Oleh: Eddy Koko, Penikmat Musik JazzLANGIT7.ID-Setiap tanggal 21 September, dunia mengheningkan cipta sejenak memperingati Hari Alzheimer Sedunia (World Alzheimer’s Day). Tema tahun 2026 adalah Makin Cepat Tahu, Makin Banyak yang Bisa Dilakukan: Diagnosis Demensia Sangat Berarti.
Mungkin masih banyak orang belum pernah melihat penyakit ini berdampak pada penderita dan orang sekitarnya. Melihatnya, tentu, iba. Sebagian dari mereka secara fisik terlihat sehat dan beraktivitas tetapi lupa orang sekitar. Contoh, penderita tidak mengenal istri dan anaknya.
Menurut sejumlah artikel kesehatan, secara teoritis, semua orang berpeluang terkena Alzheimer. Meskipun penyakit ini identik dengan lansia, Alzheimer bukanlah bagian normal dari penuaan. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja karena dipicu oleh kombinasi kompleks antara usia, faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup.
Maka peringatan Hari Alzheimer sejatinya dapat dilihat, bukan sekadar rutinitas kalender. Hari Alzheimer merupakan panggung pengingat bagi jutaan manusia yang perlahan-lahan kehilangan memori hidupnya.
Di tengah upaya medis sebagai pengobat penyakit degeneratif otak ini, ada satu kenyataan hangat yang sering luput. Ketika ingatan penderita lenyap digerogoti Alzheimer, ternyata musik tetap bertahan sebagai “benteng terakhir” kemanusiaan.
Kisah ajaib ini paling jelas terjadi pada sosok penyanyi gaek Tony Bennett. Tahun 2016, maestro jazz dunia ini divonis (didiagnosis) mengidap Alzheimer. Hari-harinya dipenuhi kabut kepikunan. Ia linglung, kesulitan mengenali orang-orang terdekatnya termasuk anak dan istrinya. Bahkan kebingungan menatap ruang tamunya sendiri. Namun, keajaiban runtuh di panggung Radio City Music Hall, New York, pada 3 Agustus 2021.
Di atas panggung itu, Lady Gaga menuntun Bennett yang sudah berusia 95 tahun. Lady Gaga adalah pasangan duet Tony Bennett sejak Gaga memutuskan “loncat” dari musik pop ke jazz tahun 2011. Mereka rutin manggung, tour dan membuat rekaman jazz.
Sebelum musik berbunyi, Bennett bersandar pada grand piano dengan tatapan mata kosong. Begitulah tipikal penderita Alzheimer berat. “Tony, itu Susan istrimu duduk di sana,” kata Gaga seraya menunjuk Susan istri Bennet yang duduk tidak jauh dari mereka. Bennett tetap tidak mengenal.
Namun, begitu denting piano jazz mengalun memainkan I’ve Got You Under My Skin’ seketika itu pula keajaiban terjadi. Mata Bennett mendadak berbinar. Ia menyanyi dengan teknik vokal sempurna, artikulasi presisi, improvisasi khas jazz yang mulus, dan tanpa kehilangan satu bait pun lirik lagu. Malam itu, bahkan Bennett mengenali Lady Gaga dan menyapanya dengan hangat.
Orang bisa menyimak beberapa tayangan duet Bennett dengan Gaga di youtube dalam kondisi menderita alzheimer. Sungguh tidak bisa dipahami, bagaimana orang pikun bisa menyanyi dengan sempurna? Menderita alzheimer tetapi hafal puluhan lirik lagu jazz yang rumit? Dua tahun kemudian Tonny Bennett wafat dalam usia 95 tahun pada Juli 2023.
Terapi MusikSains tidak tinggal diam melihat fenomena alzheimer ini. Konon, para peneliti dari Center for Music & Medicine di Johns Hopkins University, Amerika Serikat, menemukan jawaban yang memukau. Dalam studi mereka mengenai Neurologic Music Therapy, terungkap bahwa memori musik disimpan di area otak bernama medial prefrontal cortex. Ajaibnya, bagian otak ini adalah wilayah paling tahan terhadap serangan kerusakan penyakit Alzheimer. Ketika bagian otak penyimpan ingatan fakta dan nama hancur digerogoti penyakit, bagian penyimpan memori nada dan lagu tetap utuh berdiri. Unik.
Khusus untuk musik jazz, pengaruhnya terhadap otak penderita demensia ternyata jauh lebih dalam. Jazz tidak seperti musik pop yang berpola datar. Jazz dipenuhi syncopation (ketukan tidak terduga) dan improvisasi harmonisasi yang kaya. Peneliti mendapati bahwa saat penderita Alzheimer mendengarkan atau menyanyikan musik jazz, pola improvisasi tersebut memaksa jaringan otak yang tersisa untuk aktif membentuk konektivitas baru. Musik jazz bertindak seperti “olahraga beban” bagi saraf otak.
Pada usia lansia saat ini, tembang-tembang jazz standard era 1940 hingga 1960-an adalah lagu masa muda mereka. Musik ini tersimpan dalam procedural memory, yaitu jenis memori bawah sadar yang sama seperti refleks naik sepeda. Jadi ketika nada jazz diputar, otak melepaskan hormon dopamin yang seketika meruntuhkan dinding kecemasan, mengembalikan fokus, dan memancing ingatan kenangan masa lalu (autobiographical memory) keluar ke permukaan.
Memanfaatkan informasi penelitian dunia tentang alzheimer tersebut, maka Radio Pensiunan mencoba mengambil memanfaatkan peran strategis ini. Sebagai media suara yang akrab dengan pendengar usia lanjut, Radio Pensiunan bukan sekadar pemutar tembang nostalgia. Setiap kali lagu-lagu kenangan diputar maka Radio Pensiunan juga sedang menjalankan praktik Nostalgic Music Therapy secara massal.
Apakah memutar lagu masa muda bisa mengobati atau mengurangi kepikunan secara total? Secara medis, musik memang belum bisa menghentikan atau menyembuhkan kerusakan fisik sel otak akibat Alzheimer. Namun, sains membuktikan bahwa stimulasi lagu kenangan mampu memperlambat penurunan fungsi kognitif (cognitive decline), menajamkan fokus, serta menekan gejala agitasi (kegelisahan dan emosi tak menentu) yang kerap dialami para lansia.
Lagu kenangan di Radio Pensiunan bekerja bak “mesin waktu saraf”. Saat pendengar lansia mendengarkan lagu yang pernah akrab pada masa kasmaran atau kejayaan muda mereka, jaringan otak di default mode network kembali aktif melukiskan memori lama dengan jelas. Siaran yang diisi dengan dialog hangat penyiar dan alunan nada kenangan memberi mereka rasa aman (sense of belonging), kenyamanan emosional, serta stimulasi mental agar otak tidak pasif.
Refleksi Hari Alzheimer Sedunia mengingatkan kita bahwa penyakit ini mungkin bisa merenggut daya pikir logis manusia dan mengikis ingatan sehari-hari. Namun, Alzheimer gagal menaklukkan rasa dan nada. Lewat panggung jazz Lady Gaga dan Tony Bennett, juga lewat siaran Radio Pensiunan yang setia menemani hari-hari lansia ada pesan kuat, di balik pekatnya kabut kepikunan, musik akan selalu punya cara untuk memanggil pulang ingatan yang tersesat. Salam sehat! (radiopensiunan/(*))
(lam)