LANGIT7.ID-Jakarta; Tim penyelamat di Nepal dan China pada Minggu (30/8) berjibaku menerobos lumpur yang menelan kaki, ancaman sungai yang terus meluap, hingga kemunculan danau baru. Mereka masih mencari ribuan orang yang hilang setelah dinding air dan material longsoran menerjang kawasan Himalaya dan menenggelamkan sejumlah desa.
Data terbaru dari kedua negara mencatat 3.048 orang masih hilang, termasuk ratusan warga negara asing. Sementara itu, 797 orang telah dikonfirmasi meninggal dunia. Sebagian jenazah bahkan dilaporkan kemungkinan terseret arus hingga ke wilayah India.
Nepal mengatakan telah memulai proses pemakaman terhadap sebagian dari ratusan jenazah yang ditemukan pada Minggu. Sebelum dimakamkan, petugas mengambil sampel DNA agar keluarga korban dapat mengambil jenazah dan menjalankan prosesi pemakaman sesuai tradisi setelah identitas mereka berhasil dipastikan.
Bencana yang terjadi di perbatasan China-Nepal pada Rabu pagi itu dipicu runtuhnya gletser. Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), runtuhan tersebut memicu gelombang besar air dan material yang kemudian menerjang wilayah di sepanjang aliran sungai.
Pekerja PLTA Diduga Terjebak di TerowonganDi Nepal, pasukan militer dan para insinyur juga terus menggali timbunan material pada Minggu untuk mencapai para pekerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang diyakini terjebak di dalam sebuah terowongan di proyek PLTA Trishuli 3A.
Upaya penyelamatan dilakukan setelah tim berhasil memasukkan sebuah pipa ke dalam terowongan.
“Mereka mulai mengalirkan udara melalui celah kecil tersebut,” kata Menteri Dalam Negeri Nepal Sudan Gurung dalam sebuah pernyataan.
Hujan yang turun sepanjang malam dan kenaikan permukaan air sungai sempat menghambat proses evakuasi pada Minggu. Area penggalian bahkan sempat terendam air sebelum kondisi kembali membaik, menurut Angkatan Darat Nepal.
Otoritas penanggulangan bencana Nepal mencatat 933 pekerja PLTA termasuk dalam daftar orang yang masih hilang. Wilayah tersebut merupakan kawasan dengan berbagai proyek infrastruktur energi berskala besar.
Di sisi China, tim penyelamat di dekat pelabuhan perbatasan Tibet yang sebelumnya diterjang longsor lumpur mematikan dipindahkan ke lokasi aman pada Minggu. Langkah tersebut dilakukan setelah longsor membentuk sebuah danau baru yang berpotensi meningkatkan risiko banjir.
Kantor berita pemerintah China, Xinhua, melaporkan bahwa para ahli menyatakan sebuah gletser di lereng selatan Puncak Lirung di Nepal mengalami keretakan. Peristiwa tersebut kemudian memicu longsoran es dan batu dalam skala besar.
Material longsoran bergerak sangat cepat dan berubah menjadi aliran lumpur serta material yang menerjang wilayah sepanjang lebih dari 20 kilometer sebelum menghantam Pelabuhan Gyirong.
“Kejadian runtuhnya gletser secara tiba-tiba dan banjir bandang ini menjadi pengingat yang menghancurkan tentang betapa rapuhnya lingkungan pegunungan,” kata Kepala Iklim PBB Simon Stiell dalam sebuah pernyataan.
“Tidak Ada yang Tersisa”Bagi para penyintas, penderitaan belum berakhir. Mereka kini harus menunggu dengan cemas kabar tentang nasib anggota keluarga yang hilang, sekaligus menghadapi kenyataan bahwa kehidupan mereka harus dibangun kembali dari nol.
“Semua permukiman di dekat sungai tersapu,” kata warga bernama Buddhi Ram Dangol kepada AFP di Distrik Nuwakot, Nepal.
“Tidak ada yang tersisa.”
Kerabat korban terlihat memadati daftar nama orang yang berhasil diselamatkan. Daftar tersebut ditempel di dinding sebuah pangkalan militer yang dijadikan pusat operasi penyelamatan di ibu kota distrik, Bidur.
Otoritas penanggulangan bencana Nepal mengatakan pada Minggu bahwa 592 warga negara asing, termasuk pendaki dan peziarah Hindu yang hendak mengunjungi Gunung Kailash di Tibet, masih masuk dalam daftar orang hilang.
Isha Foundation yang dipimpin guru spiritual India Sadhguru mengatakan melalui unggahan Instagram pada Sabtu bahwa 80 anggotanya sedang melakukan perjalanan bersama di kawasan tersebut.
“Pada saat ini, tampaknya belum ada indikasi yang menggembirakan mengenai adanya korban selamat di area kantor imigrasi,” kata organisasi tersebut.
Bantuan Internasional Mulai BerdatanganBesarnya bencana membuat Nepal membutuhkan dukungan internasional. Amerika Serikat dan Kanada masing-masing menyatakan akan memberikan bantuan kemanusiaan sebesar US$3,6 juta kepada Nepal.
Inggris menjanjikan bantuan sebesar US$6,8 juta, sementara PBB menggelontorkan US$2,5 juta dalam bentuk pendanaan darurat.
Bantuan juga dijanjikan oleh Uni Eropa, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, serta sejumlah pihak lainnya.
Perekonomian Nepal sendiri sudah berada di bawah tekanan sehingga pemerintah memiliki sumber daya yang terbatas untuk menghadapi bencana sebesar ini. Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal memperkirakan biaya pembangunan kembali dapat mencapai miliaran dolar AS.
Khanal meminta bantuan khusus, termasuk drone berkemampuan mengangkat beban berat serta teknologi yang dapat digunakan untuk menemukan korban yang kemungkinan masih terjebak.
Malaysia juga menyatakan akan mengirimkan tim spesialis pencarian dan penyelamatan untuk membantu operasi di Nepal.
Khanal turut meminta bantuan berupa perangkat pengujian forensik untuk mengidentifikasi jenazah serta unit pendingin untuk menyimpannya. Menurut dia, jenazah yang sempat terendam air dapat mengalami pembusukan lebih cepat.
Danau Baru Picu Ancaman Banjir BerikutnyaBanjir besar yang membawa material es dan lumpur membentuk sejumlah danau. Salah satu danau baru tersebut kini menjadi ancaman karena berpotensi memicu banjir susulan.
Menteri luar negeri China dan Nepal telah berbicara pada Sabtu. Kedua negara sepakat membahas pertukaran data satelit dan informasi hidrologi untuk membantu menangani situasi di kawasan perbatasan.
Di Tibet, tempat otoritas China menjadi satu-satunya sumber informasi, operasi penyelamatan di wilayah Gyirong yang paling parah terdampak sempat dihentikan. Tim penyelamat menghadapi risiko banjir lebih lanjut akibat terbentuknya danau baru.
Namun, stasiun televisi pemerintah China CCTV pada Sabtu malam melaporkan bahwa air dari danau tersebut “mengalir secara alami” dan sebagian besar telah terkuras. Informasi itu mengutip Kementerian Sumber Daya Air China.
Xinhua melaporkan terdapat 2.141 personel penyelamat yang berada di sekitar lokasi Gyirong.
Di Nepal, jumlah korban meninggal dilaporkan mencapai 781 orang, sementara 2.502 orang masih belum diketahui keberadaannya.
Sementara di Tibet, sebanyak 16 orang meninggal dunia dan 546 lainnya masih hilang, menurut laporan CCTV.
Otoritas China juga mengatakan telah mengevakuasi 555 wisatawan yang terjebak dan 499 warga China dari wilayah Tibet.
Di India, petugas menemukan tujuh jenazah dari sungai-sungai yang mengalir dari Nepal. Ketujuh korban diyakini merupakan korban banjir akibat bencana tersebut.
(lam)