LANGIT7.ID-Jakarta; Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang menjadi perhatian pelaku usaha dinilai tidak menghalangi peluang pertumbuhan pembiayaan korporasi dan komersial. Di tengah dinamika global tersebut, Bank Mega Syariah tetap optimistis terhadap prospek pembiayaan sepanjang 2026.
Per Mei 2026, outstanding pembiayaan komersial Bank Mega Syariah tercatat mencapai lebih dari Rp5,7 triliun. Secara year to date (ytd), angka tersebut tumbuh 13,22 persen dibandingkan posisi Desember 2025 yang sebesar Rp5,17 triliun.
Sementara itu, total pembiayaan Bank Mega Syariah mencapai lebih dari Rp9,9 triliun pada Mei 2026, meningkat 7,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp9,3 triliun.
Corporate & Business Banking Division Head Bank Mega Syariah Guritno mengatakan penguatan dolar AS memang menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati. Namun kondisi tersebut belum mengurangi peluang pembiayaan pada sektor-sektor produktif yang memiliki fundamental usaha kuat.
“Bank Mega Syariah melihat penguatan dolar AS sebagai salah satu dinamika global yang perlu dicermati. Namun kondisi tersebut tidak mengurangi peluang pertumbuhan pembiayaan korporasi. Kebutuhan pembiayaan pada sektor-sektor produktif masih tetap terbuka seiring aktivitas ekonomi yang terus berjalan,” kata Guritno dalam keterangannya, dikutip Jumat (19/6/2026).
Menurut perseroan, penguatan dolar AS berpotensi memengaruhi biaya usaha, arus kas, hingga kebutuhan modal kerja pelaku usaha. Meski demikian, aktivitas ekonomi domestik yang terus bergerak dan kebutuhan pembiayaan di berbagai sektor strategis masih membuka ruang pertumbuhan yang menjanjikan.
Karena itu, Bank Mega Syariah tetap fokus mendorong pembiayaan pada sektor-sektor yang dinilai memiliki ketahanan tinggi terhadap perubahan kondisi ekonomi global.
Di sisi lain, penguatan dolar AS juga dipandang dapat menjadi peluang bagi perusahaan yang berorientasi ekspor. Nilai tukar yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional sekaligus mendukung peningkatan pendapatan perusahaan yang memiliki basis pendapatan dalam valuta asing.
Melihat peluang tersebut, Bank Mega Syariah menyatakan terus menjalin komunikasi dengan nasabah maupun calon nasabah yang bergerak di sektor ekspor untuk memahami kebutuhan pembiayaan dan rencana ekspansi bisnis mereka.
Perseroan juga tetap membuka peluang pembiayaan bagi sektor-sektor yang memiliki prospek ekspor positif dan sesuai dengan strategi bisnis perusahaan.
Meski optimistis, Bank Mega Syariah menegaskan prinsip kehati-hatian tetap menjadi dasar dalam setiap penyaluran pembiayaan. Seluruh proses dilakukan melalui asesmen komprehensif terhadap profil risiko, kemampuan pembayaran, serta ketahanan usaha nasabah terhadap perubahan pasar global.
Kinerja pembiayaan komersial Bank Mega Syariah ditopang oleh dua sub-segmen utama. Pembiayaan korporasi berkontribusi sebesar 43,76 persen dari total pembiayaan bank atau lebih dari Rp4,4 triliun. Sementara Business Banking menyumbang 13,86 persen atau senilai lebih dari Rp1,4 triliun pada Mei 2026.
Guritno mengatakan sektor pendidikan dan kesehatan masih menjadi kontributor utama pertumbuhan pembiayaan korporasi Bank Mega Syariah. Kedua sektor tersebut dinilai memiliki fundamental yang kuat, kebutuhan yang relatif stabil, serta prospek pertumbuhan yang positif seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pendidikan dan kesehatan.
Selain itu, perseroan juga melihat peluang pembiayaan pada sektor infrastruktur, komoditas, perdagangan, transportasi dan logistik, serta berbagai sektor jasa lainnya yang memiliki prospek usaha yang baik.
(lam)