LANGIT7.ID, Jakarta - Tafsir Surat Al Fushilat ayat 30 menguraikan tentang betapa pentingnya sikap istiqamah dalam iman untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan hidup.
"Muslim yang beriman dan istiqamah dalam keislamannya dia akan mendapatkan ketenangan dalam kehidupannya. Dia akan mampu mengatasi masalahnya walaupun masalah yang berat," kata KH Didin Hafidhuddin dalam Ta’lim Bakda Subuh yang disiarkan Kalam TV, Senin (25/10/2021).
Bacaan arab, latin, dan arti Surat Al Fushilat ayat 30
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ Latin:
Innallażīna qālụ rabbunallāhu ṡummastaqāmụ tatanazzalu 'alaihimul-malā`ikatu allā takhāfụ wa lā taḥzanụ wa absyirụ bil-jannatillatī kuntum tụ'adụn Arti: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
KH Didin lalu mengutip hadits riwayat Imam Ahmad, dari Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi. Suatu kali, Sahabat Sufyan bertanya kepada Rasulullah tentang hakikat Islam, yang dengan jawaban itu ia tak perlu bertanya lagi kepada selain Rasul.
"Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku satu ucapan dalam Islam yang tidak akan kutanyakan lagi kepada selainmu”. Nabi Muhammad pun bersabda, "Ucapkanlah, 'Aku beriman, lalu istiqamahlah'."
Karenanya, jelas KH Didin, sikap istiqamah sangat menentukan keselamatan seorang muslim, baik di dunia maupun akhirat. Dalam tafsir Shafwatut Tafasir diungkapkan bahwa istiqamah itu mencakup segala bidang kehidupan.
"Dalam ibadah, syariat, perilaku, muamalah sesuai ajaran Islam. Bahkan dalam cara berpikir kita. Sebab cara berpikir sangat menentukan tentang bagiaman sikap dan gaya hidup kita," kata Kiai.
Di dalam Al Quran, kata 'iman' dirangkai dengan kata 'istiqamah' menggunakan kata sambung 'tsumma', yang dimaksudkan bahwa pencapaian derajat keimanan menuju derajat istiqmah umumumnya perlu waktu, perlu proses.
(bal)