LANGIT7.ID, - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggelar International Conference Heritage of Toba: Natural & Cultural Diversity yang dilangsungkan secara hybrid di TB Silalahi Center, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.
Konferensi internasional ini merupakan kolaborasi antara Kemenparekraf dengan Kompas untuk menggali penguatan produk wisata di Danau Toba agar bertaraf internasional. Sehingga, Danau Toba sebagai destinasi super prioritas dan juga bagian dari UNESCO Geopark Global yang telah ditetapkan pada 2 Juli 2020 dapat semakin mendunia.
"Untuk menjaga keberlanjutannya dan melestarikan aset dunia, Toba perlu menyatukan visi, berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan, sehingga dapat memberikan dampak positif ekonomi, lingkungan, dan kesejahteraan bagi masyarakat dengan program yang tepat manfaat, tepat sasaran, dan tepat waktu," kata Menparekraf Sandiaga Uno dalam sambutannya secara daring, Rabu (13/10).
Baca juga:
Izin Pembangunan Hotel Bintang 4-5 di Labuan Bajo Ditutup 2022Konferensi internasional Heritage of Toba menghadirkan berbagai pembicara yang terbagi ke dalam dua sesi. Pada sesi pertama diisi oleh Ahli Geologi ITB, Indyo Pratomo; Ahli Ekowisata, Prof. Harini Muntasib; dan Aktivis Lingkungan, Annette Horschmann.
Sementara pada sesi kedua diisi oleh Fashion Desaigner, Athan Siahaan; Praktisi Kuliner Indonesia, Santhi Seraf; Ahli Budaya Batak Universitas Hawaii AS, Prof. Uli Kozok; dan Musisi, Viky Sianipar.
Sandiaga berharap melalui ajang konferensi internasional tersebut dapat menciptakan inovasi dan terobosan baru dalam pengembangan destinasi super prioritas Danau Toba sebagai destinasi pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan lingkungan.
"Untuk itu, kita harus ‘gercep’ gerak cepat, ‘geber’ gerak bersama, dan ‘gaspol’ garap semua potensi agar lapangan kerja terbuka seluas-luasnya," jelasnya.
Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf, Rizki Handayani, menjelaskan konferensi internasional ini dilakukan untuk mendiskusikan dan mencari berbagai solusi bagaimana mempertahankan dan menguatkan produk wisata yang ada di Toba.
"Tentunya dengan mengedepankan kearifan lokal dan pelestarian lingkungan, sehingga wisatawan tidak hanya datang untuk berwisata tapi juga memberikan kontribusi dalam pemanfaatan lingkungan, berkontribusi terhadap pengembangan, dan konservasi budaya," ujar Rizki.
Baca juga:
Sandiaga Beri Pendampingan Penerapan CHSE di Desa Wisata SumberbuluAgar segmentasinya lebih jelas, Rizki menyebut Kemenparekraf sudah membuat travel pattern atau jalur wisata tematik. Hal ini ditujukan bagi wisatawan yang datang hanya ingin berkunjung ke Danau Toba atau bermalam sehari-dua hari.
"Wisatawan saat ini membutuhkan experience ketika berkunjung. Untuk itu, diharapkan biro perjalanan juga dapat membuat paket-paket wisata tematik in," katanya.
Pelaksanaan konferensi internasional Heritage of Toba dilakukan dengan penerapan CHSE MICE yang ketat agar dapat memberikan keamanan dan kenyamanan melakukan kegiatan MICE pada masa pandemi.
Kegiatan ini beradaptasi dengan tatanan kenormalan baru dengan cara menerapkan panduan CHSE MICE dalam pelaksanaannya, juga berinovasi dengan memanfaatkan teknologi untuk pelaksanaan kegiatan secara hybrid dan menggunakan venue outdoor, serta berkolaborasi dengan seluruh pihak untuk berlangsungnya kegiatan secara sukses, aman, dan nyaman.
(sof)