LANGIT7.ID-, Filipina - Semakin hari kualitas udara di ibu kota Filipina menjadi sangat tidak sehat akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan, Indonesia yang saat ini memicu peringatan.
Kabut asap tersebut menyebabkan Quezon City, meliburkan kegiatan belajar-mengajar di sekolah, sementara para ahli kesehatan mengimbau warga untuk mengenakan masker N95 saat berada di luar ruangan.
Rontgene M. Solante, ketua Program Fellowship Penyakit Menular Dewasa dan Kedokteran Tropis di Rumah Sakit San Lazaro, Manila, mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker N95, bukan jenis penutup wajah lainnya.
Ia menyatakan bahwa orang dewasa yang sehat sekalipun sebaiknya mengenakan masker saat berada di luar ruangan karena partikel halus dapat masuk ke dalam paru-paru dan menyebabkan gangguan pernapasan.
Asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menyelimuti Manila, mengubah dampak kebakaran yang berjarak hampir 2.000 km (1.242 mil) itu menjadi peringatan kesehatan masyarakat bagi ibu kota Filipina. Hal ini sekaligus memicu kembali kekhawatiran mengenai masalah kabut asap lintas batas yang kerap terjadi di Asia Tenggara.
Baca juga: DPR: Dampak Kesehatan Akibat Karhutla Harus Jadi PerhatianKabut asap yang terbawa angin dari arah barat daya, berasal dari kebakaran di Kalimantan, wilayah Indonesia di Pulau Borneo, mendorong para ahli kesehatan untuk mengimbau warga agar mengenakan masker N95 saat berada di luar ruangan seiring memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah Metro Manila.
(Sumber: South China Morning Post)
Bahkan di beberapa bagian wilayah ibu kota, indeks kualitas udara mencapai tingkat "sangat tidak sehat", demikian peringatan yang dikeluarkan oleh Departemen Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam pada hari Minggu, berdasarkan data dari stasiun-stasiun pemantau mereka.
Peringatan tersebut kemudian mendorong Quezon City, yang merupakan bagian dari wilayah ibu kota Filipina, untuk meliburkan kegiatan belajar-mengajar di seluruh sekolah.
Seorang ahli fisika atmosfer lulusan Jepang dari Institut Ilmu Lingkungan dan Meteorologi Universitas Filipina, Gerry Bagtasa, mengatakan kepada ABS-CBN bahwa kabut asap tersebut berbahaya karena terdiri dari partikel-partikel halus yang terbawa oleh angin dari arah barat daya.
Berdasarkan citra satelit, ia menyebutkan bahwa polutan tersebut berasal dari kebakaran hutan yang kian meluas di Kalimantan bagian barat dan selatan.
Baca juga: Dampak Karhutla Makin Parah, Ribuan Warga Pontianak Shalat Istisqa Meminta Turun HujanKalimantan memang berjarak sekira 1.939 km dari Manila, namun Bagtasa mengatakan bahwa dua badai topan yang berada di sebelah timur Taiwan dan selatan Hong Kong. Ditambah dengan fenomena El Nino saat ini yang bisa memperkuat angin muson barat daya (Habagat) yang sedang berlangsung pada periode ini.
"Fenomena-fenomena ini (badai topan dan El NinoP menarik angin Habagat, dan bersamanya, turut membawa emisi dari kebakaran lahan di Kalimantan," ujar dia.
Bagtasa memprediksi kabut asap ini akan bertahan hingga akhir pekan, bergantung pada apakah arah angin akan berubah.
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sering kali dipicu oleh kombinasi cuaca kering, kondisi lahan gambut, dan praktik pembukaan lahan, di mana asap dari kebakaran besar dapat terbawa melintasi batas negara saat terjadi perubahan arah angin musiman.
"Terakhir kali Filipina terdampak kabut asap dari Indonesia adalah pada tahun 2015, saat terjadi peristiwa El Nino lainnya," ujar Bagtasa.
Namun, ia mengatakan bahwa kabut asap tersebut bukanlah bencana alam, melainkan "buatan manusia", dan berpotensi memburuk akibat puncak kebakaran hutan yang biasanya terjadi di Indonesia antara bulan September dan Oktober.
(lsi)