LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pengembangan pesantren bertaraf internasional harus diikuti dengan penguatan kemampuan bahasa asing serta penerapan kurikulum global. Hal ini disampaikan Menag saat menerima Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath di Masjid Istiqlal, Jumat (13/3/2026).
Menurut Menag, pesantren modern tidak cukup hanya mengandalkan kurikulum keagamaan konvensional. Pesantren perlu mengintegrasikan penguasaan bahasa internasional serta kurikulum global agar santri mampu bersaing di tingkat dunia.
“Pesantren modern harus menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris. Tidak cukup hanya bahasa Arab saja. Sekarang juga perlu didukung dengan kurikulum internasional seperti Cambridge,” ujar Menag dalam keterangan resmi.
Ia menjelaskan, penguatan bahasa asing perlu diberikan sejak dini kepada para santri, bahkan sebelum mereka memasuki pembelajaran bahasa Arab secara intensif. “Anak-anak yang baru masuk itu lidahnya masih lentur. Karena itu, penguatan pelafalan bahasa Inggris perlu diberikan lebih dahulu agar mereka terbiasa dengan pengucapan yang benar,” jelasnya.
Menag menambahkan, pendekatan ini akan membantu santri memiliki kemampuan komunikasi global tanpa meninggalkan identitas keislaman dan tradisi pesantren.
Dengan model pendidikan tersebut, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu keislaman, tetapi juga memiliki kompetensi global di bidang bahasa, pengetahuan, dan jejaring internasional.
“Pesantren ke depan harus tampil sebagai lembaga pendidikan yang kuat secara keilmuan Islam sekaligus terbuka terhadap perkembangan dunia,” pungkas Menag.
Menurut Abdullah Vanath, rencana pembangunan pesantren tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan keagamaan di Maluku dengan tetap menjaga keseimbangan pembangunan antarumat beragama.
“Di Maluku, setiap pembangunan, baik di sektor pendidikan, kesenian, maupun bidang lainnya, harus menjaga keseimbangan. Kalau kita membangun pendidikan untuk umat Islam, maka pendidikan untuk non-Islam juga harus diperhatikan,” ujar Abdullah Vanath.
Ia menjelaskan bahwa lembaga pendidikan tersebut nantinya akan dikelola melalui sebuah yayasan yang tidak hanya mengembangkan pendidikan bagi umat Islam, tetapi juga memperhatikan pengembangan pendidikan bagi umat Kristen.
“Karena itu kami akan membangun dalam satu yayasan yang tidak hanya membangun pendidikan untuk Muslim, tetapi juga untuk Kristen. Prinsip keseimbangan ini memang menjadi rumusan kepemimpinan di Maluku,” jelasnya.
Selain pembangunan pesantren internasional, Vanath juga menyampaikan rencana pembentukan grup orkestra lintas agama yang melibatkan generasi muda dari berbagai lembaga pendidikan.
Rencana ini, kata dia, terinspirasi dari pengalaman Menag Nasaruddin Umar yang memiliki pesantren di Bone, Sulawesi Selatan, dengan grup musik orkestra.
“Maluku sebenarnya punya potensi besar di bidang musik religi. Bahkan kemarin Maluku meraih juara umum kedua pada lomba kasidah nasional. Namun tantangannya adalah minat generasi muda terhadap lagu-lagu kasidah mulai menurun,” ungkapnya.
Karena itu, pihaknya berencana melakukan inovasi dengan memadukan musik kasidah dengan aransemen modern melalui pembentukan orkestra.
“Kami ingin mendorong sedikit modernisasi agar generasi muda tertarik. Nantinya kami akan merekrut anggota orkestra dari Madrasah Tsanawiyah kelas 3, Madrasah Aliyah kelas 1, serta siswa SMA dan SMK kelas 1,” terang Abdullah Vanath.
Menariknya, lanjut dia, orkestra tersebut akan melibatkan peserta dari berbagai latar belakang agama.
“Pesertanya nanti kolaborasi Islam dan non-Islam. Karena prinsip keseimbangan itu kami jaga di setiap program pembangunan,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Vanath juga melaporkan perkembangan rencana pembangunan pesantren internasional yang akan berlokasi di Pulau Ambon. Menag Nasaruddin Umar, kata dia, memberikan arahan agar pembangunan lembaga pendidikan tersebut didukung dengan ketersediaan lahan yang memadai.
“Tadi beliau memberi pesan agar kami menyiapkan lahan minimal 10 hektare. Rencananya lokasi yang kami siapkan berada di Pulau Ambon, namun berada di kawasan hutan sehingga membutuhkan akses jalan,” jelasnya.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Maluku berencana berkoordinasi dengan Balai Jalan dan Jembatan serta Kementerian Pekerjaan Umum agar pembangunan akses jalan menuju lokasi pesantren dapat masuk dalam perencanaan pembangunan infrastruktur.
“Kami juga berharap dukungan dari Pak Menteri agar rencana ini dapat disampaikan kepada Kementerian PUPR sehingga akses jalan menuju lokasi pesantren dapat masuk dalam perencanaan pembangunan,” tandas Vanath.
Rencana pembangunan pesantren internasional dan orkestra lintas agama tersebut diharapkan dapat menjadi ruang penguatan pendidikan, seni, sekaligus memperkuat nilai kerukunan antarumat beragama di Maluku.
(lam)