LANGIT7.ID, Jakarta - Lonjakan kasus positif
Covid-19 sejak Juni 2021 berpotensi menurunkan nilai ekonomi penjualan hewan kurban di Indonesia. Diperkirakan penurunan nilai jual beli hewan kurban mencapai Rp2 triliun atau menjadi Rp18,2 triliun yang berasal dari 2,2 juta peserta kurban.
Data tersebut dikeluarkan Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (
Ideas). Peneliti Ideas, Askar Muhammad mengatakan, tahun lalu Ideas memproyeksikan nilai kurban mencapai Rp20,5 triliun dengan peserta kurban tercatat sebanyak 2,3 juta orang.
"Meski tahun ini kembali tidak ada keberangkatan jemaah haji ke Tanah Suci, namun kerasnya krisis dan pandemi berkepanjangan menyebabkan kami mengambil estimasi yang semakin konservatif," kata Askar dalam rilisnya kepada Anadolu Agency, Kamis (15/7/2021).
Dia menambahkan, turunnya estimasi tersebut terjadi karena kurban 2021 didahului resesi berkepanjangan. Pada triwulan kedua 2019 resesi terjadi -5,32 persen.
"Resesi panjang dalam setahun terakhir dipastikan membuat banyak masyarakat semakin jatuh ke kelas ekonomi yang lebih rendah, sehingga menekan jumlah dan nilai kurban dari keluarga muslim," ungkapnya.
Dia menuturkan dari 2,2 juta keluarga muslim berdaya beli tinggi yang berpotensi menjadi peserta kurban, kebutuhan hewan kurban terbesar adalah kambing-domba sekitar 1,26 juta ekor, sedangkan sapi-kerbau sekitar 414 ribu ekor. Menurutnya, potensi kurban terbesar datang dari Pulau Jawa, terutama wilayah aglomerasi di mana mayoritas kelas menengah muslim dengan daya beli tinggi berada.
Dia merinci, potensi kurban Pulau Jawa diproyeksikan terdiri dari 315.000 sapi-kerbau dan 895.000 kambing-domba, senilai Rp13,5 triliun, setara 80.000 ton daging. "Potensi kurban terbesar lainnya datang dari Bandung Raya, Surabaya Raya, Yogyakarta Raya, Malang Raya dan Semarang Raya," ucapnya. (Sumber:
Anadolu Agency)
(asf)