Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 15 Oktober 2026
home masjid detail berita

Tafsir Al-Baqarah Ayat 67: Adab Nabi Musa Menghadapi Tuduhan

ahmad zuhdi Kamis, 15 Oktober 2026 - 08:08 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 67: Adab Nabi Musa Menghadapi Tuduhan
LANGIT7.ID-Jakarta; - Ayat ke-67 dari Surat Al-Baqarah merupakan bagian dari rangkaian kisah Bani Israil yang Allah ﷻ abadikan sebagai pelajaran bagi umat manusia. Ayat ini menceritakan dialog antara Nabi Musa ﷺ dengan kaumnya ketika Allah memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi betina — sebuah perintah yang tampak janggal di mata mereka sehingga mereka menuduh Nabi Musa ﷺ berolok-olok.

Imam al-Ṭabarī menjelaskan bahwa ayat ini termasuk bentuk teguran Allah kepada Bani Israil atas pelanggaran perjanjian mereka terhadap para nabi:

وَهَٰذِهِ الْآيَةُ مِمَّا وَبَّخَ اللَّهُ بِهَا الْمُخَاطَبِينَ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فِي نَقْضِ أَوَائِلِهِمُ الْمِيثَاقَ الَّذِي أَخَذَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ بِالطَّاعَةِ لِأَنْبِيَائِهِ

"Ayat ini termasuk yang dengannya Allah mencela orang-orang yang diajak bicara dari Bani Israil, atas pelanggaran generasi awal mereka terhadap perjanjian yang Allah ambil dari mereka untuk taat kepada para nabi-Nya." (al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān).

Imam al-Baghawī merinci latar belakang kisahnya: ada seorang kaya di lingkungan Bani Israil yang dibunuh oleh kerabatnya sendiri demi menguasai harta warisan. Mayatnya lalu dilemparkan di kampung lain dan penduduk kampung tersebut dituduh sebagai pelakunya — hingga memicu perselisihan sengit yang nyaris berujung peperangan (al-Baghawī, Maʿālim al-Tanzīl).

Ayat ini sangat penting karena mengajarkan adab seorang nabi dalam menghadapi tuduhan hina, sekaligus menegaskan bahwa perintah Allah — meskipun kadang melampaui nalar parsial manusia — wajib diterima dan dilaksanakan dengan penuh kepasrahan.

Tafsir per Penggalan Ayat

Penggalan Pertama:



وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا۟ بَقَرَةًۭ

Al-Ṭabarī menjelaskan bahwa yang dimaksud "qawmihī" (kaumnya) adalah Bani Israil, yakni ketika mereka berselisih mengenai sosok pembunuh yang sebenarnya:

إِذِ ادَّارَءُوا فِي الْقَتِيلِ الَّذِي قُتِلَ فِيهِمْ إِلَيْهِ: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً

"Ketika mereka berselisih tentang korban terbunuh di tengah mereka, (Musa berkata): 'Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina'." (al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān).

Dari tinjauan etimologi, al-Baghawī memaparkan makna kata al-baqarah:

الْبَقَرَةُ هِيَ الْأُنْثَى مِنَ الْبَقَرِ، يُقَالُ: هِيَ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الْبَقْرِ وَهُوَ الشَّقُّ، سُمِّيَتْ بِهِ لِأَنَّهَا تَشُقُّ الْأَرْضَ لِلْحِرَاثَةِ

"Sapi betina adalah jenis betina dari sapi. Dikatakan ia diambil dari kata al-baqr yang berarti belahan; dinamakan demikian karena ia membelah bumi untuk membajak." (al-Baghawī, Maʿālim al-Tanzīl).

Imam al-Biqāʿī menekankan bahwa penggunaan Ism Jalālah (إِنَّ اللَّهَ) mengandung pesan ketuhanan yang mendalam:

إِنَّ اللَّهَ أَيْ الَّذِي لَهُ الْأَمْرُ كُلُّهُ يَأْمُرُكُمْ

"Sesungguhnya Allah, yaitu Yang memiliki seluruh urusan, memerintahkan kalian." (al-Biqāʿī, Naẓm al-Durar).

Hal ini mengisyaratkan bahwa perintah berasal dari Dzat Yang Maha Berhak memerintah secara mutlak, sehingga tidak ada ruang bagi hamba untuk mempertanyakan hikmah-Nya secara skeptis.

Penggalan Kedua:



قَالُوٓا۟ أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًۭا

Al-Ṭabarī menerangkan hakikat kata al-huzʾu:

وَالْهُزُؤُ: اللَّعِبُ وَالسُّخْرِيَّةُ

"Al-huz'u artinya permainan dan ejekan." (al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān).

Beliau menegaskan kelirunya tuduhan Bani Israil tersebut:

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ — فِيمَا أَخْبَرَتْ عَنِ اللَّهِ مِنْ أَمْرٍ أَوْ نَهْيٍ — هُزُؤٌ أَوْ لَعِبٌ

"Tidak layak bagi para nabi Allah — dalam apa yang mereka kabarkan dari Allah berupa perintah atau larangan — adanya olok-olok atau permainan." (al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān).

Al-Baghawī menjelaskan alasan rasional di balik reaksi sinis Bani Israil:

وَإِنَّمَا قَالُوا ذَٰلِكَ لِبُعْدِ مَا بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ فِي الظَّاهِرِ، وَلَمْ يَدْرُوا مَا الْحِكْمَةُ فِيهِ

"Mereka berkata demikian karena jauhnya hubungan antara dua perkara secara lahiriah, dan mereka tidak mengetahui hikmah di baliknya." (al-Baghawī, Maʿālim al-Tanzīl).

Syeikh as-Saʿdī mengritik keras sikap pembangkangan tersebut:

وَكَانَ مِنَ الْوَاجِبِ الْمُبَادَرَةُ إِلَى امْتِثَالِ أَمْرِهِ، وَعَدَمُ الِاعْتِرَاضِ عَلَيْهِ، وَلَٰكِنَّهُمْ أَبَوْا إِلَّا الِاعْتِرَاضَ

"Seharusnya mereka bersegera melaksanakan perintah-Nya dan tidak keberatan, tetapi mereka menolak kecuali dengan keberatan." (as-Saʿdī, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān).

Penggalan Ketiga:



قَالَ أَعُوذُ بِٱللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ

Al-Baghawī menafsirkan ucapan Nabi Musa ﷺ:

أَعُوذُ بِاللَّهِ أَمْتَنِعُ بِاللَّهِ ... أَيْ مِنَ الْمُسْتَهْزِئِينَ بِالْمُؤْمِنِينَ. وَقِيلَ: مِنَ الْجَاهِلِينَ بِالْجَاهِلِيَّةِ

"Aku berlindung kepada Allah, yakni aku memohon perlindungan dengan Allah ... yaitu dari orang-orang yang mengejek kaum mukminin; dan dikatakan: dari orang-orang yang jahil." (al-Baghawī, Maʿālim al-Tanzīl).

Syeikh as-Saʿdī merinci korelasi antara ejekan dan kejahilan:

فَإِنَّ الْجَاهِلَ هُوَ الَّذِي يَتَكَلَّمُ بِالْكَلَامِ الَّذِي لَا فَائِدَةَ فِيهِ، وَهُوَ الَّذِي يَسْتَهْزِئُ بِالنَّاسِ، وَأَمَّا الْعَاقِلُ فَيَرَى أَنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْعُيُوبِ الْمُزْرِيَةِ بِالدِّينِ وَالْعَقْلِ، اسْتِهْزَاءَهُ بِمَنْ هُوَ آدَمِيٌّ مِثْلُهُ

"Sesungguhnya orang jahil adalah yang berbicara dengan perkataan yang tidak bermanfaat dan mengejek manusia. Adapun orang berakal memandang bahwa termasuk aib terbesar yang merendahkan agama dan akal adalah ejekannya terhadap sesama manusia." (as-Saʿdī, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān).

Fakhr ad-Dīn ar-Rāzī memberikan perspektif teologis bahwa istiʿādhah (memohon perlindungan kepada Allah) adalah fondasi karakter para nabi dan kekasih Allah:

وَهَٰذَا غَيْرُ مُخْتَصٍّ بِشَخْصٍ مُعَيَّنٍ، فَهُوَ أَمْرٌ عَلَى سَبِيلِ الْعُمُومِ، لِأَنَّهُ تَعَالَى حَكَى ذَٰلِكَ عَنِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ، وَذَٰلِكَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ كُلَّ مَخْلُوقٍ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ مُسْتَعِيذًا بِاللَّهِ

"Ini tidak khusus bagi pribadi tertentu, melainkan perkara umum, karena Allah menceritakan hal itu dari para nabi dan wali; ini menunjukkan bahwa setiap makhluk wajib memohon perlindungan kepada Allah." (ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb).

Catatan Qira'at dan Gramatika Bahasa:

Qira'at: Imam al-Baghawī mencatat variasi bacaan pada kata "هُزُوًا": Imam Hamzah membaca huzuwan dan kufuwan dengan takhfīf (meringankan), sedangkan mayoritas ulama membaca dengan tatsqīl (memberatkan), dan Imam Hafṣ membaca dengan membuang hamzah (al-Baghawī, Maʿālim al-Tanzīl).

Gramatika (I'rab): Imam al-Naḥḥās menjelaskan alasan sintaksis dibacanya kasrah pada kata 'Inna':

كُسِرَتْ إِنَّ لِأَنَّهَا بَعْدَ الْقَوْلِ

"Dibaca kasrah pada 'inna' karena ia jatuh setelah al-qawl (perkataan)." (al-Naḥḥās, Iʿrāb al-Qurʾān).

Faidah dan Pelajaran Utama

Kewajiban Menerima Perintah Tanpa Keberatan: Sikap kritis yang tidak pada tempatnya dari Bani Israil menunjukkan bahwa mempertanyakan syariat secara sinis merupakan penyakit hati. Ketaatan sejati menuntut kelincahan dan kesegeraan (al-mubādarah) dalam beramal.

Kemaksuman Para Nabi dari Olok-Olok: Para nabi memiliki sifat ʿiṣmah (terjaga dari dosa dan cela). Mengaitkan syariat atau wahyu dengan ejekan merupakan hal yang mustahil bagi seorang utusan Allah.

Isti'adhah Sebagai Senjata Mukmin: Berlindung kepada Allah dari sifat jahil, kesombongan, dan godaan maksiat adalah kewajiban setiap hamba, mengunduh teladan utama dari para nabi dan wali-Nya.

Mengejek Adalah Ciri Kejahilan: Orang yang berakal dan matang agamanya memandang tindakan merendahkan atau mengejek sesama manusia sebagai cacat moral dan rasionalitas yang sangat besar.

Hikmah Syariat yang Tersembunyi: Keterbatasan akal manusia dalam menangkap hubungan kausalitas tidak boleh mengalahkan kepatuhan kepada Perintah Ilahi yang Maha Memiliki Hikmah.

Sintesis dari ayat ini menegaskan bahwa keimanan sejati menuntut kepasrahan total (taslīm) kepada perintah Allah. Sikap skeptis Bani Israil yang mempertanyakan perintah dengan nada sinis menjadi cermin yang wajib kita hindari, sementara keteguhan adab Nabi Musa ﷺ menjadi teladan utama dalam menjaga lisan dan kesucian jiwa.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 15 Oktober 2026
Imsak
04:06
Shubuh
04:16
Dhuhur
11:42
Ashar
14:47
Maghrib
17:49
Isya
18:58
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan