LANGIT7.ID, Jakarta - - Menulis surat wasiat disunnahkan bagi setiap muslim, baik dalam keadaan sakit ataupun sehat. Terlebih jika seseorang sudah mengalami tanda-tanda akan meninggal, maka dianjurkan untuk menuliskan wasiat.
Sebab pada hakikatnya Allah-lah yang mengetahui sesuatu yang ghaib. Manusia tidak tahu dan tidak diberitahu, sebagaimana Allah firmankan dalam surat al-Jin ayat 26:
عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِۦٓ أَحَدًا
Latin: 'ālimul-gaibi fa lā yuẓ-hiru 'alā gaibihī aḥadā.
Arti: (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.
Adapun di antara dalil tentang menuliskan wasiat adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Tidaklah pantas bagi seorang muslim, ketika ia memiliki sesuatu yang ingin ia wasiatkan, dengan melewatkan dua malam, kecuali wasiat itu sudah tertulis di sisinya.” (HR. Bukhari nomor 2783, dan Muslim nomor 1626).
Baca juga:
Kesadaran Kesehatan Mental di Indonesia Cukup Baik tapi Penanganannya Belum MerataPenyebutan dua malam pada hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma di atas bukanlah sebagai batasan, melainkan hanya sebagai anjuran agar ia tidak melewati waktu yang masih dimiliki kecuali ia telah menuliskan apa yang ingin ia wasiatkan, karena ia tidak tahu kapan ajalnya akan tiba.
Ini merupakan sunnah yang umum bagi seluruh manusia. Adapun wasiat yang berkaitan dengan hak Allah, misalnya seperti zakat, haji, kafarah, atau hak manusia lain, seperti hutang dan menunaikan amanat, maka hukumnya tidak lagi sunnah, melainkan wajib. Sebab hal-hal tersebut terkait dengan pelaksanaan hak yang diwajibkan, apalagi jika tidak seorang pun mengetahui tentang hak-hak tersebut kecuali dirinya.
Sebagaimana kaidah dalam ushul fiqih dikatakan, “ma la yatimmul-wajib illa bihi fa huwa wajib (perkara yang menjadi penyempurna suatu kewajiban, hukumnya juga menjadi wajib)”. Menuliskan wasiat juga memiliki faidah (manfaat), di antaranya jika tidak kesampaian mengerjakan sesuatu yang dituliskan dapat diteruskan atau dilakukan oleh keluarganya, sehingga amalan tersebut Insya Allah akan terus mengalir pahalanya. (Dikutip dari berbagai sumber)
Baca juga:
Jangan Panik, Begini Cara Deteksi dan Cegah Hipoglikemia(asf)