LANGIT7.ID- Sebuah pertanyaan retoris sering kali muncul di tengah keriuhan konflik Timur Tengah: jika bangsa Arab dan Yahudi sama-sama menarik garis silsilahnya kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam, mengapa harmoni di tanah Palestina tampak seperti fatamorgana yang kian menjauh? Secara biologis, mereka memang berbagi moyang yang sama. Namun, dalam kacamata ideologi dan kenyataan lapangan, jarak di antara keduanya bukan lagi sekadar persoalan garis keturunan, melainkan jurang pemisah yang dalam.
Akar masalah pertama terletak pada penyimpangan teologis. Nabi Ibrahim adalah sosok ahli tauhid yang lurus. Sementara itu, kaum Yahudi dalam lintasan sejarahnya dicatat telah menyimpang jauh dari ajaran tersebut. Mereka mengklaim Uzair sebagai anak Allah, melontarkan kata-kata nista bahwa Allah kikir, hingga melakukan tindakan keji membunuh para nabi. Perbedaan fundamental dalam memandang Sang Pencipta ini menghapus kemungkinan adanya persaudaraan hakiki antara seorang mukmin ahli tauhid dengan mereka yang melakukan kesyirikan.
Al-Quran dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 4-6 memberikan prototipe yang jelas melalui lisan Ibrahim sendiri. Ia menyatakan berlepas diri dari kaumnya yang menyembah selain Allah. Prinsip *bara'* atau berlepas diri ini menegaskan bahwa selama kekufuran dan permusuhan terhadap tauhid itu ada, maka kebencian dan permusuhan akan terus nampak hingga mereka beriman kepada Allah semata.
Namun, persoalan ini tidak berhenti di wilayah langit. Di bumi, realitas penindasan menjadi penghalang fisik yang tak kalah keras. Sulit membayangkan hidup harmonis dengan pihak yang datang sebagai perampok dan perampas. Sejarah mencatat bagaimana Yahudi Zionis menghancurkan rumah-rumah, merampas tanah, memenjarakan anak-anak, hingga laporan mengenai kekejian terhadap tawanan. Bagaimana mungkin perdamaian dijalin dengan pihak yang secara konsisten mempertontonkan watak penipu dan pengkhianat perjanjian?
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memperingatkan karakter ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 100:
اَوَلُكُلَّمَا عٰهَدُوْا عَهْدًا نَّبَذَهٗ فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ ۗ بَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَArtinya:
"Dan setiap kali mereka membuat janji, maka sekelompok dari mereka melemparkan perjanjian itu, bahkan sebagian besar mereka tidak beriman."Secara sosiopolitik, prinsip Islam menegaskan bahwa di negeri kaum muslimin, hukum Islam haruslah yang tertinggi. Syarat hidup bersama bagi Ahli Kitab adalah ketundukan pada aturan *ahlu dzimmah* yang menjamin perlindungan, asalkan mereka tidak menyebarkan kemusyrikan di tengah umat. Namun, realitas hari ini justru sebaliknya; kaum musliminlah yang diusir, dicabut hak miliknya, dan dipaksa mendekam di kamp-kamp pengungsi.
Kelemahan kaum muslimin saat ini memang membuat mereka tampak hina dan tak berdaya untuk mengambil kembali haknya. Namun, kondisi ini diyakini tidak akan abadi. Sebuah nubuat yang disampaikan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadis shahih riwayat Bukhari dan Muslim memberikan janji masa depan: sebuah pertempuran akhir zaman di mana alam semesta—batu dan pohon—akan ikut bersaksi menunjukkan persembunyian mereka.
Pada akhirnya, konflik di Palestina bukan sekadar masalah kemanusiaan atau perebutan lahan, melainkan ujian keteguhan akidah. Persaudaraan biologis tak lagi bermakna ketika salah satu pihak memilih jalan pengkhianatan terhadap Rabb dan sesama manusia. Harapan akan kedamaian hanya mungkin tegak jika keadilan dan ketauhidan kembali menjadi fondasi di atas tanah para nabi tersebut.
(mif)