LANGIT7.ID - , Jakarta - Siapa sangka Indonesia ternyata memiliki talenta di musik metal yang dilakoni tiga dara asal Garut. Di bawah bendera Voice of Baceprot atau dikenal dengan VOB, trio muda berhijab Firdda Marsya Kurnia (vokal dan gitar), Widi Rahmawati (bass), dan Euis Sitti Aisyah (drum) ini memainkan musik "berisik".
Kata "baceprot" dari nama band mereka berasal dari bahasa Sunda, yang berarti “berisik”. Kata itu dipilih untuk mewakili jenis musik yang mereka mainkan, yaitu rock yang cenderung berisik.
VOB mulai menarik perhatian saat videonya yang menampilkan cover lagu "Rage Against The Machine" pada tahun 2015 yang menjadi trending di YouTube kala itu. Tiga dara ini kemudian terus menghasilkan lebih banyak video dengan mengcover lagu-lagu idola mereka, seperti Red Hot Chili Peppers, Metallica, dan Slipknot.
Tak hanya mendapat perhatian dari media lokal saja, keeksisan VOB pun dikenal media internasional. Selain bakat musik mereka yang luar biasa, grup ini memiliki keunikan dan kontradiktif.
Baca juga : Dekatkan Diri ke Allah, Komunitas Ini Pakai Media Musik dan Lirik LaguKombinasi musik heavy rock/metal dan hijab yang mereka kenakan menarik perhatian media dari seluruh dunia. Karena hijab dipandang hanya untuk memainkan musik yang kalem dan santun.
“Mengenakan hijab bukanlah halangan bagi kami selama ini untuk mengejar impian kami menjadi musisi. Kami bebas mengekspresikan kreativitas kami melalui musik rock, sementara juga memenuhi tanggung jawab kita sebagai Muslimah,” kata Marsya yang menjadi pentolan band ini.
VOB dengan cepat menjadi viral. Saat Guns N’ Roses menggelar konser di Stadion Gelora Bung Karno di Jakarta pada November 2018, ketiga anggota band ini diundang secara pribadi oleh gitaris legendaris Slash untuk menemuinya di belakang panggung. Sang bintang ingin berbincang langsung lebih lanjut tentang perkembangan mereka.
Ketenaran mereka semakin berlanjut manakala datang melalui komentar atau cuitan dari gitaris idola mereka Rage Against The Machine Tom Morello dan bassis Red Hot Chili Peppers Flea di media sosial.
Sejarah Awal VOBKetiganya pertama kali bertemu satu sama lain seolah-olah sudah menjadi suratan takdir. Tanpa direncanakan membentuk band mereka pertama kali bertemu melalui media teater ketika mereka masih menjadi siswa di Madrasah Tsanawiyah di Singajaya, Garut. Singajaya merupakan sebuah desa kecil yang berjarak dua jam perjalanan dari kota Garut, Jawa Barat.
![Berawal dari Madrasah, Band Metal Berhijab]()
“Kami dianggap sebagai siswa yang agak pemberontak selama waktu kami di sekolah. Kami pernah dipanggil ke kantor guru, dimarahi, bahkan dihukum oleh guru kita. Itu sebabnya kami dikirim untuk bergabung dengan klub teater sekolah sebagai cara untuk menyalurkan energi kami,” kenang drummer Sitti yang telah menjadi teman dekat Marsya sejak mereka di sekolah dasar.
Setelah mereka berperan sebagai anggota band di salah satu pertunjukan klub teater, ketiga gadis muda ini melangkah lebih jauh dari peran mereka yang dibuat-buat dalam adegan di teater. Mereka kemudian mempelajari alat musik yang mereka perankan saat bermain teater.
Guru konseling (BP) dan pelatih teater mereka Erza Satia, yang akrab dipanggil Abah, pun menjadi mentor mereka. Memberikan referensi musik lagu-lagu yang dia miliki dari laptop dan mengajari mereka dasar-dasar memainkan alat musik.
Abah mendorong VOB yang baru dibentuk untuk membenamkan diri dalam musik, dengan mendaftar mereka untuk tampil di kompetisi band di Garut dan sekitarnya.
Abah kemudian menjadi manajer mereka, sementara juga merangkap sebagai penulis lirik band untuk lagu asli mereka.
Dimulai dengan menampilkan cover dari idola mereka, VOB telah mengembangkan suara mereka sendiri yang menggabungkan berbagai pengaruh mereka, yang mereka adopsi sebagai sisi lain dari metalisme. Mulai dari rock, rap-rock, dan funk rock hingga nu-metal dan funk metal, menyatukannya menjadi gaya musik rock yang unik dilengkapi dengan riff gitar virtuoso Marsya dan vokal khasnya, dentuman keras Sitti dan ciri khas Widi bermain bass.
Pada tahun 2018, VOB menandatangani kesepakatan dengan agency Amity Asia yang berbasis di Jakarta, hingga akhirnya single debut yang ditulis oleh mereka sendiri bertajuk "School Revolution".
Diproduksi oleh produser terkenal Stephan Santoso – yang juga pemain gitar untuk Musikimia – single lagu ini mendorong mereka menjadi bintang internasional. Mereka menjadi perbincangan untuk media global, termasuk The New York Times, NPR, BBC, DW dan The Guardian yang menampilkan mereka di halaman publikasi online mereka.
Sementara itu, banyak undangan untuk tampil di festival dan acara yang dirayakan mengalir deras dari seluruh dunia.
Baca juga : Salut, Komunitas Musik Jalanan Bogor Sosialisasikan Prokes ke WargaTak lama setelah mereka lulus Madrasah Aliyah (SMA sederajat) pada tahun 2020, Marsya, Sitti, dan Widi pindah ke Jakarta. Terlepas dari niat mereka untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan musik mereka lebih jauh di bawah pengawasan musisi senior seperti Andyan Gorust (drummer Hellcrust), Alan Musyfia (bassis Deadsquad) dan Stevie Item (gitaris Andra & The Backbone).
Langkah ini dipicu oleh keinginan mereka sendiri untuk belajar bagaimana hidup mandiri sambil membangun karir mereka dalam dunia musik.
Single "God, Allow Me (Please) to Play Music"
Pada awal tahun 2021, VOB kembali ke studio untuk mengerjakan “God, Allow Me (Please) To Play Music”, single orisinal pertama mereka dalam tiga tahun setelah “School Revolution.”
Single ini juga diproduksi oleh Stephan Santoso, single yang sangat telah dirilis pada 17 Agustus 2021 dan mendapatkan banyak respon positif dari para penikmat musik rock.
Saat musim pandemi, di sela-sela sesi rekaman di studio, VOB juga diundang untuk tampil di beberapa festival musik virtual lokal dan internasional. Seperti tampil di WOW (Women of World) Festival di UK pada Maret 2021.
VOB juga tampil di Global Just Recovery Gathering 2021, yang memiliki dua agenda, yaitu pemulihan dari pandemi dan menangani krisis iklim. Di acara ini, trio berjilbab ini berdiri berdampingan dengan orang-orang seperti Greta Thunberg, Patti Smith, Gilberto Gil, dan banyak tokoh penting dari seluruh dunia.
(est)