Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Benarkah Nabi Muhammad SAW Sama Sekali Tidak Bisa Membaca dan Menulis?

Muhajirin Kamis, 04 November 2021 - 14:48 WIB
Benarkah Nabi Muhammad SAW Sama Sekali Tidak Bisa Membaca dan Menulis?
ilustrasi ayat dari wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk membaca (foto: istimewa)
LANGIT7.ID - Akhir-akhir ini ramai muncul perdebatan terkait kemampuan Rasulullah SAW membaca dan menulis. Ada kalangan yang menyebut baginda Nabi Muhammad SAW sebenarnya bisa membaca dan menulis. Pendapat ini tentu bertolak belakang dengan literasi yang telah berkembang sejak awal bahwa baginda nabi seorang ummi, tidak bisa membaca dan menulis.

Pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, menjelaskan, salah satu sejarawan yang menyebut baginda nabi bisa baca tulis adalah Abdul Ghalib Al-Baaji, ulama dari Andalusia. Demikian pula Kamus Al-Kulliyyaat mengangkat informasi tersebut.

Namun pada dasarnya, Abdul Khaliq Al-Baaji maupun Kamus Al-Kulliyaat menyebut Rasulullah tidak bisa baca tulis ketika pertama kali menerima wahyu. Itu dilihat dari sisi mukjizat. Ada logika yang bermain di situ, seorang yang tidak bisa baca tulis namun menjadi orang paling tinggi ilmunya hingga menjadi orang terhebat sepanjang sejarah.

“Karena orang bisa tidak bisa tanpa baca tulis, kemudian pengetahuan ilmunya begitu luas. Itu mukjizat sebagai pembuktian kepada orang-orang musyrik,” kata Ustadz Asep Sobari melalui kanal youtube Sirah Community, dikutip Kamis (4/11/2021).

Abdul Ghalib Al-Baaji menyebut Rasulullah bisa baca tulis setelah tujuan mukjizat itu tercapai. Rasulullah bisa baca tulis pada masa-masa akhir beliau. Artinya, dia tidak menolak jika baginda nabi tidak bisa membaca dan menulis ketika menerima wahyu pertama.

“Nah, sekarang yang ramai menolak dari awal, bahwa sejak menerima wahyu, Rasulullah SAW bisa baca tulis sebenarnya. Setahu saya, tidak ada ulama masa lalu yang mengatakan seperti itu, begitu juga Kamus Kulliyat. Memang awalnya tidak bisa, nanti di akhir usia beliau bisa baca tulis,” ucap Ustadz Asep Sobari.

Secara bahasa, ada titik kesepakatan antara yang menolak dan yang menerima. Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala mensifati Rasulullah sebagai orang ummy. Itu disebutkan dalam surah al-Araf ayat 157 dan surah Jumuah ayat 2.

“Kalau Rasulullah bisa baca tulis, apa arti kata ummi? Karena ini titik temunya. Para ulama meyakini tidak bisa membaca dan menulis karena disebut dengan jelas ummi. Artinya kata ummi mengandung arti tidak bisa membaca dan tidak menulis. Karena kata ummi inilah kesimpulan para ulama, baik ulama bahasa maupun ulama tafsir, itu karena ada dalam Alquran,” ucap Ustadz Asep.

Al-Qur’an mensifati Rasulullah sebagai nabi yang ummi. Dari kata itu, para ulama mengafirmasi bahwa baginda tidak bisa membaca dan menulis. Namun dalil orang yang menolak adalah menghilangkan makna ‘tidak bisa baca tulis’ dari kata ummi.

Jika demikian, maka harus dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Seseorang tidak bisa menghilangkan arti itu secara serta merta. Harus ada pertanggung jawaban ilmiah. Dalam menegaskan hal itu, maka rujukan pertama adalah kamus Bahasa Arab. Sebut saja argumentasi Syekh Raghib Al-Asfahani dalam Mufradat al-Fadil Qur’an mengatakan, Ummi adalah orang yang tidak menulis dan tidak membaca kitab. Ada versi yang menisbatkan kata Ummi kepada masyarakat Arab waktu itu.

Masyarakat Arab kala itu mayoritas tidak bisa membaca dan menulis, karena memang sudah menjadi tradisi mereka lebih mementingkan menghafal. Artinya, tidak bisa membaca dan menulis bukan aib, karena tradisi umum pada masa itu.

“Artinya, kebanyakan masyarakat waktu itu tidak bisa membaca dan menulis. Artinya, ini bukan masalah ketidakmampuan, karena keterbelakangan, memang tidak mempedulikan. Karena untuk bisa belajar kan gampang, untuk bisa baca tulis kan gampang, tapi bagi mereka tidak penting. Itu kebiasaan mereka. Mereka bisa menghafal apa yang didengar, jadi buat apa ditulis,” kata Ustadz Asep.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)