LANGIT7.ID-Jakarta; Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI terus memperkuat pengelolaan muzaki yang profesional sebagai strategi meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus mengoptimalkan penghimpunan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) secara nasional.
Hal tersebut disampaikan Pimpinan BAZNAS RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., dalam Pra-Rapat Koordinasi Nasional (Pra-RAKORNAS) BAZNAS bertajuk “Target dan Strategi Pengumpulan pada BAZNAS Provinsi dan BAZNAS Kab/Kota” bersama Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., secara daring, Selasa (8/9).
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., mengatakan pengelolaan muzaki perlu dilakukan secara lebih berkelanjutan dan profesional dengan menempatkan muzaki sebagai mitra strategis dalam ekosistem filantropi Islam.
Menurut Rizaludin, muzaki saat ini tidak hanya membutuhkan kemudahan dalam menunaikan zakat, tetapi juga ingin mengetahui manfaat dari zakat yang mereka salurkan. Para muzaki juga ingin dilibatkan dan merasakan dampak nyata program zakat yang berasal dari zakat yang mereka tunaikan.
“Karena itu, kita perlu melakukan reorientasi dalam pengelolaan muzaki. Hubungan dengan muzaki harus kita bangun secara berkelanjutan, melalui pelayanan yang baik, komunikasi yang terbuka, serta menunjukkan dampak nyata dari zakat yang mereka tunaikan,” ujarnya, dikutip Rabu (9/9/2026).
Rizaludin menyampaikan, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang menyalurkan zakat ke lembaga-lembaga nonformal.
“Ini PR kita. Kita harus mampu melakukan reorientasi dalam pengelolaan muzaki. Bagaimana ke depan supaya BAZNAS menjadi pilihan bagi para muzaki dan membayar zakat lebih utama melalui lembaga formal seperti BAZNAS daripada membayar langsung, melalui ustaz, atau masjid ataupun lembaga nonformal lainnya,” kata Rizaludin.
Rizaludin menyampaikan value-driven fundraising juga perlu diperkuat oleh seluruh BAZNAS dan LAZ di Indonesia, antara lain dengan memperkuat dakwah zakat, menghadirkan penyaluran yang menghasilkan manfaat nyata dan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat. Dengan demikian, para muzaki akan terus mempercayai dan memilih BAZNAS dalam menyalurkan amanahnya.
“Untuk menjaga keberlanjutan dan kepercayaan publik, terdapat empat pilar utama value-driven fundraising, yakni transparansi dan laporan dampak nyata, pembinaan relasi yang personal dan inklusif, penguatan branding serta reputasi lembaga yang profesional dan taat audit, hingga pelibatan aktif muzaki dalam berbagai program kemanusiaan,” jelas Rizaludin.
Ia mengatakan, penerapan empat pilar tersebut perlu diperkuat dengan konsep 5D BAZNAS, yakni Diingat, Dipercaya, Dijangkau, Dicintai, dan Dibanggakan. Hal tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman berzakat yang lebih bermakna sekaligus memperluas dampak zakat bagi kesejahteraan masyarakat.
Lebih lanjut, Rizaludin menyampaikan dalam merancang program, BAZNAS perlu memastikan program tersebut relevan dengan kebutuhan dan aspirasi muzaki serta mampu memberikan manfaat yang nyata dan luas.
“Karena program itu harus diingat dan dicintai muzaki, harus terasa dekat dengan muzaki, dan perubahannya terlihat oleh muzaki, dan manfaatnya juga terasa. Maka, kalau membuat program, perspektifnya harus dari muzaki,” ujarnya.
Turut hadir dalam acara tersebut Pimpinan BAZNAS RI Bidang Organisasi, Kelembagaan, dan Pembinaan Daerah Hj. Saidah Sakwan, M.A., Pimpinan BAZNAS RI Bidang Perencanaan, Kajian, dan Pengembangan H. Syarifuddin, S.Ag., M.E., Direktur Pengumpulan Perorangan BAZNAS RI H. Fitriansyah Agus Setiawan, S.Sos., M.I.Kom., CFRM., serta seluruh pimpinan BAZNAS daerah tingkat provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia.
(lam)