Langit7, Jakarta - Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), pada Agustus 2021 menyebutkan, aktivitas manusia telah meningkatkan pemanasan atmosfer, lautan, dan daratan. Secara keseluruhan, termasuk di antaranya kriosfer dan biosfer mengalami perubahan yang luas dan cepat.
Selain itu, beberapa peristiwa akibat perubahan cuaca ekstrem ini juga mengakibatkan berbagai kondisi yang tidak baik di berbagai negara.
Seperti badai musim dingin di negara bagian Texas, suhu hampir 50 derajat celcius di pantai barat Amerika Utara, hujan lebat di Eropa Barat dan Cina. Juga Taiwan yang mengalami kekeringan terburuk dalam lebih dari 50 tahun terakhir.
Baca juga: BMKG Peringatkan La Nina Picu Hujan Deras sekitar November-FebruariMenteri Perlindungan Lingkungan Republic of China (Taiwan), Chang Tzi-chin mengatakan, peristiwa cuaca ekstrem yang menantang seluruh dunia saat ini, membuat PBB menyerukan kepada seluruh negara untuk menerapkan Perjanjian Paris dan mengambil langkah yang lebih proaktif.
"Sebagai anggota komunitas internasional yang bertanggung jawab, Taiwan berusaha keras untuk berintegrasi dengan upaya global untuk mengurangi perubahan iklim," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Ia juga menyebutkan, Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen menyerukan untuk mewujudkan emisi nol-bersih pada tahun 2050 sebagai bagian dari tujuan dunia, termasuk Taiwan.
Mekanisme pengelolaan dan sistem insentif yang lebih banyak dan kuat akan diperkenalkan. Termasuk dengan amandemen penting lainnya untuk meningkatkan efisiensi tata kelola, memperkenalkan mekanisme penetapan harga karbon, dan mengadaptasi strategi untuk perubahan iklim.
Baca juga: Wacana Penamaan Jalan Ataturk di Jakarta, PBNU: Lebih Bijaksana Nama Tokoh BetawiLangkah tersebut, lanjut dia, bertujuan untuk mendorong investasi swasta dalam penelitian dan pengembangan. Serta partisipasi publik dalam pembangunan berkelanjutan Taiwan.
"Taiwan menetapkan target pengurangan jangka panjang dan merencanakan jalur praktis untuk mencapai emisi nol-bersih 2050," jelasnya.
Untuk itu, sehubungan dengan kebijakan energi dan industri, penanda jangka pendek, menengah, dan panjang untuk tahun 2030, 2040, dan 2050 akan ditetapkan pada jalur menuju emisi nol-bersih.
Selain itu, Kementerian Perlindungan Lingkungan (EPA) bersama kementerian lain dan lembaga terkait lainnya telah meluncurkan konsultasi publik tentang visi 2050. Hal itu dilakukan untuk memfasilitasi dialog sosial tentang isu kritis seperti penyerap karbon pertanian dan kehutanan, bangunan nol-bersih, transportasi hijau, industri rendah karbon, instrumen ekonomi, dan transformasi yang adil.
Dengan partisipasi yang beragam dari semua sektor dan investasi penelitian dan pengembangan dalam teknologi inovatif, Taiwan akan mencari jalur tata kelola iklim yang paling sesuai untuk pembangunan berkelanjutannya.
Baca juga: Jakarta Jadi Tuan Rumah Formula E, Ketua DPRD DKI Minta Penjelasan AniesAliansi Iklim Taiwan telah menetapkan tujuan untuk menggunakan energi terbarukan dalam 100 persen proses manufaktur mereka pada 2050. Selain itu, Aliansi Taiwan untuk Emisi Nol-Bersih yang dibentuk oleh industri manufaktur, teknologi, keuangan, dan jasa tradisional, berupaya mencapai emisi karbon nol bersih di pekantoran pada 2030 dan di lokasi produksi pada 2050.
Untuk mendukung tindakan iklim oleh perusahaan dan pelaku lain di sektor swasta, pemerintah Taiwan telah menerapkan mekanisme keuangan seperti pembiayaan hijau dan obligasi hijau. Sehingga menciptakan lingkaran yang baik dalam mengejar investasi dan industri pembangunan berkelanjutan.
"Kami akan terus bekerja dengan semua negara lain untuk mendorong masa depan nol-bersih emisi global dan lingkungan hidup yang lebih tangguh untuk generasi mendatang dan untuk mewujudkan keadilan antar generasi," tambahnya.
(zul)