LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah lewat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berencana menyuntikkan dosis ketiga
vaksin Covid-19 kepada para tenaga kesehatan (nakes). Langkha tersebut ditanggapi positif ahli vaksin dan diyakini dapat memberikan perlindungan maksimal kepada nakes di tengah lonjakan kasus akibat varian Delta.
Penyuntikan
booster terhadap nakes menggunakan vaksin buatan Amerika Serikat (AS) Moderna sedianya bakal dilakukan pada pekan ini. Sebagai informasi, para nakes di Tanah Air sejatinya telah menerima dua dosis vaksin Sinovac buatan China sejak Januari 2021.
Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca-Vaksinasi (Komnas KIPI) Hindra Irawan mengatakan, metode menggabungkan vaksin dengan platform berbeda sejatinya juga dilakukan sejumlah negara lain. Menurutnya, langkah tersebut memiliki potensi memberikan daya lindung lebih baik.
Dia mencontohkan, sebuah studi di
Inggris menunjukkan penggabungan antara vaksin Pfizer yang dikembangkan dengan metode mRNA dan AstraZeneca yang dikembangkan dengan metode Adenovirus ternyata memberi perlindungan yang baik bagi tubuh. Vaksin dengan metode mRNA bekerja dengan cara memancing sel tubuh untuk membuat protein dari virus corona. Protein tersebutlah yang memicu respons imun dan membentuk antibodi.
Sementara, Uni Emirat Arab justru menyuntikkan dua
dosis vaksin Sinopharm kepada penduduknya dan kini menawarkan penyuntikan
booster menggunakan vaksin Pfizer. "Penelitian di UK (Inggris) dan UEA itu menunjukkan penggabungan dua jenis vaksin ada daya lindungnya,” kata Hindra dikutip dari
Anadolu Agency, Rabu (14/7/2021).
Vaksin Sinopharm, yang juga merupakan vaksin buatan China dikembangkan dengan metode inaktivasi virus, sama seperti vaksin Sinovac. Vaksin dengan metode inaktivasi dikembangkan dari virus yang telah dimatikan, kemudian disuntikkan kepada tubuh dan membantu membentuk antibodi terhadap virus korona.
Meski demikian, Hindra menuturkan belum ada studi yang secara spesifik menggabungkan dua dosis vaksin Sinovac dengan satu dosis vaksin Moderna. Vaksin
Moderna sendiri dikembangkan dengan platform mRNA seperti Pfizer.
Hindra yang juga anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI) melanjutkan, rekomendasi ITAGI salah satunya mengacu pada praktik yang dilakukan di UEA dengan menggabungkan vaksin jenis inaktivasi dengan vaksin jenis mRNA. Penyuntikan
booster dengan platform vaksin yang berbeda, kata dia, diharapkan dapat memperkuat antibodi nakes terhadap Covid-19.
"Jadi ini serupa tapi tidak sama seperti Uni Emirat Arab. Sinopharm dan Sinovac sama-sama menggunakan platform inaktivasi kami anggap sama, Moderna dan Pfizer menggunakan platform mRNA dianggap sama," ungkapnya.
Dia melanjutkan hal ini bukan berarti
Sinovac tidak memberi perlindungan sama sekali. Namun, para nakes membutuhkan perlindungan lebih dan ganda karena berhadapan dengan risiko penularan yang sangat tinggi di tengah lonjakan kasus.
"Ini bukan berarti penyuntikan dua dosis Sinovac sebelum tidak berarti, tetap memberi perlindungan," ujarnya.
(asf)