LANGIT7.ID-, Jakarta - - Suara bambu yang bergetar lembut itu bukan sekadar bunyi musik. Di tangan para anggota
KAWI Angklung Community, suara
angklung menjadi simbol persahabatan, kebahagiaan, dan kecintaan terhadap budaya Indonesia.
Komunitas yang berdiri pada 22 Juni 2025 di Jakarta ini lahir dari sebuah kesamaan hati yakni keinginan untuk terus berkarya sekaligus melestarikan warisan budaya bangsa melalui alat musik angklung.
Berbeda dari banyak
komunitas seni yang beranggotakan anak muda, KAWI justru dibersamai oeh para perempuan berusia matang hingga lanjut usia, sebagian besar berusia antara 50 hingga 80 tahun.
![Menjaga Nada Nusantara: Kisah KAWI Angklung dari Persahabatan Perempuan Lansia Menuju Impian Panggung Dunia]()
Sejak awal, KAWI memiliki visi menjadi organisasi pelestari budaya alat musik bambu yang inovatif dan berdaya saing, sekaligus mengembangkan angklung sebagai warisan budaya Indonesia yang mendunia.
Baca juga: Komunitas Muhibah Angklung, Bermain dengan Penuh Cinta Hingga ke MancanegaraSementara misinya adalah melestarikan budaya tradisional Indonesia, mengembangkan potensi anggota, dan menyebarluaskan nilai-nilai budaya melalui angklung.
Berawal dari PersahabatanKAWI tidak muncul begitu saja. Komunitas ini lahir dari pertemanan lama para pecinta angklung yang sebelumnya sudah tergabung dalam komunitas lain.
Menurut salah satu pengurus, Patty yang menjabat sebagai Humas komunitas tersebut, para anggota KAWI merupakan orang-orang yang sudah lama saling mengenal dan memiliki kecintaan yang sama terhadap musik bambu.
"Berangkat dari komunitas sebelumnya, ini teman-teman dari komunitas angklung yang lalu. Dari situ kita punya teman-teman yang sepaham, lalu membentuk KAWI," ujar Patricia Audrey atau akrab disapa Patty, kepada
Langit7 di Jakarta.
![Menjaga Nada Nusantara: Kisah KAWI Angklung dari Persahabatan Perempuan Lansia Menuju Impian Panggung Dunia]()
(Humas Kawi Angklung, Patricia Audrey)
Pada awal berdiri, KAWI hanya beranggotakan 25 orang. Namun dalam waktu satu tahun jumlahnya bertambah menjadi 35 anggota. Menariknya, komunitas ini tidak membuka pendaftaran umum. Anggota baru bergabung melalui jaringan pertemanan yang sudah saling mengenal.
Bukan tanpa alasan, Patty membeberkan hal ini demi memudahkan untuk berkoordinasi apabila sudah saling kenal terutama untuk para perempuan yang telah berusia lanjut ini.
Angklung sebagai Sarana BahagiaBagi anggota KAWI, angklung bukan sekadar alat musik. Bermain angklung menjadi ruang untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan menikmati masa senior dengan kegiatan yang positif.
Patty menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama komunitas ini adalah memberdayakan perempuan lanjut usia agar tetap aktif dan produktif.
"Pemberdayaan perempuan yang usia senior, usia matang, sepuh, jadi diberdayakan dengan budaya dan musik. Diangkat budayanya, bermusik, sarana juga untuk
happy. Enak main angklung kan bikin bahagia," katanya.
![Menjaga Nada Nusantara: Kisah KAWI Angklung dari Persahabatan Perempuan Lansia Menuju Impian Panggung Dunia]()
Menurutnya, angklung sangat cocok dimainkan secara bersama-sama. Selain menghasilkan harmoni yang indah, alat musik tradisional ini juga mengajarkan kerja sama dan kekompakan.
"Kenapa angklung? Musik yang indah kalau dimainkan bersama. Cocok dimainkan untuk orang-orang yang berusia sepuh. Budaya Indonesia juga jadi bangga," ungkap Patty.
Sosok Pelopor Berusia 80 TahunDi balik lahirnya KAWI terdapat sosok inspiratif bernama Yeni Maryani Uton. Saat mendirikan komunitas ini, usianya telah mencapai 80 tahun.
Ketua KAWI saat ini yaitu Amelia Salim mengaku meneladani Yeni sebagai figur keibuan yang menjadi penggerak utama komunitas.
"Beliau (Yeni) sebetulnya merupakan pelopor KAWI ini. Waktu mendirikannya beliau usia 80 tahun. Setelah jalan enam bulan beliau sakit, jadi akhirnya saya yang diminta jadi ketua," tutur Meli.
![Menjaga Nada Nusantara: Kisah KAWI Angklung dari Persahabatan Perempuan Lansia Menuju Impian Panggung Dunia]()
(Ketua Kawi Angklung Community, Amelia Salim)
Bagi Meli, amanah terbesar yang diwariskan pendiri bukan sekadar menjaga organisasi, melainkan mempertahankan kehangatan dan kekeluargaan yang sudah terbentuk.
"Yang saya lanjutkan sebagai ketua adalah bagaimana membuat ibu-ibu ini guyub. Itu yang menjadikan saya memimpin komunitas ini, terinspirasi dari beliau," katanya.
Merayakan Ulang Tahun Pertama dengan PrestasiMemasuki usia satu tahun pada Juni 2026, KAWI memiliki banyak alasan untuk bersyukur. Dalam kurun waktu hanya setahun, komunitas ini telah tampil sebanyak 27 kali di berbagai acara di Indonesia. Artinya, rata-rata mereka tampil lebih dari dua kali setiap bulan.
![Menjaga Nada Nusantara: Kisah KAWI Angklung dari Persahabatan Perempuan Lansia Menuju Impian Panggung Dunia]()
(Perayaan ulang tahun ke-1 Kawi Angklung Community di Jakarta)
Selain aktif di berbagai panggung nasional, KAWI juga mulai menorehkan jejak internasional. Mereka pernah tampil dalam ajang internasional di Bandung dan kini tengah menyiapkan program kunjungan ke Thailand.
Agenda mereka pun semakin padat. Pada Juli mereka mengikuti lomba angklung tingkat Jabodetabek di Taman Ismail Marzuki (TIM), sementara September mendatang dijadwalkan tampil sebagai pembuka acara internasional yang melibatkan peserta dari sembilan negara di Ancol, Jakarta.
Membawa Angklung ke Kancah DuniaMeski baru berusia setahun, mimpi KAWI jauh melampaui batas panggung-panggung lokal. Komunitas ini ingin memperkenalkan angklung kepada masyarakat internasional melalui berbagai cara, termasuk pemanfaatan teknologi dan produksi film dokumenter.
"Kita ingin buat film dokumenter untuk mengangkat budaya angklung. Film itu bisa juga ke internasional. Dengan teknologi sekarang bisa tetap dengan budaya angklung," kata Patty.
Baca juga: Blood For Life Indonesia, Komunitas Penghubung Donor Darah Demi Selamatkan Banyak NyawaHarapan serupa juga disampaikan Meli. Ia berharap KAWI dapat menjalin lebih banyak kerja sama dengan berbagai pihak agar misi memperkenalkan angklung ke dunia dapat terwujud.
"Angklung ini warisan budaya Indonesia. Bagaimana kita bisa membawa angklung ke kancah dunia," ujarnya.
Di usia yang baru satu tahun, KAWI telah membuktikan bahwa kecintaan terhadap budaya tidak mengenal batas usia. Dari sekelompok sahabat yang sama-sama mencintai angklung, lahirlah sebuah komunitas yang bukan hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga bertekad membawa suara bambu Indonesia bergema hingga ke mancanegara.
Dengan semangat kebersamaan dan harmoni yang mereka mainkan di setiap pertunjukan, KAWI menunjukkan bahwa melestarikan budaya bisa menjadi jalan untuk tetap berkarya, bahagia, dan menginspirasi.
(lsi)