti “Tidurlah Intan” dan “Di Tepinya Sungai Serayu”, masih dikenal masyarakat.
“Kami ingin memperkenalkan kembali R. Soetedjo sebagai salah satu pelopor musik Indonesia. Banyak yang mengenal lagunya, tetapi belum tentu mengetahui peran dan kontribusinya dalam sejarah musik nasional,” ujar Ario dalam keterangan resmi, Sabtu (21/2/2026).
Hadir dalam audiensi, Artika, cucu R. Soetedjo, turut memaparkan hasil penelusuran keluarga terhadap riwayat dan dokumentasi almarhum. Ia menjelaskan bahwa R. Soetedjo pernah memimpin Orkes Studio Jakarta pada periode awal berdirinya serta memiliki kontribusi penting dalam perkembangan musik orkestra nasional. Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, keluarga berhasil mengumpulkan sejumlah dokumen pendukung, termasuk arsip pendidikan, riwayat karier, dan publikasi terkait karya-karya beliau. “Saat ini kami telah mengumpulkan dokumen dan referensi yang dapat memperkuat pendokumentasian sejarah beliau,” jelas Artika.
Disamping itu, keluarga juga mengusulkan pengembangan Gedung Kesenian R. Soetedjo di Purwokerto sebagai ruang dokumentasi dan edukasi seni, termasuk pembentukan museum yang memuat arsip dan karya R. Soetedjo serta seniman lokal lainnya. Menurut keluarga, fasilitas gedung telah tersedia dan berada dalam pembinaan pemerintah daerah, sehingga berpotensi dikembangkan menjadi pusat literasi dan apresiasi musik.
“Kelak, museum ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata juga di Purwokerto. Gedungnya sudah ada, namun kosong dan belum berfungsi maksimal. Kalau bisa dihidupkan seperti Lokananta, tentu akan memberi dampak yang baik bagi masyarakat,” ujar Artika.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menyampaikan apresiasi atas inisiatif keluarga dalam mendokumentasikan dan merawat warisan budaya R. Soetedjo. Ia menilai kontribusi R. Soetedjo dalam pendirian dan kepemimpinan Orkes Studio Jakarta merupakan bagian penting dalam sejarah perkembangan musik Indonesia.
“Saya mengapresiasi upaya keluarga yang telah menelusuri dan melengkapi data-data sejarah beliau. Ini penting sebagai bagian dari dokumentasi sejarah musik nasional. Terkait rencana museum di Purwokerto, silakan diajukan secara resmi agar dapat kita tindak lanjuti sesuai mekanisme yang berlaku,” ujar Menteri Kebudayaan.
Raden Soetedja Poerwodibroto atau R. Soetedjo merupakan komponis dan musikus asal Banyumas, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai salah satu perintis perkembangan musik modern Indonesia pada era awal kemerdekaan. Ia tercatat pernah berkiprah di lingkungan Radio Republik Indonesia (RRI), baik di Purwokerto maupun Jakarta, serta memimpin Orkes Studio Jakarta pada masanya. Sejumlah karyanya, antara lain “Di Tepinya Sungai Serayu”, menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat dan identitas kultural daerah. Meskipun sebagian arsip karyanya dilaporkan hilang akibat kebakaran di RRI Jakarta, kontribusi R. Soetedja tetap dikenang melalui karya yang terdokumentasi dan berbagai upaya pelestarian musik nasional.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan, Anindita Kusuma Listya; Staf Khusus Menteri Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Anissa Rengganis; Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Judi Wahjudin; Direktur Film, Musik, dan Seni, Syaifullah; serta keluarga almarhum R. Soetedjo.
Audiensi ini menjadi langkah awal koordinasi antara keluarga almarhum R. Soetedjo dan Kementerian Kebudayaan dalam upaya memperkuat pelestarian dan pendokumentasian sejarah musik nasional. Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk mendukung inisiatif pelestarian warisan budaya yang berbasis data, kolaboratif, dan berkelanjutan, termasuk melalui penguatan peran pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat.
(lam)