LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melakukan rangkaian kunjungan kerja di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat dengan meninjau Gedung Perundingan Linggarjati dan Gedung Sjahrir, serta sarasehan budaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian Kebudayaan dalam memperkuat ekosistem budaya di Kabupaten Kuningan.
Museum Gedung Perundingan Linggarjati yang berlokasi di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, merupakan saksi sejarah langkah strategis pemerintah Indonesia pada 1946, salah satu fase penting dalam diplomasi awal Republik Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan. Peristiwa ini adalah upaya dalam menghadapi Belanda yang akan kembali menguasai wilayah Indonesia pasca penjajahan Jepang. Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir berhadapan dengan delegasi Belanda di bawah pimpinan Schermerhorn dan Van Mook, dengan mediasi dari Lord Killearn dari Inggris.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa meskipun hasil perundingan saat itu menuai pro dan kontra karena wilayah kedaulatan Indonesia hanya mencakup Jawa, Sumatera, dan Madura, langkah tersebut dipandang sebagai strategi taktis yang krusial dalam memperoleh pengakuan internasional. “Pemikiran para founding fathers saat itu adalah mengamankan apa yang bisa diperoleh terlebih dahulu sebagai pijakan hukum internasional, sembari terus mengupayakan pemulihan wilayah secara bertahap,” ungkap Menteri Kebudayaan dalam keterangan resmi, Sabtu (4/4/2026).
Menteri Kebudayaan juga menekankan pentingnya modernisasi tata pamer museum ini agar lebih relevan dengan perkembangan zaman, khususnya bagi generasi muda. “Kita perlu memperkuat sentuhan digital, seperti penggunaan rekaman arsip asli, animasi jalannya perundingan, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk menghidupkan foto-foto lama. Dengan pendekatan ini, sejarah tidak hanya dipahami, tetapi juga dapat dirasakan secara lebih imersif,” ujar Menteri Kebudayaan.
Di kawasan Linggarjati juga terdapat Gedung Sjahrir yang juga memiliki nilai historis sebagai bagian dari rangkaian Perundingan Linggarjati. “Rumah ini sangat bersejarah karena menjadi tempat beristirahat di sela-sela perundingan. Sutan Sjahrir tinggal di sini, begitu juga Presiden Soekarno yang hadir berkunjung. Tempat ini menjadi saksi interaksi antara delegasi Indonesia, perunding Belanda seperti Van Mook, mediator Lord Killearn, hingga para jurnalis internasional yang mengabadikan momen bersejarah tersebut,” jelas Menbud.
Sebagai bagian rangkaian kunjungan, Menteri Kebudayaan turut bersilaturahmi dengan seniman dan budayawan se-Ciayumajakuning yang berasal dari berbagai bidang, antara lain film, seni pertunjukan, musik, dan sastra. Pertemuan berlangsung hangat dan menjadi ruang dialog antara pemerintah dan pelaku budaya.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa kebudayaan memiliki posisi strategis sebagai fondasi bagi pengembangan ekonomi kreatif. “Kebudayaan berada di sektor hulu, sementara ekonomi kreatif berada di sektor hilir. Fondasi industri kreatif adalah budaya. Karena itu, kita tidak hanya bertugas melindungi dan melestarikan, tetapi juga memastikan kebudayaan dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi,” tegas Menbud.
Menbud juga menambahkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa keragaman budaya yang sangat besar atau yang disebutnya sebagai megadiversity, yang dapat menjadi sumber daya strategis dalam pengembangan industri budaya dan industri kreatif atau cultural and creative industries.
Rangkaian kunjungan budaya Menteri Kebudayaan di Kabupaten Kuningan juga dihadiri oleh Anggota Komisi XII DPR RI, Rokhmat Ardiyan, Staf Ahli/Tenaga Ahli Profesional Kantor Staf Presiden, Ade Kadarisman; Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, George Edwin Sugiharto; serta jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan. Turut hadir mendampingi Menteri Kebudayaan antara lain Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda; Direktur Sejarah dan Permuseuman, Agus Mulyana; serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, Retno Raswaty.
Rangkaian kunjungan budaya ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan upaya peningkatan kualitas pengelolaan cagar budaya sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pelaku budaya dalam memajukan kebudayaan nasional.
