LANGIT7.ID-, Jakarta - - Dampak ekonomi dari perhelatan Bali Expo UMKM dan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah 2026 tercatat sekira Rp1,45 miliar, dan memfasilitasi proses kurasi 30 UMKM untuk masuk ke platform digital Haji dan Umrah Store.
Upaya ini menjadi bagian dari langkah Kementerian Haji dan Umrah dalam memperkuat ekosistem ekonomi haji dan umrah yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Dari sisi dampak ekonomi, nilai Rp1,45 miliar tersebut berasal dari aktivitas usaha dan sektor pendukung selama penyelenggaraan expo, termasuk transaksi tenant UMKM, akomodasi hotel, kuliner, serta oleh-oleh.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU), Jaenal Effendi, menegaskan bahwa pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah perlu diarahkan pada produk yang sesuai dengan kebutuhan jemaah sekaligus memiliki potensi pasar yang luas.
"Peluang ekonomi haji dan umrah tidak terbatas pada bumbu dan makanan siap saji, tetapi juga mencakup perlengkapan haji, pangan olahan, busana, kerajinan, hingga oleh-oleh. Potensi ini perlu dimanfaatkan untuk memperluas pasar produk UMKM," ujar Jaenal di Denpasar, dikutip Selasa (13/10/2026).
Bali Expo diikuti 58 pelaku usaha, dengan sekira 70 persen di antaranya merupakan produsen. Produk yang ditampilkan mencakup kebutuhan haji dan umrah, fesyen, produk unggulan dan industri kreatif, makanan dan minuman, serta layanan lainnya. Kehadiran produsen dari berbagai kategori usaha memperlihatkan beragam potensi produk yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar haji dan umrah.
Untuk memperluas jejaring bisnis, Ditjen PE2HU memfasilitasi business matching yang mempertemukan empat pelaku UMKM yang telah melakukan ekspor dengan peserta tenant melalui talkshow dan storytelling. Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai pengembangan usaha dan kesiapan produk untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Selain itu, sebanyak 30 UMKM sedang menjalani proses kurasi untuk masuk ke platform digital Haji dan Umrah Store. Platform ini diharapkan memperluas jangkauan pemasaran produk sekaligus memudahkan akses terhadap produk yang dibutuhkan dalam ekosistem haji dan umrah.
Jaenal menekankan bahwa perluasan akses pasar perlu diikuti kesiapan produk, kapasitas produksi, dan kolaborasi antarpelaku usaha. Salah satu langkah yang didorong adalah pembentukan konsorsium ekspor yang dikoordinasikan oleh eksportir berpengalaman untuk menjaga kualitas produk, kesinambungan pasokan, dan kepastian pasar. Strategi ini diharapkan memperkuat daya saing produk UMKM Indonesia di pasar internasional.
Menutup kegiatan, Jaenal menegaskan bahwa capaian Bali Expo perlu ditindaklanjuti melalui komitmen bersama untuk memperkuat ekosistem ekonomi haji dan umrah.
"Apa yang telah kita capai hari ini adalah fondasi. Namun, fondasi saja tidak cukup. Kita membutuhkan komitmen berkelanjutan dari semua pihak untuk mewujudkan ekosistem haji dan umrah yang berdaya saing dan berkelanjutan," pungkasnya.
(lsi)