LANGIT7.ID-Sejarah panjang kaum Yahudi tidak pernah lepas dari catatan tentang kecerdikan yang disalahgunakan. Dalam panggung peradaban, mereka sering kali tampil sebagai bangsa yang memiliki akses awal terhadap wahyu, namun justru di tangan merekalah wahyu kerap mengalami domestikasi kepentingan. Salah satu sifat yang paling konsisten melekat, sebagaimana digambarkan dalam teks-teks otoritatif Islam, adalah kegemaran mereka dalam menyembunyikan kebenaran dan mengubur ilmu pengetahuan yang tidak sejalan dengan syahwat politik maupun ekonomi mereka.
Dalam kitab
Al-Mujaz Fil Adyan Wal Madzahib Al-Mu’ashirah, DR. Nashir bin Abdullah Al-Qifari dan DR. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql menguraikan secara tajam bagaimana tabiat ini bukan sekadar kekhilafan sejarah, melainkan bagian dari karakter sistemik. Yahudi digambarkan sebagai bangsa yang rusak dan pembuat makar, sebuah penilaian yang didasarkan pada rekam jejak mereka dalam menyikapi perintah-perintah Tuhan. Salah satu manifestasi kerusakan tersebut adalah keberanian mereka menyembunyikan wahyu yang seharusnya menjadi kompas bagi umat manusia.
Karakteristik ini direkam dengan sangat presisi dalam Al-Quran. Dalam Surah Ali Imran ayat 71, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan teguran keras yang berbunyi:
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan antara yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui. Ayat ini bukan sekadar kritik historis, melainkan pembongkaran atas sebuah metodologi makar intelektual. Kaum Yahudi tidak hanya diam, tetapi secara aktif mengonstruksi narasi baru yang mencampurkan serpihan kebenaran dengan tumpukan kebatilan sehingga masyarakat awam kehilangan kemampuan untuk membedakan keduanya.
Sifat menyembunyikan ilmu ini bermuara pada satu tujuan: mempertahankan dominasi dan status quo. Ketika sebuah kebenaran—seperti nubuat tentang kedatangan nabi terakhir atau hukum-hukum Allah yang dianggap memberatkan kepentingan materi mereka—muncul ke permukaan, mereka tidak segan untuk menghapusnya dari peredaran atau mengubah maknanya melalui interpretasi yang menyimpang. Mereka tidak merasa takut untuk mengingkari wahyu selama pengingkaran tersebut dapat mengamankan tujuan-tujuan jelek mereka.
Bagi para ulama, fenomena menyembunyikan ilmu ini adalah bentuk pengkhianatan terbesar terhadap martabat kemanusiaan. Ilmu yang seharusnya berfungsi sebagai cahaya bagi publik, di tangan mereka menjadi komoditas yang dipilah dan dipilih. Hal ini selaras dengan analisis Adi Abdul Jabbar yang menekankan bahwa akhlak ini diambil langsung dari pengamatan Kitab Allah yang Maha Mengetahui tentang seluk-beluk hati mereka. Tindakan menyembunyikan kebenaran ini menunjukkan bahwa bagi mereka, kebenaran bersifat relatif dan hanya boleh ada jika menguntungkan pihak mereka.
Dalam konteks modern, sifat menyembunyikan kebenaran ini sering kali bermutasi menjadi operasi propaganda dan disinformasi. Kemampuan mereka dalam menguasai kanal-kanal informasi digunakan untuk membungkus agenda-agenda zionisme dengan narasi-narasi kemanusiaan yang semu. Apa yang kita saksikan hari ini di tanah Palestina, di mana fakta-fakta sejarah dikubur dan narasi palsu diproduksi secara masal, merupakan kelanjutan dari sifat purba yang telah diperingatkan oleh wahyu ribuan tahun silam.
Menyikapi hal ini, kaum muslimin dituntut untuk memiliki kewaspadaan intelektual yang tinggi. Memahami sifat-sifat Yahudi bukan bertujuan untuk menebar kebencian buta, melainkan untuk membangun perisai agar tidak terjebak dalam makar yang sama. Kemenangan atas kebatilan hanya bisa dicapai jika kebenaran diungkap seluas-luasnya dan ilmu disebarkan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang tidak pernah berbicara berdasarkan hawa nafsu, umatnya pun harus berpegang teguh pada kejujuran ilmiah dan keberanian dalam menyuarakan yang hak, meskipun pahit dan harus berhadapan dengan tembok-tembok kedustaan yang dibangun oleh para pembuat makar.
Pada akhirnya, sejarah akan selalu membuktikan bahwa bangunan yang didirikan di atas pondasi kebohongan dan penyembunyian ilmu akan runtuh pada waktunya. Wahyu telah memberikan peta tentang siapa saja yang dimurkai Allah karena kesengajaan mereka dalam menyesatkan manusia. Di balik jubah-jubah keilmuan dan klaim-klaim sejarah yang mereka bangun, tersembunyi sebuah ketakutan besar akan munculnya kebenaran sejati yang selama ini mereka upayakan untuk mati-matian dikubur.
(mif)