LANGIT7.ID, Jakarta,- - Seruan boikot konser penyanyi tenor asal Italia,
Andrea Bocelli, semakin menguat di
Yordania. Sejumlah
aktivis pro-Palestina meminta masyarakat tidak menghadiri konser Bocelli yang dijadwalkan berlangsung di Petra pada 27 November 2026.
Bocelli dijadwalkan tampil di
Petra Cultural Village sebagai bagian dari tur dunia 2026. Namun, rencana konser itu menuai penolakan dari kelompok-kelompok yang menentang normalisasi hubungan dengan
Israel.
Baca juga: Rekam Jejak Andrea Bocelli di Israel: Dari Tel Aviv hingga Galang Dana IDFDilansir dari
New Arab, Ahad (11/20/2026), kelompok antinormalisasi
Et'harrak menyerukan pembatalan konser tersebut. Mereka juga mendesak
Friends of Jordan Festivals, selaku penyelenggara acara yang bekerja sama dengan Dewan Pariwisata
Yordania, serta otoritas terkait untuk mencabut rencana penampilan
Bocelli.
Para aktivis menilai penyelenggaraan konser artis yang memiliki hubungan panjang dengan Israel dapat menjadi bentuk normalisasi budaya. Menurut mereka, pertunjukan semacam itu berpotensi memberikan ruang bagi Israel dan pihak-pihak yang mendukungnya di tengah masyarakat Arab.
Seruan boikot ini muncul di tengah kemarahan masyarakat
Yordania atas perang Israel di Gaza serta operasi militernya di berbagai wilayah, termasuk pendudukan dan serangan di Lebanon dan Suriah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Yordania menjadi lokasi demonstrasi dan kampanye boikot terhadap perusahaan, artis, serta tokoh publik yang dianggap mendukung Israel atau menjalin hubungan.
Konser Tel Aviv Dihadiri Lebih dari 20.000 PenontonSebelumnya pada 2022, Bocelli kembali mengunjungi Israel untuk menggelar konser di Bloomfield Stadium, Tel Aviv. Pertunjukan tersebut dihadiri lebih dari 20.000 penonton.
Baca juga: Aktif Dukung IDF, MUI Desak Pemerintah Batalkan Rencana Konser Andrea BocelliKunjungan itu berlanjut ke Yerusalem pada hari berikutnya. Bocelli bersama keluarganya mengunjungi sejumlah lokasi, termasuk Tembok Barat dan Gereja Makam Kudus, serta tempat-tempat lain di Kota Tua Yerusalem yang berada di wilayah pendudukan Israel.
Selama kunjungan tersebut, Bocelli bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pertemuan itu, ia dilaporkan kembali menyampaikan kekagumannya terhadap Israel.
Netanyahu merupakan salah satu tokoh Israel yang menjadi sorotan internasional terkait konflik di Gaza. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu pada November 2024 atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Rangkaian kunjungan, penampilan, dan keterlibatan Bocelli dalam acara penggalangan dana tersebut kini kembali dipersoalkan oleh kelompok pro-Palestina menjelang konsernya di Yordania.
(est)