LANGIT7.ID, Rembang - Produk batik fashion Kota Rembang dipamerkan di ajang peragaan busana Rembang Fashion Parade 2021 dengan tema “Batik Lasemku” di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Provinsi Jawa Tengah, pada Selasa (2/11).
Sebanyak 11 desainer ikut memamerkan produk fashion batik terkini dari bahan batik khas Lasem.
"Dengan pameran ini kita berharap produk batik Lasem semakin dikenal sekaligus membuat terobosan baru dalam mensiasati turunnya pendapatan selama pandemi Covid-19," ujar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah Emma Rachmawati, Selasa (2/11).
Baca juga:
Semarakkan Hari Jadi Ketiga, Halwa Kenalkan Koleksi SerampaiMenurut Emma, selama pandemi Covid-19 memang ada penurunan pendapan. Ironisnya, tidak semua pemilik UMKM ingin membuat terobosan, karena terkait dengan passion masing-masing.
"Sebenarnya di Rembang banyak UMKM batik, tapi yang kini mengembangkan ke yang ready to weare (siap pakai) yakni fashion, hanya 7 UMKM," tegasnya.
![Batik Lasem jadi Ikon Rembang Fashion Parade 2021]()
Sebanyak 7 pemilik UMKM batik di Kabupaten Rembang ini kemudian membuat terobosan pada Agustus 2020, dengan didampingi oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda).
“Mereka berpikir di tengah masa sulit, tidak mungkin orang hanya mau beli kain batik saja, tapi lebih ke fashion. Akhirnya kami dampingi dengan melibatkan beberapa desainer dan menggelar fashion show,” kata Emma kepada Langit7.
Baca juga:
Pesan Kekayaan Indonesia untuk Dunia Ditampilkan di Expo 2020 Dubai Lewat Batik Biota LautEmma mengatakan, di Kabupaten Rembang, khususnya di Kecamatan Lasem, selama ini hanya ada batik dalam bentuk lembaran kain tulis. Tapi kini sudah ada yang melakukan inovasi dengan batik tulis untuk aneka fashion.
“Karena ini batik tulis, tentu harganya cukup mahal ya. Untuk yang dua warna saja, harga mulai Rp150 ribu. Untuk yang tiga harganya bisa lebih mahal lagi,” ujarnya.
“Corak batik Rembang ini ada unsur Arab, Jawa dan Chinanya. Secara corak jelas beda sekali dengan batik lainnya, mudah-mudahan menghasilkan yang baik,” ucapnya lagi.
Ketua Dewan Kerajian Nasional Daerah (Dekranasda) Jateng Siti Atiqoh sangat mengapresiasi digelarnya fashion show batik Lasem.
Siti Atiqoh juga memberikan apresiasi khusus kepada Dekranasda Rembang dan kepala daerah setempat, karena sudah ada surat keputusan yang menyatakan bahwa semua batik di Rembang adalah batik tulis. Bukan printing yang buatan pabrik.
“Customer terlindungi. Ini ada keberpihakan kepada pelaku usaha batik, karena batik tulis itu kan harganya juga lebih mahal. Tapi juga perlu edukasi kepada customer,” tuturnya.
“Peran kami di sini mempromosikan, mendampingi para pengrajian dan pelaku usaha, serta koordinasi, bermitra dengan pihak lain khususnya calon pembeli,” pungkasnya.
(sof)