LANGIT7.ID-Washington; -
Pemilihan paruh waktu (midterm election) Amerika Serikat 2026 menjadi momentum bersejarah bagi keterwakilan Muslim dalam politik Negeri Paman Sam.
Abdul El-Sayed, seorang dokter sekaligus mantan pejabat kesehatan masyarakat, berhasil memenangkan
kursi Senat AS di negara bagian Michigan. Selain El-Sayed politikus Muslim lain yang ikut bersaing memperebutkan kursi Senat yakni
Aber Kawas.
Kawas memenangkan pemilihan kursi Senat Negara Bagian
New York untuk Distrik 12 dengan perolehan 75 persen suara. Kemenangan tersebut menjadikannya perempuan Palestina-Amerika pertama yang terpilih menjadi anggota legislatif Negara Bagian New York sekaligus perempuan berhijab pertama yang menduduki lembaga legislatif tersebut.
Baca juga: Sejarah Baru Amerika! Abdul El-Sayed Jadi Senator Muslim Pertama AS, Kalahkan Jagoan TrumpKawas mencatatkan kemenangan signifikan dalam pemilihan di Distrik 12 New York. Berdasarkan laporan
The New York Times, ia meraih sekitar 75 persen suara ketika 90 persen surat suara telah dihitung. Hasil pemilihan diumumkan pada Selasa (3/11/2026) waktu setempat.
Merespons kemenangannya, Kawas menyampaikan pesan singkat melalui akun media sosial X.
"Kami telah mencetak sejarah," tulisnya, Rabu (4/11/2026).
Sebelum memenangkan pemilihan umum, Kawas telah lebih dahulu mengamankan nominasi Partai Demokrat dalam pemilihan pendahuluan pada Juni 2026.
Dalam kampanyenya, ia mengusung slogan "Fund Dignity, Fight Destruction" atau "Perjuangkan Martabat, Lawan Kehancuran".
Sejumlah agenda yang diperjuangkannya meliputi penyediaan perumahan terjangkau, layanan kesehatan universal, transportasi publik yang andal, perlindungan hak-hak imigran, penanganan perubahan iklim, serta penolakan terhadap pendanaan perang.
Kawas merupakan anggota Democratic Socialists of America (DSA). Pencalonannya juga mendapat dukungan dari sejumlah tokoh politik progresif, termasuk Wali Kota New York Zohran Mamdani, Senator Bernie Sanders, dan anggota Kongres Rashida Tlaib.
Selama kampanye, sejumlah media sayap kanan mengkritik identitas Palestina dan pandangan politik Kawas. Namun, ia bersama para pendukungnya menilai serangan tersebut sebagai upaya untuk melemahkan pencalonannya.
Anak Pengungsi Palestina, Ayahnya Pernah Dideportasi ASAber Kawas lahir dan dibesarkan di Brooklyn, New York. Kedua orang tuanya merupakan warga Palestina yang pindah ke Amerika Serikat pada dekade 1990-an.
Baca juga: Abdul El-Sayed Calon Senator Muslim Menangkan Pemilihan Pendahuluan Demokrat untuk Senat, Kalahkan Calon Pro IsraelKehidupan keluarganya tidak lepas dari persoalan imigrasi. Ketika masih kecil, Kawas menyaksikan ayahnya ditahan oleh otoritas imigrasi Amerika Serikat sebelum akhirnya dideportasi.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidupnya dan turut membentuk pandangan politiknya, terutama terkait perlindungan hak-hak imigran.
Kawas menyelesaikan pendidikan tinggi di City College of New York pada 2014 dengan gelar Studi Internasional, dengan konsentrasi Studi Amerika Latin.
Sebelum terjun ke dunia politik elektoral, ia telah menghabiskan lebih dari 15 tahun bekerja dalam gerakan pengorganisasian masyarakat.
Aktivismenya mencakup perjuangan hak-hak pekerja, pendampingan komunitas imigran, serta advokasi hak-hak rakyat Palestina. Ia juga aktif memperjuangkan kepentingan komunitas Arab dan Muslim di New York.
Dalam perjalanan aktivismenya, Kawas pernah terlibat dengan
Council on American-Islamic Relations (CAIR) cabang New York dan
Urban Justice Center.Kemenangan Abdul El-Sayed dan Aber Kawas memperlihatkan semakin luasnya keterwakilan komunitas Muslim dalam politik Amerika Serikat.
El-Sayed mencatat sejarah di tingkat federal sebagai Muslim pertama yang terpilih menjadi senator AS. Sementara Kawas menorehkan sejarah di tingkat negara bagian sebagai perempuan Palestina-Amerika pertama dan perempuan berhijab pertama yang terpilih menjadi anggota legislatif New York.
Keduanya juga membawa isu-isu yang menjadi perhatian masyarakat ke dalam agenda politik, mulai dari layanan kesehatan, biaya hidup, hak-hak imigran, hingga kebijakan Amerika Serikat terhadap konflik di Timur Tengah.
Kemenangan tersebut menjadi perkembangan penting bagi komunitas Muslim dan keturunan Arab-Palestina yang selama ini memperjuangkan ruang keterwakilan dalam sistem politik Amerika Serikat.
(Sumber: Middle East Eye)(est)