LANGIT7.ID, Jakarta; - Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi keagamaan yang didirikan oleh para ulama kharismatik, di antaranya sosok yang warak, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Setiap kali Muktamar digelar, perhelatan ini selalu membuahkan berbagai kemaslahatan, mulai dari evaluasi masa khidmat lima tahun terakhir, perumusan program strategis lima tahun mendatang, hingga penerbitan rekomendasi terkait isu keumatan.
Sementara itu, kemanfaatan utama dari Muktamar ke-35 NU bagi warga Nahdliyin adalah merumuskan peta jalan (roadmap) organisasi untuk 25 tahun ke depan, sekaligus mempererat tali silaturahmi serta konsolidasi antar-warga Nahdliyin dari penjuru tanah air. Hal tersebut dipaparkan oleh Dr KH Yusuf Aman MA, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dilansir Nasional Pos Sabtu (29/8/2026).
"Muktamar ke-35 bukan sekadar forum suksesi kepemimpinan, melainkan ujian apakah organisasi kumpulan ulama ini mampu menjaga integritas moral di tengah dinamika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat," ungkap kiai Yusuf Aman, yang juga mengemban amanah sebagai Mustasyar PCNU Jakarta Pusat.
Menurut pengamatannya, sejak bergulirnya era Reformasi hingga saat ini, NU dinilai konsisten dalam memelihara keseimbangan antara tradisi keislaman dengan dinamika politik modern.Oleh sebab itu, perhelatan Muktamar ke-35 NU tidak boleh dipandang sebatas agenda pergantian pimpinan organisasi semata. Forum ini menjadi pijakan krusial dalam menentukan arah peradaban umat dan bangsa menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.
"Tentunya, saya sebagai warga Nahdliyyin sangat berharap Muktamar NU ke-35 sudah semestinya melampaui agenda rutin organisasi. NU perlu melahirkan cetak biru (blueprint) besar menuju 2045," tutur mantan Wakil Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta.
Atas dasar itulah, Yusuf Aman menambahkan, NU dituntut untuk secara serius menggarap agenda transformasi digital serta kecerdasan buatan (AI). Generasi Gen Z dan Alfa kini tumbuh dalam ruang algoritma yang memengaruhi pola otoritas keagamaan, sehingga NU harus hadir sebagai pelopor perumusan etika AI berbasis Islam Nusantara di lingkungan pesantren maupun perguruan tinggi.
"Saya juga berharap agar dalam Muktamar ke-35 ini menghasilkan keputusan strategis mengenai langkah NU masuk dalam percakapan global mengenai teknologi, etika digital, dan masa depan kemanusiaan," tuturnya.
Di samping isu teknologi, Yusuf Aman sangat berharap NU semakin mandiri serta istikamah dalam menjalankan perannya untuk li i'laa'i kalimatillah. Maka dari itu, penguatan ekonomi keumatan yang berbasis pada komunitas dan pesantren menjadi hal yang mendesak.
Persoalan ketimpangan ekonomi nasional tidak bisa cukup direspons dengan imbauan moral semata, melainkan membutuhkan terobosan kelembagaan: penguatan koperasi modern, inovasi ekonomi syariah digital, pendampingan UMKM pesantren, hingga pemantapan industri halal.
Lebih dari sekadar sektor ekonomi, Yusuf Aman menilai bahwa di usia abad kedua ini marwah NU harus semakin dijaga. Selain pondok pesantren yang telah lama mengabdi, lembaga pendidikan formal dari jenjang RA/TK hingga perguruan tinggi perlu terus diperbanyak.
Ia turut mengingatkan pentingnya penyiapan figur-figur kepemimpinan masa depan yang adaptif, meritokratis, dan visioner guna menyongsong Indonesia Emas 2045. "Kepemimpinan NU ke depan tidak cukup hanya kuat secara genealogis dan kultural, tetapi juga harus memiliki kapasitas intelektual global, kemampuan teknologi, dan sensitivitas sosial terhadap perubahan zaman," katanya.
Ia menambahkan, siapa pun yang dipercaya menjadi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 kelak merupakan putra-putra terbaik NU. Dirinya juga menyampaikan harapan agar jajaran kepengurusan PBNU mendatang turut merangkul para ulama dan tokoh NU dari Jakarta.
"Organisasi NU adalah organisasi Islam yang selalu seksi di mata orang yang memandangnya, organisasi unik yang memiliki kemampuan menjaga marwahnya sebagai penjaga moral bangsa sekaligus lokomotif peradaban Islam Indonesia di abad ke-21 ini," ucap dia.
Ia berharap Muktamar ke-35 ini mampu melahirkan keputusan yang memperlihatkan wajah NU yang sejuk, independen, dan menjadi inisiator terdepan dalam urusan kebangsaan yang religius namun inklusif terhadap sains dan teknologi. Yusuf Aman memproyeksikan, apabila NU terus mengedepankan kematangan berorganisasi dan visi peradaban yang besar,
"Maka NU tidak hanya akan mengawal Indonesia Emas 2045, tetapi juga menjadi salah satu fondasi utama lahirnya Indonesia yang berkeadaban, berkeadilan sosial, dan bermartabat di mata dunia. Selamat Ber-Muktamar ke-35, semoga sukses dan menghasilkan keputusan yang tepat bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara. Amin," pungkasnya.
(zhd)